Riset PISA: Rasa Ingin Tahu Anak Indonesia Tinggi, tapi Growth Mindset Rendah

Sedang Trending 2 hari yang lalu
com-Ilustrasi anak pandai dan ceria Foto: Shutterstock

Moms, menurut hasil riset Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 rupanya rasa mau tahu anak Indonesia cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata negara personil Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Dilansir PAUD Pedia Kemendikdasmen, berasas info PISA 2025 nan dirilis OECD pada Selasa (8/9/2026), Indonesia sukses meningkatkan skor di dua domain utama. Skor membaca naik 6 poin dari 359 (PISA 2022) menjadi 365. Kenaikan serupa sejauh 6 poin terjadi pada domain literasi sains—fokus utama penilaian kali ini—yang beranjak dari 383 ke nomor 389.

Sementara itu, keahlian matematika siswa Indonesia berada di kisaran 364. Capaian kenaikan skor ini dinilai strategis lantaran terjadi di tengah performa dunia nan condong melorot.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menegaskan bahwa hasil ini memperlihatkan daya tahan sistem pendidikan Indonesia di tengah penurunan tren nilai sains, membaca, dan matematika negara OECD selama 25 tahun terakhir.

Kesetaraan dan Perluasan Akses Membaik

Ilustrasi anak belajar di dalam kelas. Foto: hxdbzxy/Shutterstock

Keberhasilan Indonesia nan paling tinggi terlihat pada aspek kesetaraan dan ekspansi akses. Indikator Coverage Index—yakni proporsi anak usia 15 tahun dalam sistem pendidikan formal—melonjak tajam dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. Perluasan ini melangkah paralel sejak beroperasinya computer based test (CBT) penuh sejak 2018.

Temuan menarik lainnya berangkaian dengan inklusivitas sosial. Latar belakang ekonomi siswa di Indonesia tidak menjadi penghalang berfaedah untuk berprestasi setinggi rata-rata OECD.

Pengaruh kondisi sosial-ekonomi terhadap ragam skor sains di Indonesia hanya sebesar 8,6 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD nan mencapai 11,6 persen.

Bahkan, proporsi siswa dari family kurang bisa nan tetap meraih hasil belajar baik (academic resilience) di Indonesia mencapai 15,4 persen, mengungguli rerata OECD di nomor 11,9 persen.

Atas capaian ekspansi akses nan ramah inklusi ini, Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher memberikan apresiasi. OECD mencatat bahwa anak-anak Indonesia mempunyai fondasi mental pembelajaran berdikari nan sangat prospektif.

Dalam parameter psikologis, rasa mau tahu siswa Indonesia berada pada skala indeks 0,18 (dibandingkan 0,00 rata-rata OECD), keahlian menetapkan tujuan pembelajaran di nomor 0,32 (OECD 0,00), dan keberanian meminta support sebesar 0,25 (OECD 0,00).

Tak hanya itu, siswa Indonesia juga memperlihatkan antusiasme tinggi terhadap rumor global. Lebih dari 90 persen siswa Indonesia menyatakan tertarik berkontribusi pada perlindungan lingkungan hidup melalui pekerjaan masa depan mereka.

Angka kepedulian lingkungan ini jauh melampaui rata-rata negara OECD nan hanya berada di nomor 62 persen.

Kemampuan berpikir kritis dalam pemecahan masalah komputasional serta pengesahan info kepintaran artifisial (AI) siswa Indonesia juga tercatat melampaui rata-rata global.

Growth Mindset Anak Indonesia Masih Rendah

Ilustrasi Anak Belajar Matematika. Foto: Shutterstock

Meski menunjukkan fondasi karakter dan akses nan membaik, laporan PISA 2025 menyisakan pekerjaan rumah (PR) besar pada taraf kemahiran akademik tingkat tinggi. Jumlah siswa Indonesia nan bisa menembus level performa sangat tinggi (top performers) pada setidaknya satu bagian dari sains, membaca, alias matematika tetap banget langka.

Data OECD mencatat hanya 0,1 persen alias 1 dari 1.000 siswa Indonesia nan sukses mencapai golongan rentang hasil belajar tertinggi tersebut. Angka ini tertinggal sangat jauh dari rata-rata negara OECD nan telah mencapai 11,9 persen.

Kondisi ini mengonfirmasi bahwa kendati disparitas akses makin terkikis, penetrasi pembelajaran berakal tingkat tinggi (higher-order thinking skills) belum menyentuh taraf optimal secara merata.

Merespons gambaran komprehensif tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merumuskan empat pilar intervensi strategis.

Strategi ini meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi digital pembimbing (termasuk koding dan AI), penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) serta literasi-numerasi, pengharmonisan Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik berbasis penalaran PISA, serta keterlibatan family melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).

Akselerasi perbaikan ini ditopang oleh platform digital berdikari seperti Ruang GTK, Ruang Murid, dan portal simulasi Pusmendik. Ekosistem ini diharapkan dapat menjembatani ketimpangan mutu, memperkuat penalaran sains, serta mendorong lebih banyak siswa Indonesia meloncat ke golongan berprestasi tinggi di kancah internasional.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan