Surabaya, CNN Indonesia --
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta maaf kepada warganya atas banjir alias genangan nan melanda sejumlah wilayah ibu kota provinsi Jawa Timur (Jatim) itu dalam dua hari berturut-turut, Senin (22/6) dan Selasa (23/6).
Ia memastikan seluruh langkah penanganan banjir terus dioptimalkan agar aktivitas penduduk Kota Surabaya tetap melangkah normal.
"Saya minta maaf kepada penduduk Surabaya atas ketidaknyamanan nan terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan," kata Eri dalam keterangan tertulisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eri mengatakan, pihaknya sedang menangani banjir alias genangan nan muncul akibat hujan deras nan mengguyur Kota Pahlawan selama dua hari berturut-turut.
Menurutnya intensitas hujan tinggi nan turun merata sejak awal hari terjadi di luar pola musim, mengingat saat ini semestinya Surabaya telah memasuki periode kemarau.
"Untuk mempercepat penanganan, Pemkot Surabaya mengerahkan 21 unit mobil pemadam kebakaran (PMK) serta sekitar 10 kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan perangkat wilayah terkait. Seluruh armada tersebut dan kami telah keliling sejak pukul 02.30 WIB untuk melakukan penyedotan air di titik-titik rawan genangan," ucapnya.
Politikus PDIP ini menjelaskan, kondisi banjir ini juga dipengaruhi oleh sejumlah pekerjaan pembangunan dan normalisasi saluran drainase nan sedang berjalan di beragam titik kota.
Pekerjaan tersebut meliputi pengerukan saluran, pemasangan box culvert, hingga perbaikan rumah pompa di sejumlah letak seperti Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol (rumah pompa Dinoyo), hingga Rungkut.
Dalam proses pengerjaan, sebagian saluran ditutup sementara untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur. Hal ini membikin aliran air tidak dapat melangkah optimal ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi secara tiba-tiba.
"Dalam situasi seperti ini, kami dihadapkan pada dua pilihan, menghentikan proyek alias tetap melanjutkan untuk kepentingan jangka panjang. Kami memilih tetap berjalan, sembari memaksimalkan penanganan di lapangan," ujarnya.
Selain curah hujan tinggi, menurutnya kondisi pasang air laut juga turut memperberat penanganan. Tingginya muka air laut menyebabkan aliran sungai menuju laut terhambat, apalagi dalam beberapa kondisi air nan telah dipompa kembali terdorong ke daratan. Situasi ini membikin sistem pembuangan air tidak dapat bekerja maksimal.
"Sebagai langkah antisipasi, kami memaksimalkan kegunaan boezem alias kolam tampungan sementara sebagai penyangga debit air sebelum dialirkan kembali saat kondisi memungkinkan. Sejumlah lahan juga dioptimalkan sebagai tampungan tambahan untuk mengurangi beban saluran utama," jelas Eri.
Sejumlah titik banjir mulai surut pada Selasa pagi kemarin, meski beberapa letak tetap dalam proses penanganan, terutama di area nan terdampak kerusakan tembok penahan sungai.
Pemkot Surabaya memastikan seluruh tim tetap siaga hingga kondisi kembali normal.
Ia menegaskan bahwa proyek drainase nan saat ini melangkah bukan proyek mangkrak, melainkan bagian dari pembangunan prasarana pengendalian banjir nan memerlukan waktu beberapa bulan untuk penyelesaian.
"Di tengah kondisi tersebut, kami juga terus melakukan pertimbangan dan penyesuaian di lapangan agar penanganan genangan dapat melangkah lebih optimal. Pemerintah juga menargetkan seluruh proyek drainase dan perbaikan rumah pompa rampung sebelum puncak musim hujan pada November-Desember 2026," tegasnya.
Eri memastikan seluruh langkah penanganan terus dioptimalkan agar aktivitas penduduk tetap melangkah normal, sekaligus memperkuat sistem drainase kota untuk jangka panjang.
Sebelumnya, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) menegaskan telah melakukan penanganan banjir akibat hujan deras nan mengguyur sejak Senin (22/6) secara optimal.
Pada 22 Juni 2026, hingga pukul 09.00 WIB, sejumlah titik di Kota Pahlawan mulai menunjukkan penurunan genangan, meski proses surut tetap berjalan berjenjang akibat pengaruh pasang air laut.
Kepala Bidang Drainase DSDABM Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi pasang air laut sejak awal hari nan membikin aliran sungai menuju laut tersendat sehingga keahlian rumah pompa belum dapat bekerja maksimal.
Fenomena backwater alias aliran kembali juga terjadi di sejumlah area seperti Tanjungsari, Tambak Mayor, Greges, hingga Petekan, dengan elevasi air nan sebelumnya nyaris mencapai 200 sentimeter dan sekarang berangsur turun ke kisaran 170-180 sentimeter.
Ia menambahkan, petugas juga mengecek saluran drainase untuk memastikan tidak ada sumbatan, serta mengerahkan armada penyedot air berbareng Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) ke sejumlah titik terdampak seperti Tanjungsari, Kyai Tambak Deres, Bratang, dan Tambak Mayor.
(frd/kid)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·