Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) semakin menggencet rupiah. Per Jumat, nilai tukar dolar AS sudah menyentuh level tertingginya pada kisaran Rp 17.600-an, dan pada sore hari berada di Rp 17.596.
Sejauh ini pelemahan rupiah terjadi menjauhi sasaran nilai tukar nan ditetapkan pada dugaan makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Nilai tukar dolar AS ditetapkan paling tinggi di APBN 2026 sebesar Rp 16.500.
Menurut Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad, dolar AS bakal sangat susah turun di bawah level Rp 17.000. Dia menilai nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 17.000-an telah menjadi level keseimbangan baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memandang memang jika di bawah Rp 17.000 rasanya sudah susah ya. Ini ada nomor kesimbangan baru begitu ya. Ada nomor kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid kepada detikcom dalam sesi detikSore, ditulis Jumat (15/5/2026).
Dia mengatakan sejauh ini pengalaman Bank Indonesia (BI) melakukan operasi moneter alias upaya-upaya stabilisasi rupiah, mengurangi nomor Rp 500 pada nilai tukar dolar AS memerlukan waktu lebih panjang dan relatif lebih sulit. Menurutnya, penguatan nilai tukar rupiah setidaknya bakal berada di level Rp 17.000-17.200 per dolar AS.
"Tapi saya percaya ya tetap bisa mendekati nomor Rp 17.000 itu memungkinkan apakah Rp 17.100 alias Rp 17.200 begitu, tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah nan dilakukan bank sentral itu kudu betul-betul efektif," papar Tauhid.
Tauhid menilai semestinya memang pemerintah mulai mengubah dugaan makro dalam APBN 2026. Sebab target-target nan ditetapkan sudah berada jauh dari kenyataan, misalnya saja nilai tukar nan mencapai Rp 17.500 dari sasaran Rp 16.500.
Bila mengubah APBN tak mau dilakukan, Tauhid meminta setidaknya ada penyampaian kerangka fiskal nan jelas dan transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor.
"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku upaya dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih percaya ya," beber Tauhid.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong juga menyatakan saat ini nampaknya susah untuk rupiah bisa menguat dan mencapai sasaran APBN. Lukman memandang aspek eksternal ialah gonjang-ganjing situasi geopolitik bumi menjadi argumen utama rupiah melemah, salah satunya kenaikan nilai minyak bumi nan terjadi imbas gangguan pasok setelah AS dan Irsn berperang.
"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan rupiah terhadap dolar AS) andaikan perang Iran-AS berhujung alias selat Hormuz dibuka dan nilai minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman kepada detikcom.
Di dalam negeri, Lukman memaparkan beberapa sentimen negatif membikin penanammodal ragu dan mengeluarkan modalnya le luar negeri mencari tempat nan aman, misalnya sentimen pengelolaan APBN nan terlalu ekstrem hingga membikin defisit mendekati level 3%. Kemudian polemik nan terjadi di pasar modal juga mengganggu kepercayaan penanammodal dan membawa kabur modalnya nan memicu pelemahan nilai tukar rupiah juga.
"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu meningkatkan suku bunga," tegas Lukman.
Pemerintah Bisa Apa?
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita mengatakan banyak perihal nan mesti dilakukan pemerintah untuk memberikan dorongan agar rupiah menguat terhadap dolar AS.
Pertama, menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar pasar percaya defisit tetap terkendali. Kepercayaan pasar, menurutnya kudu dipulihkan kembali agar penanammodal nan tadinya menarik modalnya, kembali menyuntikkan dananya lagi ke Indonesia dan dapat menyeimbangkan nilai tukar.
"Pasar finansial sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membikin rupiah masuk angin lebih sigap dari nan dibayangkan," ujar Ronny kepada detikcom.
Kedua, pemerintah kudu memperkuat ekspor dan memperbesar devisa hasil ekspor suplai Dolar AS di dalam negeri lebih kuat. Kebijakan baru DHE menurutnya kudu dioptimalkan untuk menjaga nilai tukar.
Ketiga, dalam jangka waktu panjang pemerintah mesti mempercepat hilirisasi dan substitusi impor agar ketergantungan terhadap peralatan impor bisa ditekan.
Kemudian, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan dalam jangka pendek, BI kudu tetap aktif menjaga pasar valas agar pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan.
Untuk memperkuat nilai tukar rupiah, apalagi untuk kembali seperti sasaran di APBN perlu perihal nan jauh lebih besar, ialah menjaga kepercayaan pasar. Para personil Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) kudu satu bunyi dan melakukan kebijakan dengan arah nan sama dan komunikasi nan baik.
"Tapi nan paling krusial sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor mau memandang pemerintah, BI, dan otoritas finansial bicara dalam arah nan sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron alias kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya sigap membesar," tegas Rendy kepada detikcom.
Dia juga mengatakan struktur ekonomi Indonesia tetap sangat berjuntai pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. Jadi setiap ada gejolak global, rupiah langsung ikut terpukul. Indonesia kudu perlahan mengubah struktur ekonominya dengan memperkuat industri dalam negeri untuk memproduksi komoditas sehari-hari dan juga produk ekspor.
"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor nan selama ini membikin impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Rendy.
Selain itu, kepastian kebijakan juga krusial sekali untuk dihadirkan pemerintah. Investor sebenarnya bisa menerima patokan nan ketat, asal jelas dan konsisten. nan paling membikin mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan nan terlalu mendadak dan susah diprediksi.
(hal/eds)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·