Rupiah Tembus 18 Ribu, BI Tingkatkan Intensitas Intervensi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Rupiah Tembus 18 Ribu, BI Tingkatkan Intensitas Intervensi Nasabah memandang pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata duit asing di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026)(ANTARA/MOHAMMAD IQBAL)

BANK Indonesia (BI) buka bunyi mengenai pelemahan nilai tukar rupiah nan telah menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut pelemahan nilai tukar tetap dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah nan kembali tereskalasi dan menghalang prospek damai. Hal itu mendorong nilai minyak tetap tinggi dan meningkatkan akibat inflasi dunia serta arus biaya keluar dari negara emerging.

"Selain itu kebutuhan domestik tetap cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN (utang luar negeri)," kata Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6).

Menurutnya, Bank Indonesia bakal terus datang di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi. Tujuannya untuk memastikan sistem pasar melangkah dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.

Selain itu BI bakal memperkuat struktur suku kembang instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

Destry menyebut intervensi nan berkesinambungan bakal terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward  (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward  (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," ujarnya.

Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata duit lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Hal itu sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi akibat volatilitas nilai tukar. Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

"Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar US$22,7 miliar vs full year tahun lampau nan sekitar US$25,7 miliar," ujar Destry.

"Secara umum, pelemahan rupiah tetap sejalan dgn regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 milyar pada akhir April 2026," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia