Anggie Ariesta
, Jurnalis-Senin, 02 Maret 2026 |09:56 WIB

Bank Indonesia (Foto: Okezone)
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan kesiapannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah menyusul meningkatnya sentimen risk-off di pasar finansial global. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah nan mendorong penanammodal beranjak ke aset kondusif (safe haven).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea menegaskan bahwa otoritas moneter bakal terus memantau dinamika pasar secara saksama untuk memastikan Rupiah tetap bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Untuk meredam volatilitas, BI memastikan bakal tetap datang di pasar melalui beragam instrumen intervensi, baik di pasar domestik maupun luar negeri.
“Bank Indonesia bakal tetap datang di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” ujar Erwin dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).
Selain intervensi langsung, BI juga berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter guna meningkatkan efektivitas transmisi suku kembang di tengah ketidakpastian dunia nan tinggi.
"BI juga bakal terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," pungkas Erwin.
Perlu diketahui, rupiah sepekan terakhir (akhir Februari 2026) bergerak naik turun condong melemah, ditutup di kisaran Rp16.787-Rp16.888 per dolar AS.
Tekanan utama berasal dari sentimen geopolitik AS-Iran, info ekonomi AS nan kuat (hawkish), serta ancaman tarif perdagangan global, dengan proyeksi pekan depan tetap volatile di kisaran Rp16.700-Rp16.900.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·