Di Depan Jokowi, Ketum Projo Lempar Wacana amp;quot;Percepatan Politikamp;quot; Sebelum 2029

Sedang Trending 38 menit yang lalu

Achmad Al Fiqri , Jurnalis-Selasa, 25 Agustus 2026 |11:53 WIB

Di Depan Jokowi, Ketum Projo Lempar Wacana "Percepatan Politik" Sebelum 2029

Ketum Projo Budi Arie Setiadi. (Foto: Nur Khabibi/Okezone)

JAKARTA – Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, menyampaikan kajian mengenai potensi "percepatan sejarah" alias percepatan dinamika politik nasional sebelum Pemilu 2029. Pernyataan tersebut disampaikan Budi Arie secara langsung di hadapan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Hal itu diketahui dari sebuah video nan viral di media sosial (medsos) sebagaimana diunggah oleh Guru Besar Hukum Tata Negara Denny Indrayana melalui akun pribadi IG miliknya, @dennyindrayana99.

Dalam video tersebut, Budi Arie mengungkapkan instingnya bahwa situasi politik tanah air berpotensi bergerak lebih sigap di luar skenario konvensional pemilu lima tahunan. Ia pun mengimbau para relawan untuk mempersiapkan diri menghadapi beragam kemungkinan alternatif.

"Tetapi saya mau sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. 'Pak, kok hatikecil saya ini lebih sigap dari 2029?' Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita tetap ngomong pemilu 2029-pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?" kata Budi Arie nan langsung disambut seruan "siap" dari para peserta.

Lantas, Budi Arie mengaitkan analisisnya dengan kondisi sosial-ekonomi saat ini serta adanya riak-riak aspirasi di beberapa daerah. Ia kemudian memberikan contoh sejarah pada masa transisi kekuasaan tahun 1998, ketika dinamika politik memaksa terjadinya percepatan pemilu dari nan semestinya dijadwalkan pasca-1997 menjadi tahun 1999.

"Saya pengalaman dengan mobilitas sejarah. Ini ada anomali di masyarakat saat ini. Ini ada demo Pati, Madura ikut demo tandingan. Ah ini sudah kayak Pam Swakarsa '98 nih. Pasti kalah nan preman," tutur Budi Arie.

"Sebab maksud saya terjadi anomali-anomali, variabel di masyarakat nan membikin kita tidak hanya memikirkan skenario konvensional, langkah-langkah tahapan-tahapan nan sebagaimana mestinya. Itu terjadi nan menurut pendapat saya terjadi patahan sejarah. Gimana tahun '97 tiba-tiba pemilu berikutnya tahun 1999," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com