Rumi dan Kecemasan Relasional Perempuan Modern

Sedang Trending 1 jam yang lalu
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

DI tengah hiruk-pikuk media sosial saat ini, muncul kejadian kecemasan relasional nan menimpa banyak perempuan. Saya menemukan kejadian itu di kelas, di pengajian, alias dalam pesan-pesan nan berseliweran di ponsel.

Tekanan menikah pada usia tertentu, standar kecantikan nan dipantulkan algoritma media sosial, beban dobel antara pekerjaan dan rumah tangga, hingga budaya kencan digital menimbulkan pertanyaan tentang apakah dirinya layak dicintai alias tidak. Akumulasinya menjadi satu jenis luka nan sama: rasa tidak kondusif dalam relasi.

Dampaknya acap kali lebih serius daripada nan sering kita sadari. Banyak wanita hidup dengan kekhawatiran relasional nan melelahkan. Mereka takut ditinggalkan, takut tidak dipilih, dan takut sendirian. Identitasnya perlahan berjuntai pada pengesahan dari luar. Ketika relasi itu lenyap alias berubah, nan runtuh bukan hanya hubungan, melainkan juga rasa berbobot dalam diri.

Psikologi modern telah menjelaskan beragam aspek pemicunya, mulai <I>insecure attachment

hingga kebutuhan bakal pengesahan sosial. Namun, di luar penjelasan psikologis itu, tradisi spiritual menawarkan langkah lain untuk memahami akar persoalannya. Di sinilah saya menemukan bahwa tasawuf, khususnya melalui pembacaan Jalaluddin Rumi, menghadirkan jawaban nan mengejutkan. Faktor pertama nan perlu dipulihkan bukan hubungan kita dengan orang lain, melainkan langkah kita memandang relasinya.

Pemahaman itu justru saya peroleh ketika mengisi kelas unik tasawuf tentang figur-figur wanita dalam tafsir Rumi. Semula saya mengira Maryam, Zulaikha, dan ibu Nabi Musa hanya datang sebagai bagian dari kisah para nabi. Namun, di tangan Rumi, mereka tampil sebagai subjek nan menjalani perjalanan spiritual sendiri.

Para peserta kelas rupanya tidak sekadar mau mendengar kisah-kisah itu. Mereka mau menemukan diri masing-masing di dalamnya. Nama-nama tersebut berubah menjadi cermin batin. Dari situlah saya memandang satu benang merah nan sebelumnya tidak saya sadari. Ketiga wanita itu mengajarkan langkah berelasi nan lahir dari kesadaran, bukan dari rasa takut.

Belakangan saya menemukan bahwa pandangan Rumi itu mempunyai kemandang nan menarik dalam pemikiran filsuf Martin Buber melalui konsep I-Thou. Meskipun keduanya dipisahkan tujuh abad dan dua tradisi keagamaan nan berbeda, mereka sama-sama memandang bahwa kualitas hidup manusia ditentukan kualitas relasinya. Bedanya, Buber berakhir pada relasi sebagai puncak pengalaman eksistensial. Rumi memandang relasi sebagai jalan menuju transformasi jiwa nan lebih dalam.

Saya menyebut jalan itu sebagai relasi sadar: relasi nan lahir dari kehadiran batin, bukan dari rasa takut kehilangan, dorongan untuk menguasai, alias kebutuhan terus-menerus bakal validasi.

KETIKA YANG LAIN BERUBAH MENJADI OBJEK

Buber membedakan dua langkah manusia berelasi. Pertama, I-It, ketika orang lain diperlakukan sebagai objek nan dinilai, digunakan, alias diukur berasas manfaatnya. Kedua, I-Thou, ketika seseorang dijumpai sebagai pribadi nan utuh, bukan sebagai perangkat untuk memenuhi kebutuhan kita.

