Rohman Wibowo
, Jurnalis-Senin, 02 Maret 2026 |12:11 WIB

Bank sentral menekankan bahwa pergerakan rupiah, baik menguat maupun melemah, kudu mencerminkan esensial ekonomi. (foto: Okezone.com)
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi untuk menjaga pergerakan kurs rupiah menyusul meningkatnya sentimen di pasar finansial akibat eskalasi bentrok di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Bank sentral menekankan bahwa pergerakan rupiah, baik menguat maupun melemah, kudu mencerminkan esensial ekonomi.
Nilai tukar rupiah tercatat merosot ke level Rp16.800-an, sementara kebanyakan mata duit Asia lainnya juga melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini (2/3/2026), alias dua hari setelah serangan militer AS–Israel ke Iran.
"Bank Indonesia bakal terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Erwin Gunawan dalam keterangan resmi, Senin (2/3).
Lebih lanjut, Erwin memaparkan bahwa memanasnya tensi geopolitik di area Timur Tengah akibat gempuran AS ke Iran telah memantik keengganan penanammodal mengambil akibat (risk-off) di pasar global.
Oleh lantaran itu, dirinya menegaskan komitmen BI untuk senantiasa bersiaga di pasar lewat beragam langkah intervensi, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) untuk pasar luar negeri, hingga transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri.
"BI juga bakal terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," ujar Erwin.
Pada sesi perdagangan Senin (2/3) pagi, depresiasi rupiah tercatat mencapai 0,27 persen, membawanya ke level Rp16.823 per dolar AS. Tren penurunan ini sejalan dengan kondisi sebagian besar mata duit di area Asia nan tertekan oleh penguatan dolar AS, mengingat para pelaku pasar tengah memburu instrumen investasi nan lebih kondusif di tengah situasi geopolitik nan serba tidak pasti.
Dampak penguatan AS ini juga terlihat pada indeks mata duit negara-negara berkembang nan merosot 0,5 persen, menandai tren negatif selama dua sesi berturut-turut. Di antara deretan mata duit tersebut, koreksi paling tajam dialami oleh peso Filipina serta dolar Taiwan.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·