(Kiri-Kanan) dr. Sukardi, MARS, FISQua selaku Direktur Utama PT. Sumatera Cahaya Mandiri, dr. Maya Nirmala Budiman MARS Direktur Utama PT. Saranaduta Jasamedika, Ang Kok Bin Komisaris PT. Saranaduta Jasamedika(Dok RS Pluit)
RUMAH Sakit Pluit bekerja sama dengan Sabang Merauke Eye Center (SMEC) Group untuk memperkuat dan menghadirkan jasa kesehatan mata unggulan di area Jakarta Utara.
Langkah ini diambil guna menjawab kesiapan akomodasi kesehatan mata skala besar nan dinilai tetap minim di wilayah tersebut, sekaligus menekan nomor kebutaan akibat katarak.
Direktur Utama RS Pluit, Jantini Utama, menyampaikan bahwa selama ini RS Pluit belum menjadikan poli mata sebagai jasa utama.
Namun, kemitraan jangka panjang berbareng SMEC Group diharapkan bisa mentransformasi poli mata menjadi salah satu pusat rujukan terdepan.
"Sementara ini di Jakarta Utara belum ada eye center nan cukup baik alias cukup besar. Jadi menurut saya ini adalah kesempatan Rumah Sakit Pluit bekerja sama dengan SEC (SMEC) untuk menjadikan suatu eye center nan bagus, nan baik dan maju," ujar Jantini kepada Media Indonesia di Jakarta Utara, Senin (14/9).
Ia menambahkan bahwa profil pasien di RS Pluit didominasi oleh golongan usia di atas 40 tahun, di mana kasus katarak menjadi keluhan nan paling sering ditemui.
Sebagai corak sosialisasi, RS Pluit menggelar program pemeriksaan mata cuma-cuma untuk 30 orang serta satu tindakan operasi katarak cuma-cuma selama tiga hari berturut-turut.
"Strategi kami adalah promosi pasti. Memang untuk hari ini, selama 3 hari ke depan, kami ada pemeriksaan gratis, pemeriksaan mata cuma-cuma untuk 30 orang. Dan ada 1 operasi katarak gratis. Itu adalah strategi kami untuk depannya untuk menyampaikan," ungkap Jantini.
Rendahnya Kesadaran Operasi Katarak Sejak Dini
Dokter Spesialis Mata Alexander, menjelaskan bahwa kondisi suasana Indonesia di garis khatulistiwa dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi menjadi salah satu pemicu utama tingginya kasus katarak akibat aspek penuaan.
Namun, kesadaran masyarakat untuk melakukan penanganan sejak awal tetap sangat rendah dibanding penduduk luar negeri.
"Bedanya dengan di luar, di Indonesia sendiri sih belum terlalu ada kesadaran untuk melakukan operasi katarak pada fase nan awal. Sedangkan jika di luar negeri itu ketebalannya tetap nan fase-fase awal udah dilakukan operasi. Sedangkan di Indonesia condong tetap nunggu sampai tebal banget, sampai nggak bisa lihat banget, baru memeriksakan mata dan mempertimbangkan untuk operasi katarak," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut lantaran prosedur operasi katarak standar sekarang terbilang singkat dan minim rasa sakit.
“Padahal jika kataraknya tidak susah kasusnya, standar, pada umumnya mungkin sekitar 10 menitan juga, 10 sampai 15 menit operasinya udah selesai. Nyerinya juga minimal," tambahnya.
Selain masalah katarak, Alexander mengingatkan pentingnya membatasi screen time pada anak-anak serta imbauan bagi pekerja usia produktif nan berkendara di tengah polusi Jakarta.
“Kalau untuk nan usia produktif dan menggunakan transportasi misalkan motor, mungkin baiknya helmnya selalu ditutup, terutama jika berkendaranya cepat, agar matanya nggak kering, tidak kena angin dan debu," imbaunya.
Fasilitas Komprehensif dan Tarif Kompetitif
Project Manager SMEC Group, Mariana, memastikan bahwa kerja sama ini menghadirkan teknologi diagnostik dan tindakan mata secara komprehensif bagi penduduk Jakarta Utara.
"Secara komprehensif semua pemeriksaan mata, dari awal dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan untuk memandang minus dan silindernya, lampau pengukuran tekanan bola mata, termasuk memandang saraf mata lebih jelas dengan perangkat OCT dan foto fundus. Lalu ada pemeriksaan USG mata juga sampai tindakan unik seperti operasi katarak ataupun laser," papar Mariana.
Meskipun jasa ini tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Mariana menjamin tarif nan ditawarkan sangat kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat umum serta didukung beragam jaringan asuransi swasta.
"Untuk tarif, kita sangat kompetitif. Untuk operasi katarak sendiri saja kita start dari Rp7 juta sampai dengan Rp35,5 juta. Jadi disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga kita menjangkau dari lapisan masyarakat mana pun," kata Mariana.
Mariana menjelaskan bahwa kerjasama skema kemitraan dengan rumah sakit nan sudah berdiri merupakan langkah tercepat SMEC Group untuk memeratakan akomodasi kesehatan mata tepercaya di Indonesia.
"Kita tahu jika di Indonesia ini membikin sesuatu, segala perizinan dan lain-lainnya itu sangat lama. Sedangkan cita-cita ketua kami dari Sabang sampai Merauke itu terlayani perihal nan sama dengan kualitas nan sama, buat apa ke luar negeri. Cara tercepat lainnya adalah kita bekerja sama dengan rumah sakit nan sudah ada. Harapan terbesarnya adalah menekan nomor kebutaan," tutup Mariana. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·