Relasi I-It bukan sesuatu nan sepenuhnya buruk. Dalam kehidupan sehari-hari kita memang memerlukannya ketika bekerja, mengatur, alias mengambil keputusan praktis. Masalah muncul ketika pola itu meluas ke seluruh kehidupan. Bahkan, orang-orang nan kita cintai pun diperlakukan sebagai sarana untuk mengisi kekosongan jiwa sendiri.

Dalam konteks perempuan, masalahnya pola demikian dominan dalam kehidupan kini. Perempuan dinilai dari status pernikahannya, usianya, produktivitasnya, alias keberhasilannya menjalankan beragam peran sosial. Bahkan, wanita di ranah domestik pun menjadi sarana bagi pasangan demi kepuasannya, bukan lagi pribadi nan dijumpai apa adanya. Di titik itulah luka biasanya bermula. Relasi berakhir menjadi perjumpaan dan berubah menjadi transaksi.

Menariknya, Rumi membaca kisah-kisah wanita dalam Al-Qur'an dengan langkah nan sangat berbeda. Maryam, Zulaikha, dan ibu Musa tidak datang sebagai pelengkap kisah para nabi, tetapi sebagai subjek nan mengalami perjalanan spiritual mereka sendiri. Relasi mereka dengan Tuhan menjadi ruang transformasi, bukan sekadar latar sebuah peristiwa.

TIGA WAJAH RELASI SADAR

Figur pertama adalah Maryam. Dalam tafsir Rumi, Maryam bukan sekadar ibu Nabi Isa, melainkan juga lambang hati nan bening dan reseptif. Ketika menerima berita bahwa dia bakal mengandung, Maryam memang bertanya, "Bagaimana mungkin saya mempunyai anak?" Pertanyaan itu bukan lahir dari penolakan, melainkan dari kemauan memahami kehendak Ilahi.

Di sinilah letak kedalaman spiritualnya. Maryam tidak meniadakan akalnya, tetapi juga tidak menjadikan akalnya sebagai tembok untuk menolak panggilan Ilahi. Ia datang sepenuhnya dalam perbincangan dengan Tuhannya. Rumi menggambarkan hati semacam ini sebagai 'rahim spiritual', sebuah metafora bagi jiwa nan bersedia menerima sinar Ilahi tanpa lebih dulu menuntut agunan bahwa semuanya bakal melangkah sesuai dengan harapan.

Sikap Maryam terasa sangat relevan bagi perempuan modern. Banyak dari kita terbiasa buru-buru menghitung kemungkinan, menebak-nebak hasil, dan berupaya mengamankan diri sebelum berani membuka hati. Kebiasaan itu sering lahir dari pengalaman pernah terluka. Maryam menunjukkan kemungkinan lain: keterbukaan bukanlah kepolosan, melainkan keberanian untuk datang tanpa kudu mengendalikan segala sesuatu.

Figur kedua Zulaikha. Rumi tidak pernah menggambarkan jalan spiritual sebagai jalan nan bebas dari luka. Luka justru sering kali menjadi pintu. Pada mulanya, cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf adalah cinta nan mau memiliki. Yusuf menjadi objek hasratnya. Namun, penolakan dan kehancuran nan dia alami perlahan memurnikan arah cintanya. Ia tidak berakhir mencintai. Namun, orientasi cintanya berubah, dari sosok nan dicintai menuju sumber dari segala cinta.

Di sinilah pembacaan Rumi terasa menarik. Jika Buber menunjukkan pentingnya relasi nan membebaskan manusia dari hubungan nan saling memanfaatkan, Rumi memperlihatkan bahwa relasi itu tetap dapat bergerak lebih jauh. Luka tidak hanya disembuhkan, tetapi juga mentransformasikan jiwa. Karena itu, bagi wanita nan pernah patah hati, kisah Zulaikha membawa berita nan membebaskan: patah hati bukan kegagalan spiritual, melainkan kesempatan agar cinta dibersihkan dari kemauan memiliki.

