Anggie Ariesta
, Jurnalis-Minggu, 12 April 2026 |18:06 WIB

Rupiah Pekan Depan (Foto: Okezone0
JAKARTA - Pengamat mata duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan adanya perubahan tajam pada pasar finansial dunia dalam satu pekan ke depan. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap berlanjut, sementara pergerakan nilai komoditas bakal sangat berjuntai pada eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Ibrahim mencatat adanya potensi pelebaran rentang perdagangan pada Indeks Dolar AS. Berdasarkan kajian teknikal, indeks dolar mempunyai level support (support) di posisi 97,00 dan tingkat resisten di level 100,90.
"Dalam perdagangan satu pekan ke depan, kemungkinan besar ini bakal melebar. Ada kemungkinan besar range-nya itu melebar di 97,00 dan 101,00," jelas Ibrahim dalam risetnya, Minggu (12/4/2026).
Sejalan dengan penguatan dolar, mata duit Garuda diprediksi tetap bakal berada dalam tekanan. Ibrahim memperkirakan Rupiah tetap bakal memperkuat di level nan cukup lemah.
"Pelemahan mata duit Rupiah kemungkinan tetap bakal memperkuat di atas level 17.000. Itu untuk Rupiah," tambahnya.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada perundingan antara AS dan Iran nan difasilitasi oleh Pakistan. Ibrahim memaparkan dua skenario nan bakal berakibat langsung pada nilai minyak dan inflasi.
Jika jarak perang selama dua minggu tercapai, nilai minyak diprediksi turun nan kemudian bakal meredam inflasi. Hal ini membuka kesempatan bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk menurunkan suku bunga, nan menjadi sentimen positif bagi nilai emas.
Jika negosiasi gagal, potensi perang terbuka di Terusan Suez dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran bakal memicu lonjakan nilai minyak mentah dan emas secara bersamaan.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·