Rumah Detensi Imigrasi: 1.941 Pengungsi Rohingnya Berada di Pekanbaru

Sedang Trending 34 menit yang lalu
Kepala Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru, Adrianus Tonny, di Kantor Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru, Riau, Selasa (15/9/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru mencatat ada 1.941 pengungsi dari Rohingnya nan berada di wilayah kerjanya.

Kepala Rudenim Pekanbaru Adrianus Tonny Budijaya mengatakan para pengungsi tersebut tersebar di tujuh akomodasi, satu makeshift camp, serta sejumlah pengungsi nan tinggal secara berdikari alias mengontrak.

"Nah, untuk di wilayah kerja kami, pengungsi itu saat ini selain di dalam tuh di luar kita ada pengungsi juga. Kita ada pengungsi itu cukup besar, jumlahnya 1.941 orang sampai hari ini," kata Tonny di Kantor Rudenim Pekanbaru, Riau, Selasa (15/9).

Menurut Tonny, para pengungsi tidak bisa dipulangkan secara paksa lantaran Indonesia belum meratifikasi perjanjian internasional mengenai pengungsi.

"Kenapa mereka ada ini mereka tidak bisa dipulangkan? Karena saya kembali dulu, Indonesia bukan negara pengungsi. Kita belum meratifikasi perjanjian tentang pengungsi, tetapi kita menghormati hak-hak hidup manusia dalam perjanjian HAM," ujarnya.

Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru, Riau, Selasa (15/9/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Tonny mengatakan para pengungsi nan berada di Indonesia telah mendapatkan kartu pengungsi dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) alias Badan Pengungsi PBB. Mereka umumnya meninggalkan negara asal lantaran bentrok dan kemudian mengusulkan perlindungan kepada UNHCR.

"1.941 orang pengungsi nan ada saat ini itu, mereka telah mempunyai kartu pengungsi, kartu refugee nan dikeluarkan oleh UNHCR," jelas Tonny.

Dia menjelaskan pemulangan secara paksa tidak dapat dilakukan. Sementara itu, pengungsi nan mau kembali ke negara asal dapat menggunakan sistem Assisted Voluntary Return (AVR) melalui IOM.

"Mereka bisa AVR, Assisted Voluntary Return. Mereka bisa kembali ke negaranya, tapi atas dasar permintaan pribadi. Kalau tidak bisa, tidak bisa kita paksakan," kata Tonny.

Khusus pengungsi Rohingya, Tonny menyebut pemulangan menjadi persoalan lantaran hingga sekarang tidak ada negara ketiga nan bersedia menerima mereka. Dia juga menyebut Myanmar sebagai negara asal Rohingya belum mengakui mereka.

"Tapi untuk suku Rohingya ini, negaranya saja belum mengakui mereka ada. Jadi mereka dipulangkan ke mana, kita juga tidak tahu, dan ini menjadikan beban bagi negara kita," ujarnya.

Tonny mengatakan kondisi tersebut membikin penanganan pengungsi Rohingya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan kemanusiaan.

"Jadi untuk dipulangkan pun berat juga tidak bisa. Jadi saya di sini lebih kepada penanganannya pendekatan-pendekatan nan sifatnya kemanusiaan saja," jelas dia.

Menurut info Rudenim Pekanbaru, para pengungsi tersebut tidak hanya berada di Kota Pekanbaru. Wilayah kerja Rudenim Pekanbaru mencakup 13 Kantor Imigrasi di tiga provinsi, ialah Riau, Jambi, dan Sumatera Barat.

Muhammad, pengungsi rohingya di Pekanbaru, Riau, Selasa (15/9/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Sementara itu, dari penelusuran di salah satu letak pengungsi Rohingya di Pekanbaru, Muhammad, salah satu pengungsi, mengatakan mereka telah tinggal di letak tersebut selama sekitar tiga tahun.

"Sudah 3 tahun," kata Muhammad.

Abdullah, pengungsi lainnya, mengatakan terdapat sekitar 570 orang nan tinggal di kompleks tersebut dengan sekitar 130 rumah.

"Rumah 130. Kalau orangnya 570 orang," kata Abdullah.

Dia mengatakan argumen mereka memilih Indonesia lantaran mencari tempat nan aman.

"Kita cari keamanan, Pak. Sebelum di sini dipilih nan negara Islam. Dan juga Indonesia negaranya Islam. Kalau mau cari amanan di sini lebih bagus dari pada negara lain, tujuannya sini, Indonesia," ujar Abdullah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan