Pianis Internasional Rueibin Chen(Dok Pribadi)
DI kembali kemegahan Aula Simfonia Jakarta nan bertaraf dunia, sebuah narasi besar Piano Concerto No. 1 karya Johannes Brahms bakal segera digubah. Pada 20 Juni, Indonesia bakal menyaksikan gimana tuts piano di bawah jemari pianis internasional berdarah Taiwan dan berkewarganegaraan Austria, Rueibin Chen, berbincang dengan Jakarta Simfonia Orchestra.
Bagi Chen, kedatangannya ke Indonesia membawa warna musik unik Jerman-Austria bukan sekadar mampir dalam rangkaian tur Asia Tenggara. "Kedatangan saya di Jakarta hanyalah aktivitas pertama dari sebuah simfoni nan jauh lebih agung," ujarnya saat ditemui di area Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (17/6).
Pergi ke Wina di Usia Muda
Dunia mengenal Rueibin Chen sebagai pianis dengan reputasi internasional nan mengagumkan. Namun, fondasi musikalitasnya justru rentan oleh kesenyapan di masa kecil. Di usia 13 tahun, dia kudu meninggalkan kampung halamannya di Taiwan demi merantau seorang diri ke ibu kota musik dunia, Wina, Austria.
"Itu adalah masa nan sangat berat. Di usia 13 tahun saya pergi sendiri tanpa bisa berkata Jerman. Saya kudu melakukan segalanya sendirian seperti belajar, mengurus hidup, hingga bersiap untuk kompetisi. Rasa kesenyapan itu sangat menyiksa," ucap Chen.
Dahulu, teknologi komunikasi tidak seberuntung hari ini. Selama sepuluh tahun pertama menetap di Eropa, Chen sama sekali tidak pernah pulang. "Kami tidak punya internet alias Wi-Fi. Saya hanya bisa menelepon orangtua dua kali dalam setahun. Itu saja," tambahnya.
Terisolasi secara emosional sebagai remaja Asia di Eropa membikin piano menjadi sekutu tunggalnya untuk mengekspresikan diri. Kendati demikian, penderitaan masa mini tersebut justru menjelma menjadi berkah tersembunyi.
"Saat memainkan Brahms alias Rachmaninoff sekarang, saya tahu mereka juga melewati masa hidup nan sangat sulit. Jadi musik mewakili seluruhnya bagiku," tutur siswa tunggal keturunan Asia dari pianis legendaris Rusia, Lazar Berman ini.
Dua Julukan
Kritikus internasional kerap menyematkan dua julukan pada Chen ialah "Jari-Jari Horowitz" lantaran keahliannya nan meledak-ledak, serta "Jari-Jari Malaikat" lantaran kelembutannya. Bagi Chen, disejajarkan dengan Vladimir Horowitz merupakan kehormatan tertinggi. Horowitz pun menjadi inspirasinya untuk memperlakukan piano sebagai sebuah orkestra utuh.
Meski begitu, dia tidak mau hidup di bawah bayang-bayang legenda Barat tersebut. Sementara soal julukan "Jari-Jari Malaikat" pun bukan berfaedah dia hanya melahirkan musik nan lembut.
"Misi saya adalah menggunakan teknik kuat ini untuk mengekspresikan jiwa saya sendiri, akar budaya Timur, dan api di dalam diri saya saat ini," ungkap Chen.
Menjadi Jembatan Budaya Barat dan Timur
Sebagai musikus nan membawa warisan teknik klasik Eropa dan mempunyai warisan budaya Tionghoa, dia mempunyai misi untuk membangun jembatan budaya. Ketika dia membawa komposisi bermuatan lokal Timur ke panggung-panggung megah, dia menyaksikan kekuatan musik nan bisa meruntuhkan sekat perbedaan.
Chen mengenang pengalamannya saat tampil di Eropa dan Amerika Serikat, di mana dia dipertemukan dengan dua jenis audiens nan sangat kontras. "Ada penonton Barat nan apalagi belum pernah menginjakkan kaki di Asia. Namun lewat melodi nan dihadirkan, mereka mendapatkan khayalan dan khayalan nan hangat tentang budaya Timur, lampau terdorong untuk mempelajarinya lebih dalam,” ceritanya.
Sementara itu, golongan audiens nan telah puluhan tahun hidup terpisah dari tanah airnya justru merasakan ikatan emosional nan mendalam saat mereka mendengar akar budayanya ditenun dan dimainkan di atas panggung megah.
“Ketika mereka mendengarkan akar budaya mereka sendiri dimainkan, mereka menangis. Bagi saya, momen emosional itu adalah pembuktian sungguh dahsyatnya kekuatan musik," pungkas Chen.
'Gempa Budaya' di Indonesia
Pilihan Chen untuk membawakan Brahms Piano Concerto No. 1 bukan hanya didasari oleh hubungan emosionalnya nan kuat terhadap sosok Brahms, melainkan komposisi ini dinilai sangat cocok untuk memuaskan dahaga standar tinggi para penikmat musik klasik di Indonesia.
"Saya merasa penonton dan musisi muda di Indonesia mempunyai passion besar terhadap musik. Indonesia sangat kaya bakal akar budaya," puji Chen.
Ia pun mengaku sangat tertarik bekerja-sama dengan musisi klasik maupun tradisional Indonesia. Chen membujuk untuk membayangkan apa nan bakal terjadi ketika teknik piano Rusia berjumpa dengan ritme misterius dari warisan busdaya tradisional Indonesia. "Saya rasa, kolaborasi itu bakal menciptakan sebuah 'gempa budaya' nan mengguncang panggung global,” pungkasnya.(M-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·