Sebuah studi menggunakan robot sosial Pepper mengungkap sisi tak terduga dari ilmu jiwa dan perilaku manusia saat berinteraksi dengan AI.(Softbank Robotics)
KEHADIRAN robot sosial dalam kehidupan sehari-hari bukan lagi sekadar khayalan ilmiah. Di tengah semakin maraknya penggunaan kepintaran buatan, para intelektual memanfaatkan robot humanoid terkenal berjulukan Pepper untuk mempelajari gimana manusia berinteraksi dengan teknologi. Namun, alih-alih hanya menguji keahlian sang robot, penelitian ini justru mengungkap sesuatu nan mengejutkan tentang ilmu jiwa dan perilaku manusia itu sendiri.
Dalam sebuah penelitian terbaru, para mahir merancang skenario di mana Pepper ditempatkan di lingkungan publik untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang dari beragam latar belakang. Robot ini diprogram untuk melakukan percakapan ringan, membantu memberikan petunjuk arah, hingga menunjukkan ekspresi emosi tiruan melalui aktivitas tubuh dan perubahan warna pada matanya.
Para peneliti awalnya memperkirakan bahwa manusia bakal memperlakukan robot sekadar sebagai mesin alias perangkat bantu elektronik nan kaku. Namun, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan kejadian nan sangat berbeda. Manusia rupanya mempunyai kecenderungan alami nan kuat untuk melakukan antropomorfisme, ialah memproyeksikan sifat, emosi, dan niat manusiawi kepada objek mati.
Ketika Pepper menunjukkan tanda-tanda "kebingungan" alias melakukan kesalahan mini dalam merespons, alih-alih merasa kesal, sebagian besar partisipan justru menunjukkan empati. Mereka menurunkan nada bicara mereka, berbincang lebih lambat, dan apalagi mencoba menghibur sang robot seolah-olah mereka sedang berbincang dengan seorang anak mini alias seseorang nan sedang belajar.
"Kami menemukan manusia sangat sigap membangun ikatan sosial dan emosional dengan robot, apalagi ketika mereka tahu persis bahwa makhluk di depan mereka hanyalah kumpulan kode dan logam," ungkap salah satu intelektual utama nan memimpin studi tersebut.
Sebaliknya, studi ini juga menangkap sisi lain dari perilaku manusia. Ketika robot diprogram untuk bersikap terlalu dominan alias kaku, manusia condong menunjukkan respons melindungi dan menarik diri dari interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa aturan-aturan sosial, norma kesopanan, dan dinamika kekuasaan nan bertindak antarmanusia rupanya langsung diadopsi oleh kita saat berhadapan dengan kepintaran buatan.
Temuan dari penelitian berbareng Pepper ini memberikan wawasan krusial bagi masa depan pengembangan teknologi. Para intelektual menyimpulkan tantangan terbesar dalam menciptakan robot masa depan bukan lagi sekadar meningkatkan kepintaran komputasinya, melainkan gimana merancang robot nan bisa memahami dan beradaptasi dengan labirin emosi serta perilaku sosial manusia. Data dari studi ini diharapkan dapat menjadi pedoman krusial agar integrasi robot di sektor pelayanan, kesehatan, dan pendidikan dapat melangkah lebih selaras tanpa mengikis sisi kemanusiaan kita. (EArth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·