Jakarta -
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakibat ke produk elektronik. Seperti diketahui, rupiah terus tertekan dan membikin dolar AS sekarang diperdagangkan di level Rp 18.000-an.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Feby Setyo Hariyono menyebut kondisi ini menjadi salah satu aspek nan mendorong kenaikan nilai produk elektronik, termasuk HP.
Dampak lanjutannya membikin penjualan perangkat elektronik di pasar domestik ikut tertekan. Menurut Feby, Hal itu tercermin dari survei Bank Indonesia nan menunjukkan penjualan satuan golongan peralatan informasi, komunikasi, dan elektronik tetap mengalami kontraksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Survei Bank Indonesia itu menunjukkan bahwa penjualan satuan di golongan peralatan info dan komunikasi alias elektronik ini memang tetap mengalami kontraksi," kata Feby dalam konvensi pers di instansi Kemenperin, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor komponen dan bahan baku elektronik nan tetap didominasi dari luar negeri. Akibatnya, produsen dan pemasok terpaksa menyesuaikan nilai jual beragam produk elektronik.
"Pelemahan nilai tukar juga mengenai dengan kenaikan biaya komponennya juga. Dan nilai smartphone ini juga terus mengalami peningkatan dan juga penekanan di penjualan dan lagi-lagi nilai tukar dan kenaikan biaya komponen ini menjadi penyebab kenaikan nilai smartphone nan cukup signifikan," terang Feby.
Selain aspek nilai tukar, produk smartphone juga tetap dibayangi krisis pasokan chip dan memori global. Gangguan tersebut diperkirakan menurunkan kapabilitas produksi smartphone sepanjang 2026, memperpanjang waktu pasokan, sekaligus menekan penjualan.
"Di industri handphone, ini krisis chip dan memori ini juga cukup mengganggu produksi smartphone global. Juga gangguan pasokan memori ini semakin mengganggu untuk di semikonduktor. Ini menyebabkan kapabilitas produksi di smartphone ini diproyeksikan juga bakal menurun di 2026 ini dan kondisi ini berpotensi bakal memperpanjang waktu pasokannya dan menekan penjualan," bebernya.
Meski demikian, Feby menilai pasar smartphone jejak justru menunjukkan pertumbuhan nan cukup pesat. Tren tersebut diperkirakan bakal menjadi salah satu penopang pasar perangkat seluler di negara-negara berkembang nan sensitif terhadap harga, termasuk Indonesia.
"Namun di sisi lain ini nilai smartphone jejak ini mengalami pertumbuhan nan pesat. Sehingga tren ini diperkirakan bakal menjadi salah satu penopang pasar perangkat seluler di 2026 khususnya di negara-negara berkembang nan sensitif terhadap harga, termasuk di Indonesia," tutup Feby.
(ily/hns)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·