Sam Altman Akui Salah Prediksinya Soal AI Ancam Pekerjaan

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

loading...

Sam Altman OpenAI. FOTO/ DAILY

LONDON - CEO OpenAI meyakini bahwa akibat AI terhadap pasar tenaga kerja terjadi lebih lambat dan lebih lembut daripada peringatan tentang hilangnya beragam profesi.

Sam Altman, CEO OpenAI, baru saja memberikan wawasan baru tentang akibat kepintaran buatan (AI) pada pasar tenaga kerja, mengakui bahwa prediksi sebelumnya tentang "bencana pekerjaan" mungkin telah dilebih-lebihkan.

Berbicara di sebuah konvensi di Sydney, dia menyatakan bahwa AI belum menciptakan pengangguran skala besar di kalangan pekerja tingkat bawah seperti nan awalnya dikhawatirkan.

Sam Altman sebelumnya memperingatkan bahwa AI bakal menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia, berpotensi menghilangkan banyak pekerjaan sepenuhnya. Namun, penerapan aktual menunjukkan bahwa proses ini terjadi lebih lambat dan dengan langkah nan berbeda.

Altman menyatakan optimisme bahwa akibat negatif terbesar pada pekerja nan kurang berilmu belum terjadi pada skala nan diprediksi dalam model awal.

Meskipun kepemimpinan OpenAI menjadi kurang pesimis, statistik tetap menunjukkan pergeseran signifikan dalam struktur tenaga kerja. Menurut info dari Challenger, nyaris 50.000 pemutusan hubungan kerja nan mengenai langsung dengan AI diproyeksikan bakal terjadi di AS saja pada tahun 2026.

Sementara itu, sebuah laporan dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa kehadiran teknologi ini memperlambat perekrutan baru sekitar 16.000 posisi per bulan.

Alih-alih PHK massal nan mudah terlihat, AI mengubah pasar tenaga kerja dengan langkah nan lebih lambat dan lebih halus. Bisnis mulai membatasi perekrutan untuk posisi junior alias tingkat pemula.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews