Anggie Ariesta
, Jurnalis-Minggu, 13 September 2026 |12:56 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berada dalam tekanan selama perdagangan pekan depan. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berada dalam tekanan selama perdagangan pekan depan. Pergerakan mata duit Garuda sejalan dengan potensi penguatan indeks dolar AS nan diproyeksikan bergerak di rentang 90,30 hingga 100,20.
Analis mata duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah tetap dibayangi oleh ketidakpastian pasar finansial dunia serta dinamika kebijakan moneter AS.
“Untuk rupiah sendiri kemungkinan mengalami pelemahan ya mencapai Rp17.850-an, bisa saja lebih dari Rp17.850-an,” ujar Ibrahim dalam risetnya, Minggu (13/9/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa pemicu utama tekanan pasar datang dari eskalasi bentrok geopolitik, khususnya perselisihan AS dan Iran di area Timur Tengah. Tingginya tensi geopolitik ini memicu tindakan perburuan penanammodal terhadap aset kondusif (safe haven) berbasis dolar AS.
Di saat nan sama, kecamuk perang Rusia-Ukraina nan belum mereda semakin memperpanjang volatilitas pasar mata duit global. Eskalasi di area kaya sumber daya tersebut turut menakut-nakuti kelancaran rantai pasok dan memicu lonjakan nilai komoditas energi.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·