Rupiah Terpantau Menguat 0,69 Persen ke Rp 17.863 per Dolar AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Karyawan memperlihatkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (12/6), setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah mengejutkan dengan meningkatkan suku bunga referensi dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat pekan ini.

Berdasarkan info Bloomberg pukul 14.29 WIB, rupiah menguat 125 poin alias 0,69 persen ke level Rp 17.863 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi setelah BI menggelar RDG darurat pada Selasa (9/6) dan memutuskan meningkatkan BI-Rate sebesar 25 pedoman poin (bps) menjadi 5,50 persen. Kenaikan suku kembang tersebut dilakukan lebih awal sebelum RDG reguler nan dijadwalkan pada 18 Juni 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan keputusan tersebut diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menurut dia, langkah itu merupakan respons terhadap tingginya gejolak dunia nan dipicu bentrok di Timur Tengah sekaligus upaya menjaga inflasi tetap terkendali pada 2026 dan 2027.

Selain meningkatkan BI-Rate menjadi 5,50 persen, BI juga meningkatkan suku kembang Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen dan Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen.

Perry menjelaskan bahwa penguatan rupiah menjadi salah satu konsentrasi utama koordinasi antara pemerintah dan bank sentral. Menurut dia, terdapat dua strategi utama nan disepakati untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Strategi pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen finansial domestik agar arus modal asing kembali masuk ke pasar finansial Indonesia.

Sejumlah duit kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping duit kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata duit di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Langkah ini dinilai krusial lantaran kenaikan suku kembang dunia telah mendorong keluarnya biaya asing dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Oleh lantaran itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil agar inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry saat konvensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan.

Selain menarik kembali aliran modal asing, pemerintah dan BI juga berupaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar duit dan sektor perbankan. Salah satunya melalui pengelolaan kas pemerintah nan tetap ditempatkan di BI dengan peningkatan remunerasi alias kembang nan dibayarkan bank sentral kepada pemerintah.

“Sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar duit dan perbankan dengan langkah pengelolaan kas pemerintah tetap di BI, tapi itu saja ada peningkatan remunerasi alias kembang nan dibayarkan BI kepada pemerintah,” lanjut Perry.

Ia menambahkan, koordinasi nan lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter diperlukan agar operasi moneter tetap efektif dalam menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan demikian operasi moneter itu tetap melangkah untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Dua perihal itu nan kami lakukan,” ujar dia.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan