Rupiah Melemah, Kementerian ESDM Percepat Produksi Energi Domestik

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Wamen ESDM Yuliot Tanjung di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mendorong peningkatan produksi daya dalam negeri di tengah pelemahan rupiah. Berdasarkan info Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Jumat (5/6) pukul 14.42 ada di Rp 18.041 per dolar AS.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan langkah itu bermaksud mengurangi kebergantungan pada impor, sekaligus meredam akibat perubahan kurs terhadap sektor energi.

“Kita kan berupaya untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Jadi pagi ini sampai, ya mungkin agak siangan nanti, ya kita berupaya untuk meningkatkan kapabilitas produksi dalam negeri,” kata Yuliot kepada wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (5/6).

Yuliot mengatakan salah satu langkah nan ditempuh adalah mendorong peningkatan produksi migas melalui penerapan teknologi unconventional pada wilayah kerja nan mempunyai persediaan potensial berasas hasil survei geologi. Saat ini, wilayah kerja nan dinilai paling memungkinkan untuk pengembangan tersebut adalah Blok Rokan.

“Jadi sudah ada kajian awal nan dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan unconventional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan,” ujar Yuliot.

Yuliot mencontohkan pengalaman Amerika Serikat (AS) nan sukses meningkatkan produksi migas melalui penerapan teknologi nonkonvensional ketika produksi konvensional mengalami penurunan.

“Jadi sehingga pada saat terjadi peningkatan di beberapa wilayah kerja, justru Amerika sendiri surplus untuk produksi migasnya sendiri. Jadi sehingga Amerika melakukan aktivitas ekspor,” ungkap Yuliot.

Yuliot menuturkan pemerintah telah menerima tawaran sejumlah teknologi pengembangan migas nonkonvensional dan telah mempertemukannya dengan SKK Migas. Saat ini, SKK Migas menargetkan kerangka izin untuk pengembangan tersebut dapat diselesaikan pada akhir Juni dan mulai diimplementasikan pada awal Juli.

“Jadi jika ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berfaedah kita juga bakal mengurangi import, dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan alias perubahan mata uang,” tutur Yuliot.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan