Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Jadi Pemicu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Jadi Pemicu Petugas mengangkut telur ayam ras nan disiapkan untuk penyelenggaraan operasi Gerakan Pangan Murah di Lapangan Ahmad Kirang Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (25/5/2026). Pemerintah Provinsi Sulbar menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai upaya menjaga stabilitas h(Antara)

PELEMAHAN nilai tukar rupiah dan koreksi tajam pasar saham menjadi perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan Rabu (3/6). Rupiah nan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.966 per dolar AS dinilai mencerminkan kombinasi tekanan dunia dan domestik nan tengah membayangi perekonomian nasional.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan rupiah apalagi sempat menyentuh level Rp17.925 per dolar AS, nan menjadi titik terlemah sepanjang sejarah terhadap mata duit Amerika Serikat tersebut.

“Karena itu, dugaan bahwa rupiah sedang menuju level Rp18.000 bukanlah sesuatu nan berlebihan,” ujar Yusuf saat dihubungi.

Menurutnya, pelemahan rupiah tidak bisa hanya dijelaskan oleh aspek domestik. Penguatan dolar AS secara dunia tetap berjalan di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat bentrok di Timur Tengah. Pada saat nan sama, muncul ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali memperketat kebijakan moneternya menjelang akhir tahun.

Kondisi tersebut mendorong penanammodal dunia mengalihkan biaya ke aset nan dianggap lebih kondusif sehingga memberikan tekanan terhadap mata duit negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Yusuf menilai tidak seluruh pelemahan rupiah berasal dari aspek eksternal. Ia menyoroti sejumlah mata duit Asia seperti won Korea Selatan, yen Jepang, dan dolar Singapura nan justru tetap bisa menguat tipis terhadap dolar AS pada periode nan sama.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat tekanan domestik nan ikut berperan. Dengan kata lain, pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil dari kombinasi aspek dunia dan aspek dalam negeri,” katanya.

Yusuf menjelaskan pemerintah dan Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank Indonesia, misalnya, telah meningkatkan suku kembang referensi sebesar 50 pedoman poin pada Mei lalu. Selain itu, pemerintah mulai menerapkan ketentuan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sejak 1 Juni nan mewajibkan eksportir sektor sumber daya alam menempatkan seluruh devisa hasil ekspornya di dalam negeri.

Menurut dia, kebijakan tersebut secara teori bakal meningkatkan pasokan kurs asing di pasar domestik dan membantu menstabilkan nilai tukar. Namun dampaknya tidak dapat dirasakan secara instan lantaran memerlukan waktu hingga aliran devisa betul-betul masuk dan beredar dalam sistem finansial nasional.

Dalam jangka pendek, langkah nan paling realistis adalah menjaga stabilitas pasar melalui intervensi nan terukur di pasar kurs asing dan pasar obligasi menggunakan persediaan devisa.

“Tujuannya bukan untuk mempertahankan nomor kurs tertentu, melainkan meredam volatilitas nan berlebihan agar tidak memicu kepanikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengalaman di beragam negara menunjukkan penggunaan persediaan devisa secara besar-besaran hanya untuk mempertahankan level psikologis tertentu sering kali mahal dan tidak efektif andaikan berhadapan dengan tekanan pasar nan kuat.

Yusuf menilai persoalan rupiah pada dasarnya tetap berkarakter struktural. Selama Indonesia tetap berjuntai pada arus modal asing jangka pendek dan belum bisa memperkuat sumber devisa nan lebih stabil, gejolak dunia bakal relatif mudah memengaruhi nilai tukar.

Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, memperbaiki struktur ekspor, serta meningkatkan daya tarik investasi langsung berjangka panjang.

Tekanan nan terjadi di pasar kurs asing turut tercermin pada pergerakan pasar saham. Pada akhir sesi pertama perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ambruk 4,94% ke level 5.889, sekaligus menyentuh posisi terendah sejak Mei 2021.

Menurut Yusuf, pelemahan rupiah menjadi salah satu aspek nan mendorong tindakan jual di pasar saham. Ketika nilai tukar melemah, aset berbasis rupiah condong menjadi kurang menarik bagi sebagian penanammodal asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar nan mempunyai berat dominan dalam indeks.

Namun demikian, dia menilai tekanan terhadap IHSG tidak sepenuhnya berasal dari aspek esensial ekonomi. Sebagian tekanan juga dipicu oleh proses rebalancing indeks MSCI nan mulai bertindak sejak 1 Juni.

“Karena itu, krusial untuk memandang koreksi tajam IHSG hari ini secara proporsional. Tekanan terhadap rupiah memang nyata dan memerlukan respons kebijakan nan serius. Namun penurunan pasar saham tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya esensial ekonomi Indonesia,” tutur Yusuf. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia