Bagi nelayan di Kecamatan Bakongan Timur, Aceh Selatan, mendapatkan bahan bakar untuk melaut dulunya bukan perkara mudah. Jarak nan jauh dan akses terbatas kerap menambah biaya sekaligus waktu operasional. Kini, kondisi itu mulai berubah.
Pemerintah berbareng Pertamina menghadirkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) di wilayah pesisir tersebut, membawa angan baru bagi para nelayan di ujung barat Indonesia.
Peresmian SPBUN pada Selasa (28/4) menjadi bagian dari upaya pemerataan daya sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan, akomodasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan utama nelayan.
"Tujuannya adalah untuk memberikan akomodasi solar yang nantinya bakal digunakan untuk melaut. Ini juga bagian dari penerapan program prioritas nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4).
Pembangunan SPBUN ini merupakan kerjasama Kementerian Koperasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), dan juga Pertamina Patra Niaga.
Tak hanya berakhir di Aceh Selatan, pemerintah juga berkomitmen memperluas pembangunan SPBUN di sepanjang garis pantai Indonesia guna memastikan akses daya bagi nelayan semakin merata.
Bagi para nelayan, kehadiran SPBUN bukan sekadar akomodasi baru, tetapi juga perubahan nyata dalam keseharian mereka. Tarmizi, nelayan asal Bakongan Timur, merasakan langsung dampaknya.
“SPBU Nelayan ini kami sangat-sangat terbantukan, kami khususnya penduduk di sini sangat berterima kasih kepada Pertamina nan sudah membangun SPBUN ini,” katanya.
Hal serupa disampaikan Harmaini. Ia mengaku sekarang aktivitas melaut menjadi lebih mudah dan irit dibanding sebelumnya.
“Ini sangat membantu untuk nelayan di sini, setiap hari jika isi BBM lebih irit dari nan dulu. Sekarang tidak ada hambatan untuk melaut, dimudahkan dengan kehadiran SPBU Nelayan ini,” ujarnya.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan penyediaan daya merupakan aspek krusial dalam mendukung perekonomian masyarakat, termasuk sektor kelautan dan perikanan.
Kehadiran SPBU nelayan berbasis koperasi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan akses BBM subsidi bagi nelayan secara lebih dekat dan tepat sasaran, sehingga mendukung aktivitas melaut nan lebih efisien serta berakibat pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Selain SPBU nan ke-9 nan dikelola oleh Koperasi KNTI, dan ini menjadi salah satu mitra kami juga, di Aceh Selatan sendiri sudah ada 6 SPBU nelayan, 19 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan nyaris sekitar 416 SPBU nelayan di seluruh Indonesia,” sebut Eko Ricky.
Eko Ricky menambahkan, Pertamina Patra Niaga terus memperluas jasa SPBU nelayan melalui kerjasama dengan koperasi nelayan, termasuk KNTI, sebagai mitra strategis dalam memastikan pengedaran daya dapat menjangkau wilayah pesisir secara lebih merata.
Lebih lanjut, Eko Ricky menegaskan kesiapan Pertamina Patra Niaga dalam mendukung pengembangan SPBU nelayan di beragam wilayah Indonesia sebagai bagian dari program BBM Satu Harga, guna memastikan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dapat mengakses daya dengan nilai nan terjangkau.
“SPBUN ini juga programnya Bapak Presiden, ialah di mana beliau mau memastikan semua pelosok negeri mendapatkan daya dalam corak BBM subsidi nan diperuntukkan bagi konsumen, bagi masyarakat Indonesia, baik itu nelayan maupun masyarakat di wilayah 3T,” jelas Eko Ricky.
Dari sisi pengedaran energi, BPH Migas menegaskan komitmennya untuk memastikan BBM subsidi menjangkau hingga wilayah terluar.
“Hal ini diharapkan dapat membantu operasional penangkapan ikan serta meningkatkan kesejahteraan nelayan,” ujar Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·