Beberapa waktu lalu, kita disuguhkan dengan tontonan bergenre sastra anak nan membawa angin segar bagi pecinta movie Indonesia. Na Willa datang bukan sekadar menghibur anak-anak, tetapi juga menyapa jiwa anak-anak dalam diri kita nan telah dewasa. Namun, respon publik cukup beragam.
Film nan diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo ini dinilai flat dan dianggap tidak mempunyai bentrok berfaedah oleh sebagian penonton. Padahal, jika kita mau memutar ingatan kembali, kita bakal menyadari bahwa bagi anak-anak dengan rasa mau tahu nan tinggi, bumi adalah petualangan nan tidak ada habisnya.
Kesenangan mereka sesederhana dapat makan ikan setiap hari ataupun mendengarkan cerita baru dari teman. Dalam perspektif anak-anak, rasa sedih dan marah pun tidak melulu berasal dari bentrok nan besar layaknya orang dewasa.
Bisa jadi, sebagai orang dewasa kita mulai berkawan dengan kerasnya realitas, seperti sulitnya mencari kerja, sasaran nan tak kunjung tercapai, hingga bentrok family nan menguras energi. Kenyataan pahit ini pun kemudian terus direplikasi dalam corak tontonan maupun referensi nan disuguhkan kepada masyarakat sehari-hari.
Tanpa disadari, kita telah terbiasa dengan alur pertentangan hitam-putih antara tokoh protagonis melawan antagonis. Hal ini lah nan membikin kita lupa bahwa ‘masalah’ tidak berfaedah kudu besar. Kecewa nan dialami Na Willa ketika tidak dipercaya bahwa dia sudah pandai membaca oleh Bu Tini adalah emosi nan valid. Mungkin, mata kita telah rabun terhadap konflik-konflik mini nan dialami oleh anak-anak hingga menganggap cerita tanpa ledakan emosi sebagai cerita nan gagal.
Genre sastra anak seperti Na Willa diciptakan sebagai gambaran kehidupan, bukan sekadar tontonan pemuas adrenalin. Fokus utamanya adalah kedalaman karakter nan dapat membangunkan memori penonton pada masa lampau dari kacamata seorang anak dengan langkah pikirnya sendiri.
Cerita nan tenang seperti ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk merefleksikan keseharian mereka. Anak-anak butuh pengesahan atas apa nan dilihat dalam dunianya, bukan terus-menerus disuguhkan drama-drama nan asing bagi mereka. Sebagai orang dewasa, kita perlu menyadari bahwa skala prioritas kita telah bergeser, sehingga sering kali kita kandas memahami bahwa masalah sederhana bisa menjadi beban emosional bagi seorang anak.
Dengan menuntut adanya tokoh antagonis dalam cerita anak sebenarnya menunjukkan kegagalan empati dari kita sebagai orang dewasa. Sikap nan memaksakan standar dewasa untuk anak-anak bakal merusak minat literasi dan langkah pandang mereka nantinya. Jika dalam sastra anak kudu terdapat musuh agar bisa dianggap seru, maka secara tidak langsung kita telah membunuh karakter natural anak-anak dan mendikte bahwa hidup hanya berisi hitam dan putih.
Padahal, hidup adalah proses nan kompleks daripada sekadar betul alias salah, mereka perlu mengetahui bahwa nantinya sikap netral bakal dibutuhkan dalam kehidupan. Jika kita berkaca pada masa mini kita sendiri, ingatan nan paling kuat sering kali bukanlah kejadian dramatis, melainkan momen-momen “flat” nan penuh makna.
Perlu kita pahami bahwasanya keberhasilan sebuah sastra anak terletak pada kemurniannya dalam menggugah emosi seorang anak. Anak-anak tidak butuh putus cinta untuk menangis, lantaran bagi mereka ditinggal ibu ke pasar saja sudah corak kehilangan bakal sebuah momentum.
Peristiwa nan tampak sepele bagi orang dewasa mungkin adalah perihal besar untuk anak-anak. Konflik jiwa dan rasa penasaran terhadap hal-hal baru adalah mesin penggerak nan lebih jujur daripada memaksakan sosok penjahat dalam sastra anak. Na Willa membujuk kita untuk kembali merayakan hal-hal mini nan sering terlupakan seiring berjalannya usia.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·