Said Abdullah: PDIP Harap Muktamar ke-35 NU Tak Terjebak Pragmatisme Politik

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Said Abdullah, Ketua DPD PDIP Jawa Timur Foto: Dok. Istimewa

Nahdlatul Ulama (NU) bakal menggelar perhelatan akbar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. Menjelang acara besar tersebut, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, meletakkan angan besar agar jam'iyah terbesar di Indonesia itu tetap kukuh pada muruahnya sebagai kekuatan moral dan kultural.

Said mengingatkan agar momentum suksesi kepemimpinan di tubuh NU tidak diseret ke dalam style perpolitikan nan berbudi pekerti pragmatis dan transaksional. Ia berharap, forum tertinggi NU tersebut tidak kehilangan substansinya.

“Sebagai jemaah, kami mengharapkan Muktamar NU jangan dihabiskan energinya untuk perebutan sebagai pemimpin. Ada banyak problema besar di akar rumput NU, seperti kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian, dan lingkungan,” ujar Said dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/8).

Bagi Said, daya hidup NU selama lebih dari satu abad bertumpu pada ustad dan pesantren sebagai subkultur, sebagaimana pernah diutarakan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh karena itu, modal sosial nan menjadi "nyawa" NU ini kudu terus dijaga.

“Jangan sampai NU tergoda dalam hingar-bingar politik. Keteladanan para pemimpin NU adalah keteladanan nan berasal dari moral. Para ustad dulu apalagi memilih 'menyembunyikan diri' merasa tidak layak memimpin lantaran takut kuwalat, inilah keteladanan nan kudu dihidupkan,” tegas tokoh asal Sumenep tersebut.

Di luar urusan internal kepemimpinan, Said menyoroti pentingnya produk pemikiran dari forum Bahtsul Masail dalam Muktamar kali ini. Saat ini, NU bukan sekadar organisasi pesantren di pedesaan, melainkan telah beralih bentuk menjadi kekuatan diasporik dunia nan diisi ratusan ribu sarjana dari beragam disiplin ilmu.

Ia mengibaratkan potensi NU dengan kejayaan peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-8 hingga ke-13 Masehi). Kala itu, kejayaan Islam tidak ditopang oleh kekuatan politik, melainkan melesat lewat pengetahuan pengetahuan, filsafat, kedokteran, hingga matematika nan melahirkan tokoh sekaliber Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi.

“NU bakal semakin besar dan membesarkan peradaban Islam jika tetap lurus di jalan keumatan. Ikut berkontribusi besar bagi penyelesaian persoalan umat dan masalah-masalah peradaban,” papar Said.

Ia meyakini, hasil pergulatan intelektual para ustadz NU dalam menjawab tantangan era inilah nan bakal membikin eksistensi NU selalu relevan untuk memberikan jalan keluar bagi persoalan bangsa.

“Sebagai bagian jemaah nan sejak mini hingga dewasa tumbuh di lingkungan NU, saya berambisi NU teguh di jalan keteladanan moral, spiritual, dan sosial. Selamat bermuktamar, semoga Allah SWT senantiasa meridai NU,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan