Ruang Fiskal Negara Kian Sempit, Ekonom Sarankan Ini Buat Jaga Ekonomi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026. Angka ini melampaui pertumbuhan pada kuartal IV-2025 sebesar 5,39%, dengan ditopang gencarnya shopping negara di awal tahun.

Head of Center Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufiqurrahman menilai hal ini terlihat dari shopping negara per April 2026 nan sudah mencapai Rp 815,0 T alias melonjak signifikan 21,81% secara tahunan.

Tren shopping awal tahun nan membesar ini mendorong defisit APBN pada kuartal I-2025 mencapai 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka defisit nan mendekati 1% pada awal tahun ini dinilai berisiko memperlebar defisit APBN maksimal 3% dalam setahun.

Rizal menilai, andaikan pola shopping pemerintah terus dilakukan secara garang hingga sisa tahun berjalan, maka sasaran defisit APBN berpotensi susah dijaga tahun ini.

"Kalau 1 triwulan saja sudah nyaris 1%, kita tetap ada sisa 3 triwulan. lagi. Dan ini punya kesempatan jika tidak betul-betul stimulus itu menciptakan nilai tambah nan besar. Bahkan lebih besar dari triwulan 1 Maka sangat susah rasanya untuk menjaga 3% dengan tetap mengutamakan shopping fiskal nan luar biasa nan dahsyat pertumbuhannya," ujar Rizal dalam Diskusi Publik "Menjaga Stamina Pertumbuhan Ekonomi Indonesia", dikutip Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, pemerintah berpotensi kembali menggunakan strategi serupa pada kuartal II-2025. Namun, Rizal mengingatkan agar pemerintah tidak terus menjadikan shopping negara sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi. Sebab, pola tersebut membikin biaya pertumbuhan ekonomi menjadi sangat mahal.

"Kalau demikian terus dilakukan maka pertumbuhan ekonomi kita sangat mahal Sangat mahal Kalau mengandalkan fiskal dengan digenjot sampai dua digit gitu ya," ujarnya.

Dirinya menilai, fiskal semestinya lebih diarahkan sebagai stimulus nan bisa menciptakan multiplier effect lebih besar terhadap sektor produktif, bukan hanya menopang konsumsi jangka pendek.

"Justru gimana fiskal itu menjadi stimulus untuk meningkatkan dan juga mendapatkan multiplier nan lebih tinggi," ujarnya.

Dari sisi investasi, Rizal mengatakan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pertumbuhannya bisa tembus 5,09%, dengan kontribusi ke PDB kedua terbesar, ialah 29,77%. Namun, struktur investasinya dinilai tetap belum optimal dan condong volatil.

Maka dari itu, dirinya menyarankan pemerintah tidak hanya konsentrasi mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga memperkuat pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas dan daya tahan ekonomi nasional.

"Tentu produktivitas dan daya tahan ekonomi nasional nan jauh lebih baik tentu tidak besar gap antara capaian pertumbuhan ekonomi makro dan juga situasi di mikronya," ujarnya.

Ke depan, Rizal mengingatkan pemerintah perlu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2025 agar tidak mengalami perlambatan tajam setelah momentum konsumsi dan shopping tinggi di awal tahun mulai mereda.

"Tentu hati-hati Jangan mengandalkan sebagai penopang utama alias engine pertumbuhan ekonomi itu dari shopping pemerintah. Kalau demikian terus dilakukan maka pertumbuhan ekonomi kita sangat mahal sangat mahal," ujarnya.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News