Rumah Murah Makin Jauh, Gen Z Sulit Cari Hunian

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Rumah Murah Makin Jauh, Gen Z Sulit Cari Hunian Rumah subsidi.(Dok. Lamudi)

PASAR perumahan Indonesia tetap menghadapi celah produk di segmen kelas menengah, terutama bagi Gen Z dan milenial nan mulai memasuki usia membeli rumah. Knight Frank menyoroti adanya fenomena missing middle pada kisaran nilai Rp500 juta hingga Rp800 juta, di mana pilihan kediaman dinilai belum sesuai dengan keahlian dan kebutuhan konsumen.

Associate Director Research & Consultancy Knight Frank Indonesia, Syarifah Saukat, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara harga, lokasi, dan kesiapan produk di pasar.

“Kalau kita memandang bahwa lokasi-lokasi untuk rumah tapak dengan harga, katakanlah Rp500 juta ke bawah, itu berada di wilayah-wilayah hinterland. Sementara untuk apartemen nan tidak disubsidi, harganya mulai dari Rp800 juta,” kata Syarifah secara virtual, belum lama ini.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menciptakan kekosongan pada rentang nilai Rp500 juta hingga Rp800 juta nan justru menjadi area krusial bagi pembeli generasi baru.

“Dalam rentang nilai ini ada kekosongan di nomor sekitar Rp500 juta sampai Rp800 juta. Di sini diisi oleh program-program pemerintah untuk mencoba menyediakan vertical housing dengan letak nan ada di tengah kota,” ujarnya.

Syarifah menambahkan, golongan Gen Z dan milenial saat ini menjadi kebanyakan pencari hunian, namun menghadapi dilema antara nilai dan lokasi.

“Preferensi pasar nan saat ini terbesar posturnya adalah Gen Z dan milenial. Mereka bisa mempunyai rumah vertikal nan tidak perlu ke hinterland, tetapi dengan nilai nan relatif terjangkau untuk mereka,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuka kesempatan bagi pengembangan kediaman vertikal kelas menengah nan lebih terjangkau dan tetap berada di letak strategis.

Ia menegaskan, persoalan utama pasar saat ini bukan hanya soal kesiapan rumah, tetapi kesesuaian antara produk dan kebutuhan konsumen.

“Artinya, tantangannya bukan hanya menyediakan unit sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan lokasi, harga, desain, dan fasilitasnya sesuai dengan keahlian dan kebutuhan pasar,” ujar Syarifah.

Dengan kondisi tersebut, segmen kediaman Rp500 juta hingga Rp800 juta dinilai menjadi ruang krusial nan dapat menjembatani kebutuhan Gen Z dan milenial nan saat ini terjepit antara rumah murah di pinggiran dan apartemen di pusat kota nan relatif mahal. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia