Rusia Mulai Kehilangan Sekutu, Negara Ini Ogah Disetir Putin

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia meningkatkan tekanan terhadap Armenia menjelang pemilihan parlemen negara tersebut. Presiden Vladimir Putin memperingatkan Yerevan berisiko kehilangan akses minyak dan gas murah dari Rusia jika tetap melanjutkan ambisinya untuk berasosiasi dengan Uni Eropa (UE)

Peringatan tersebut muncul saat partai Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan nan pro-Barat diperkirakan memenangkan pemilu pada Minggu waktu setempat.

"Tentu saja kami sangat prihatin dengan kebijakan pemerintah Armenia nan berupaya mendekati organisasi Euro-Atlantik nan kebijakan intinya diarahkan melawan Moskow," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova kepada wartawan, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6/2026).

Ia menambahkan bahwa negara-negara Barat secara terbuka berupaya "melepaskan" Armenia dari pengaruh Rusia.

Langkah Kremlin mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Moskow atas berkurangnya pengaruh geopolitiknya di beragam area dunia. Setelah lebih dari empat tahun perang di Ukraina tanpa tanda-tanda berakhir, Rusia kudu mengalokasikan sumber daya besar untuk bentrok tersebut, sementara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa semakin aktif mendekati negara-negara nan selama ini berada dalam lingkup pengaruh Moskow.

Armenia menjadi salah satu contoh paling nyata. Negara berpenduduk sekitar 3 juta jiwa itu selama puluhan tahun berjuntai pada support ekonomi dan keamanan Rusia. Selain menjadi tuan rumah pangkalan militer Rusia, Armenia juga merupakan personil Uni Ekonomi Eurasia nan dipimpin Moskow.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, hubungan kedua negara mulai merenggang. Armenia menandatangani perjanjian kemitraan dengan Amerika Serikat bulan lampau dan memperoleh support dari Presiden AS Donald Trump. Pemerintah Pashinyan juga telah mengesahkan undang-undang nan menjadi landasan norma bagi proses aksesi ke Uni Eropa.

Sebagai respons, Rusia mengambil sejumlah langkah tekanan. Moskow menghentikan sementara impor beragam produk Armenia, menakut-nakuti penghentian ekspor minyak, gas, dan permata mentah dengan nilai preferensial, serta memberi sinyal kemungkinan pengeluaran Armenia dari Uni Ekonomi Eurasia. Rusia juga menarik pulang duta besarnya di Armenia untuk konsultasi.

Seorang sumber nan dekat dengan pemerintah Rusia mengatakan Moskow memandang sejumlah negara jejak sekutunya sekarang menunggu hasil akhir perang Ukraina sebelum menentukan arah politik mereka. Di saat nan sama, negara-negara tersebut mulai membangun hubungan baru dengan Barat ketika perhatian Rusia tersita oleh perang.

Kekhawatiran Rusia semakin meningkat setelah Armenia menjadi tuan rumah pertemuan sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bulan lalu. Bagi Kremlin, langkah itu dianggap sebagai sinyal bahwa Yerevan semakin menjauh dari orbit pengaruh Rusia.

Menurut analis dan blogger militer Rusia, Moskow sekarang menghadapi upaya sistematis dari Barat untuk mengurangi pengaruhnya di area Kaukasus Selatan. Saluran kajian Telegram "The Secret Chancery" menyebut Rusia perlu menyesuaikan strateginya dengan memperkuat instrumen kekuatan lunak dan pengaruh ekonomi guna mempertahankan posisinya.

Di Eropa, Rusia juga menghadapi tantangan baru. Sejumlah negara nan sebelumnya relatif dekat dengan Moskow semakin mendekat ke Uni Eropa. Serbia menghadapi tekanan untuk menghapus kebijakan bebas visa bagi penduduk Rusia sebagai bagian dari proses menuju keanggotaan Uni Eropa, sementara Moldova terus memperkuat agenda integrasi Eropa, termasuk mengenai wilayah separatis Transnistria nan didukung Rusia.

Moskow juga mencermati meningkatnya pengaruh Barat di Asia Tengah dan memburuknya hubungan dengan Azerbaijan, negara kaya minyak di Kaukasus Selatan nan dalam beberapa tahun terakhir mempererat hubungan dengan negara-negara Barat.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News