PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menyatakan belum mempunyai rencana untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham tahun ini, meski telah melakukan Initial Public Offering alias IPO pada 17 Desember 2025.
Direktur Keuangan Superbank, Melissa Hendrawati, mengatakan berasas Undang-Undang Perseroan Terbatas, pembagian dividen hanya dapat dilakukan andaikan perusahaan mempunyai saldo untung positif.
“Maka dari itu untuk tahun ini belum mempunyai rencana untuk membagikan dividen di tahun ini,” kata Melissa dalam Konferensi Pers RUPST Superbank di Soehanna Hall, Jakarta Selatan, Senin (27/4).
Kendati demikian, Melissa menegaskan lini masa perusahaan ke depannya bakal tetap selaras dengan rencana nan telah dipaparkan sebelumnya.
“Timeline ke depannya bakal sangat align dengan apa nan bakal kita paparkan di prospektus,” sebut Melissa.
Sementara itu, Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menjelaskan bahwa usai IPO perusahaan perlu melakukan sejumlah penyesuaian, termasuk merespons izin terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) nan menetapkan standar free float minimal sebesar 15 persen.
Mengingat porsi saham publik Superbank saat ini tetap berada di nomor 13,33 persen, Tigor menegaskan komitmen perseroan untuk mematuhi patokan tersebut sesuai dengan agenda nan telah ditentukan.
“Bagaimana untuk meningkatkan liquidity, penetrasi ke dalam, dan juga attractiveness of our market to the foreign investors,” jelas Tigor dalam kesempatan nan sama.
Superbank Catat Laba Sebelum Pajak Rp 143 Miliar pada 2025
Superbank sukses membukukan untung sebelum pajak senilai Rp 143,3 miliar sepanjang tahun 2025.
Performa positif ini disokong oleh lonjakan Pendapatan Bunga Bersih nan melesat 160 persen secara tahunan alias year on year (yoy) hingga menyentuh nomor Rp 1,6 triliun. Selain itu, ekspansi penyaluran angsuran perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 50 persen yoy menjadi Rp 9,6 triliun.
“Laba sebelum pajak kami di 2025 itu sekitar Rp 143 miliar, itu menjadi milestone sangat krusial dalam perjalanan kami,” kata Melissa.
Mengenai sasaran nasabah, jumlah pengguna Superbank telah meningkat dari 5,9 juta pada tahun lampau menjadi 6,5 juta per Februari. Kemudian dari sisi transaksi, perusahaan sukses mencapai satu juta transaksi pada 2025, dan terus meningkat menjadi 1,3 juta transaksi per hari hingga Februari 2026.
“Jadi per hari, itu nan mencerminkan tingginya engagement dari pengguna kami, loyalitas dari customer kami dan juga mengambil pelayanan kami dalam ekosistem digital,” tutur Melissa.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·