Bursa Singapura menyalip Indonesia, menjadikannya pasar saham terbesar di Asia Tenggara. Kapitalisasi pasar saham Negeri Singa itu sekarang melampaui Indonesia dan menjadikannya pasar saham terbesar di Asia Tenggara.
Berdasarkan info Bloomberg, Kamis (21/5), kapitalisasi pasar Singapura mencapai USD 645 miliar, sedangkan kapitalisasi pasar Indonesia turun lebih dari 30 persen dari puncaknya pada Januari menjadi USD 618 miliar.
Kenaikan pasar saham Singapura didorong stabilitas politik dan ekonomi, serta beragam kebijakan pemerintah untuk menghidupkan kembali pasar ekuitas domestik. Sebaliknya, sentimen terhadap Indonesia memburuk akibat kekhawatiran potensi penurunan pengelompokkan pasar saham menjadi frontier market serta revisi outlook ranking angsuran oleh Fitch Ratings dan Moody’s.
Head of Equity Research Oversea-Chinese Banking Corp. di Singapura, Carmen Lee, mengatakan arus biaya diperkirakan terus masuk ke pasar saham Singapura seiring kuatnya posisi dolar Singapura.
“Kekayaan menjadi pendorong utama pertumbuhan untung dan berbareng kuatnya dolar Singapura. Kami memperkirakan lebih banyak biaya bakal mengalir ke pasar,” ujar Carmen Lee.
Indeks Straits Times apalagi sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa lampau di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven akibat volatilitas pasar nan dipicu perang Iran. Meski terkoreksi 0,5 persen pada perdagangan Rabu (20/5) lantaran tindakan risk-off di Asia, pasar saham Singapura tetap berada dalam tren penguatan.
Kinerja pasar saham Singapura pada 2026 diperkirakan menjadi nan terbaik dibanding negara Asia Tenggara lainnya, meski ukuran ekonomi negara tersebut tetap di bawah Indonesia. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat ekonomi Singapura berbobot sekitar USD 660 miliar, sedangkan Indonesia mencapai USD 1,5 triliun.
Portfolio Manager Lion Global Investors Ltd, Kenneth Ong, menilai penanammodal memandang Singapura sebagai penerima faedah dari ketidakpastian geopolitik global.
“Pasar memandang pasar saham Singapura secara struktural diuntungkan dari ketidakpastian geopolitik, dengan arus biaya safe haven yang diperkirakan terus menopang sektor keuangan,” kata Kenneth Ong.
Pemerintah Singapura dalam beberapa tahun terakhir juga garang melakukan reformasi pasar modal, termasuk menyiapkan program berbobot miliaran dolar Singapura untuk mendorong investasi pada saham domestik.
Selain itu, bank sentral Singapura menjadi nan pertama di Asia nan mengetatkan kebijakan moneter bulan lampau untuk merespons lonjakan akibat inflasi akibat kenaikan nilai energi. Ketahanan dolar Singapura nan mengungguli mata duit Asia Tenggara lainnya turut menopang penguatan pasar saham negara tersebut.
Tekanan Pasar Saham Indonesia Makin Besar
Di sisi lain, tekanan di pasar saham Indonesia semakin besar setelah tindakan jual nan menghapus sekitar USD 360 miliar nilai saham sepanjang tahun ini. Kondisi itu menjadi tantangan bagi Presiden Prabowo Subianto dalam mengejar sasaran pertumbuhan ekonomi sekaligus memulihkan kepercayaan investor.
Kenaikan nilai daya dinilai dapat menekan konsumsi masyarakat, sementara pelemahan rupiah membikin biaya bahan baku impor semakin mahal.
Data Bloomberg juga menunjukkan penanammodal dunia telah menarik lebih dari USD 4 miliar dari pasar saham negara berkembang Asia Tenggara sepanjang tahun ini, dengan Indonesia menyumbang lebih dari separuh total arus keluar tersebut.
Tekanan tambahan datang dari keputusan MSCI Inc. nan menghapus sejumlah saham Indonesia dari indeksnya, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. Langkah itu diperkirakan memicu arus keluar biaya hingga USD 2 miliar pada akhir bulan ini.
Pemerintah dan otoritas pasar modal Indonesia sebenarnya telah meluncurkan sejumlah reformasi, seperti meningkatkan pemisah minimum free float menjadi 15 persen dengan masa transisi hingga tiga tahun bagi sejumlah emiten untuk mencegah penurunan status pasar.
Meski demikian, perhatian penanammodal sekarang tertuju pada hasil pertimbangan Morgan Stanley Capital International (MSCI) bulan depan nan bakal menentukan apakah reformasi tersebut cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market.
Equity Strategist Bloomberg Intelligence, Sufianti, menilai reformasi pasar modal Indonesia bergerak ke arah positif, tetapi tetap ada sejumlah akibat nan membayangi.
“Reformasi pasar saham terbaru bergerak ke arah positif, tetapi kekhawatiran mengenai MSCI, kondisi fiskal, dan tekanan mata duit tetap dapat membikin penanammodal berhati-hati,” ujar Sufianti.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·