Rusia Dilaporkan Paksa Warga Sipil Masuk Militer akibat Lonjakan Korban

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Rusia Dilaporkan Paksa Warga Sipil Masuk Militer akibat Lonjakan Korban Vladimir Putin.(Al Jazeera)

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin dilaporkan tengah dalam kondisi panik dan mulai mengerahkan abdi negara bersenjata untuk memaksa pria-pria Rusia turun ke medan perang di Ukraina. Langkah ekstrem ini diambil menyusul melonjaknya nomor kematian tentara Rusia nan diperkirakan mencapai 30.000 hingga 40.000 personel setiap bulan.

Berdasarkan info dari Staf Umum Ukraina, pasukan Rusia mengalami kerugian besar dengan catatan 42.860 korban jiwa pada Juli 2024 saja. Situasi ini membikin pejabat Kremlin dilaporkan menempuh strategi kekerasan untuk mengisi kembali barisan militer nan kian menipis.

Taktik Kekerasan dan Pemaksaan di Jalanan

Sejumlah organisasi pengawas melaporkan ada kolaborasi antara petugas penegak norma dan pejabat perekrutan untuk menjaring laki-laki usia militer. Para korban dilaporkan dipukuli hingga mereka bersedia menandatangani arsip pendaftaran militer.

Artyom Klyga, seorang pengacara nan mewakili para korban, mengungkapkan kepada The Wall Street Journal bahwa otoritas Rusia telah beranjak ke metode kekerasan. "Pihak berkuasa menangkap laki-laki di jalanan dan langsung mengirim mereka pergi," ujarnya.

Grigory Sverdlin, pendiri organisasi anti-perang Get Lost, menambahkan bahwa tekanan semakin meningkat lantaran semakin sedikit penduduk nan bersedia menandatangani perjanjian secara sukarela. "Semakin sedikit orang nan siap menandatangani kontrak, semakin besar tekanan nan kudu mereka gunakan," lapor Daily Star.

Kesaksian Korban dan Ancaman Pidana Palsu

Seorang saksi mata, Vladislav Leonidov, menceritakan pengalamannya saat menemukan rekannya ditahan di instansi polisi di Penza, Rusia barat daya. Ia melaporkan bahwa petugas perekrutan melakukan penganiayaan sebelum mencoba memindahkan rekannya ke akomodasi militer.

Selain kekerasan fisik, polisi juga diduga menakut-nakuti penduduk dengan tuduhan narkoba tiruan jika mereka menolak untuk mendaftar. Bahkan, muncul pengumuman sayembara di area pemukiman nan menjanjikan hadiah sebesar US$1.300 (sekitar Rp20,8 juta) bagi siapa saja nan membawa kenalannya ke akomodasi pendaftaran militer.

Pemberontakan Warga: Di Penza, penduduk mulai melakukan perlawanan terhadap wajib militer paksa ini. Dalam video nan viral, seorang wanita terekam berteriak memprotes tindakan abdi negara nan memukuli dan memaksa penduduk untuk berperang.

Risiko Pemberontakan Internal dan Krisis Ekonomi

Meskipun kampanye perekrutan dilakukan secara agresif, upaya ini dinilai kandas menghasilkan peningkatan signifikan jumlah personel di garis depan. Sebaliknya, metode ini justru memicu potensi pemberontakan internal. Dmitry Rogin, seorang perwira cadangan, menyatakan secara terbuka, "Segera setelah saya diberi senjata, saya bakal menembak mereka nan memobilisasi saya."

Di sisi lain, Rusia juga tengah menghadapi krisis ekonomi nan parah. Serangan drone Ukraina terhadap akomodasi minyak melumpuhkan hingga 40 persen kapabilitas produksi Rusia. Hal ini memicu krisis daya paling parah di negara tersebut sejak runtuhnya Uni Soviet.

Hingga saat ini, otoritas Kremlin terus memperingatkan ada akibat hukum bagi siapa pun nan menyebarkan info nan mereka anggap palsu, sementara pejabat Amerika Serikat memperingatkan bahwa mobilisasi paksa secara menyeluruh bisa segera terjadi. (Daily Mail/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia