Jakarta -
Salah satu pendiri Yayasan sekolah swasta di Jakarta Selatan, Yan Sofyan Syafe'i buka bunyi soal ditemukannya 966 senjata dalam ruang mantan Ketua Yayasan sekolah tersebut. Dia mengaku sedih atas ditemukannya senjata tersebut.
"Kami selaku pendiri nan mendirikan sekolah ini merasa berduka sekali dengan adanya perihal seperti ini tetapi Insyaallah seperti nan tadi saya utarakan mudah-mudahan semua itu dapat diperbaiki dengan sebaik-baiknya," kata Sofyan dalam konvensi pers di Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Sofyan menjelaskan awal mula sekolah tersebut didirikan untuk menciptakan anak-anak nan saleh dan pintar. Pendiri sekolah ini ialah Mantan Wapres RI Adam Malik, Letjen TNI (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro, Mawardi Labay El-Sulthani dan Yan Sofyan Syafe'i.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ke Pak Adam kemudian kita sama-sama ke Pak Adam sampai di sana diarahkan oleh beliau bahwa beliau selaku Wakil Presiden pada waktu itu dan diarahkan bahwa ada tanah kami di sana di Kebayoran katanya di apa di Pondok Pinang," ucap dia.
"Setelah itu mulailah kita buat yayasan itu dengan visi dan misi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dan kita berambisi agar anak-anak bangsa kita itu dapat betul-betul menjadi manusia nan seutuhnya," tambahnya.
Sofyan berambisi kasus pada sekolah nan didirikannya itu bisa segera diselesaikan. Hal itu agar aktivitas pembelajaran disekolah tersebut kembali melangkah baik.
"Mudah-mudahan itu semua bisa diselesaikan dengan langkah nan sebaik mungkin. Karena angan kami ya mudah-mudahan sekolah kita ini dapat kembali sesuai dengan tujuan," ungkapnya.
Tanggapan Pihak Eks Ketua Yayasan
Sebelumnya, Alhadid Endar Putra selaku kuasa IWD sekaligus Dirut PT Lokta Karya Perbakin menyampaikan bahwa 995 pucuk senjata airsoft gun itu adalah milik perusahaan tersebut. Senjata itu disimpan di penyimpanan sekolah berangkaian dengan rencana kerja sama ekstrakurikuler (ekskul) menembak antara PT Lokta Karya Perbakin dan pengurus yayasan sekolah sebelumnya pada 2020.
Ia menyatakan senjata itu resmi dan berizin. Alhadid juga mengaku telah memperlihatkan surat izin tersebut ke pihak kepolisian.
"Mereka (pihak kepolisian) juga bertanya dan kami kasih lihat. Ini bakal kita gelar juga di Polres izin-izin tersebut," kata Alhadid.
Menurut Alhadid, pihak yayasan nan saat ini sudah tahu soal adanya senjata nan disimpan di penyimpanan itu. Ia merasa heran pihak yayasan sekolah seakan-akan tidak mengetahui asal-usul senjata tersebut.
"Saya juga tidak tahu tiba-tiba meledak, mereka seakan-akan baru tahu. Mereka tahu juga sudah ada izinnya," ungkapnya.
Alhadid menduga persoalan ini mencuat lantaran ada bentrok di internal kepengurusan yayasan sekolah. Konflik itu terjadi sejak pembina yayasan nan sebelumnya diberhentikan secara sepihak.
"Ternyata saya ulik ada bentrok di yayasan itu. Ini mengenai pembina Bu N sudah menjadi pembina sudah menduduki bentuk dari April 2026. Jadi 5 bulan itu menduduki di sana, sebelum dia menduduki itu dia memberhentikan pembina lain," jelasnya.
(ial/idn)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·