Tim Okezone
, Jurnalis-Jum'at, 16 Oktober 2026 |13:51 WIB

Syaifudin (42), pasien pengobatan kandas ginjal (Foto: Dok BPJS Kesehatan)
PAMEKASAN – Delapan tahun bukan waktu nan singkat bagi Syaifudin (42) dalam menjalani pengobatan kandas ginjal. Dua kali dalam seminggu, dia kudu menjalani hemodialisis di sela aktivitasnya sebagai personil kepolisian. Meski mempunyai agenda pengobatan rutin, Syaifudin tetap berupaya menjalankan tugasnya dengan baik.
Rutinitas tersebut dimulai ketika kondisi kesehatannya menurun setelah penyakit masam uratnya kambuh saat pulang bekerja. Saat itu, dia segera dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan.
“Awalnya masam urat saya kambuh setelah pulang kerja. Saya langsung dibawa ke klinik terdekat untuk diperiksa, kata dokternya masam urat saya tidak terkontrol,” ujar Syaifudin saat ditemui di ruang Hemodialisis RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo, Selasa (29/9/2026).
Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kreatinin Syaifudin mencapai 25 mg/dL. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, master menyatakan dirinya mengalami kandas ginjal dan memerlukan terapi hemodialisis.
“Setelah diperiksa, kreatinin saya sudah mencapai 25 mg/dL, jauh di atas pemisah normal. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya didiagnosis mengalami kandas ginjal,” kata Syaifudin.
Syaifudin kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara Surabaya untuk mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk pembuatan akses pembuluh darah dan menjalani hemodialisis pertama. Setelah itu, dia melanjutkan perawatan rutin di RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo, Pamekasan.
“Setelah dari klinik saya dirujuk ke RS Bhayangkara Surabaya untuk menjalani operasi untuk membikin akses pembuluh darah (akses vaskular) dan dilanjutkan hemodialisis untuk pertama kalinya. Sekarang saya sudah rutin menjalani hemodialisis di RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo,” tuturnya.
18 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·