Figur ketiga ibu Musa. Tidak ada keputusan nan lebih membelah jiwa seorang ibu daripada menghanyutkan bayinya sendiri ke sungai. Namun, dalam tafsir Rumi, tindakan itu bukan lahir dari kepasrahan pasif, melainkan dari keberanian meyakini Tuhan secara personal.

Dalam bahasa Buber, Tuhan tidak lagi dialami sebagai 'Dia' nan dibicarakan dari kejauhan, melainkan sebagai 'Engkau' nan betul-betul dihadapi. Banyak wanita kesulitan melepaskan hubungan, identitas lama, alias luka nan telah lama dipeluk. Kisah ibu Musa memperlihatkan bahwa melepaskan bukan berfaedah kehilangan cinta, melainkan memercayakan cinta kepada sumber nan lebih besar daripada diri kita sendiri.

DARI RELASI MENUJU INTEGRASI

Pengalaman spiritual Rumi menunjukkan semakin dalam relasi seseorang dengan Tuhan, semakin berubah pula langkah dia mengalami kehadiran-Nya. Pengalaman spiritual nan mendalam tidak membikin seseorang meninggalkan dunia. Justru setelah mengalami transformasi batin, dia kembali kepada sesama dengan langkah mencintai nan berbeda: tidak lagi bergantung, tetapi juga tidak menjauh. Relasi tidak ditinggalkan, tetapi dimurnikan.

Pengalaman Rumi berbareng Syams dari Tabriz memperlihatkan perihal itu. Pada awalnya, Syams adalah sosok nan mengguncang seluruh kehidupannya. Namun, ketika Syams menghilang, Rumi tidak kehilangan pusat dirinya. Kehadiran Syams telah beralih bentuk menjadi sinar jiwa nan terus hidup dalam dirinya. Ia tetap mengajar, tetap menulis puisi, tetap mencintai murid-muridnya. Kesatuan tidak mengakhiri relasi, tetapi memperhalus kualitas relasi itu sendiri.

Bagi kesehatan mental perempuan, sintesis itu membawa makna nan sangat penting. Selama identitas seseorang sepenuhnya berjuntai pada relasi di luar dirinya, kehilangan bakal selalu terasa sebagai kehancuran diri. Sebaliknya, ketika seseorang mempunyai pusat jiwa nan kukuh, dia tidak lagi mencintai untuk mengisi kekosongan alias memohon agar dipilih demi merasa cukup. Ia mencintai dari kelimpahan batin, bukan dari kekurangan.

PESAN YANG MELAMPAUI PEREMPUAN

Figur-figur wanita dalam Al-Qur'an, melalui pembacaan Rumi, memperlihatkan bahwa luka, kesendirian, dan pengorbanan dapat menjadi periode menuju kedalaman spiritual, bukan akhir dari kehidupan. Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada perempuan. Rumi sendiri belajar tentang keintiman dengan Tuhan melalui kisah-kisah mereka. Dengan demikian, spiritualitas feminin bukan monopoli perempuan, melainkan kualitas jiwa nan dapat tumbuh pada siapa saja: keberanian untuk menerima, kesediaan untuk percaya, dan keahlian mencintai tanpa kudu memiliki.

Kembali kepada kekhawatiran relasional nan membuka tulisan ini, mungkin nan sebenarnya dibutuhkan wanita modern bukanlah semakin banyak kontrol atas relasinya. Mereka memerlukan keberanian untuk membangun relasi nan lebih sadar.

Maryam mengajarkan keberanian untuk hadir. Zulaikha mengajarkan bahwa luka dapat dimurnikan menjadi cinta nan lebih bebas. Ibu Musa mengajarkan bahwa melepaskan bukanlah kekalahan. Ketiganya tidak berhujung pada kehilangan diri, melainkan pada diri nan lebih utuh.

Di situlah Rumi, melalui pembacaannya atas figur-figur wanita Al-Qur'an, menawarkan jawaban nan tetap terasa sangat relevan hingga kini. Cinta nan matang bukan lahir dari rasa takut kehilangan, melainkan dari keberanian untuk datang sepenuhnya.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia