Ribuan family mendatangi rumah sakit di Kathmandu untuk mencari kejelasan nasib personil family nan lenyap akibat banjir bandang mematikan di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet.(The Guardian)
SUASANA duka dan kekhawatiran mendalam menyelimuti kota-kota di Nepal pascabencana banjir bandang dan tanah longsor luar biasa nan menerjang area perbatasan Nepal dan Tibet. Puluhan penduduk nan panik sekarang mendatangi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan (TUTH) di Kathmandu untuk mencari keberadaan personil family mereka nan lenyap tanpa kabar.
Dinding gerbang rumah sakit pemerintah tersebut sekarang berubah menjadi tempat penempelan lembaran foto penduduk nan dilaporkan hilang. Keluarga korban membawa foto bercetak hingga menunjukkannya lewat layar ponsel, berambisi ada kejelasan mengenai nasib kerabat mereka nan terseret arus air bandang dan lumpur.
Salah satu penduduk nan menanti kepastian adalah Dolma Tamang, 36. Ia secara terus-menerus mendatangi sejumlah rumah sakit di Kathmandu demi mencari info mengenai berita sanak saudaranya. Sementara itu, Sushila Shrestha, 23, juga mendatangi TUTH untuk mencari adiknya, Bir Bahadur Shrestha, 21, seorang pengemudi truk nan sedang melintasi Distrik Rasuwa menuju perbatasan China saat banjir melanda.
"Saya percaya dia bakal kembali; dia kudu kembali," ungkap Sushila Shrestha dengan penuh angan di tengah keputusasaan.
Rasa trauma dan duka mendalam membikin tak sedikit penduduk tak sanggup memandang daftar alias foto-foto korban meninggal nan dipajang. Seorang penunggu rumah sakit nan mencari sepupunya apalagi mengaku tidak berani menatap deretan foto jenazah tanpa identitas.
"Saya kudu memalingkan mata saya," tuturnya sembari berupaya menahan tangis.
Bencana banjir bandang ini disebabkan oleh runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya nan memicu terjangan dahsyat batu, es, serta lumpur deras ke aliran Sungai Bhotekoshi dan wilayah sekitarnya. Terjangan air bah tersebut merusak infrastruktur, memutus jalur komunikasi, serta meratakan permukiman penduduk dan pos perbatasan.
Otoritas penanggulangan musibah setempat melaporkan jumlah korban lenyap mencapai ribuan orang, termasuk ratusan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air dan visitor asing nan sedang melintas alias melakukan perjalanan ibadah. Korban tewas dilaporkan terus bertambah seiring penyisiran nan dilakukan oleh personel kepolisian, militer, dan tim penyelamat di sepanjang aliran sungai serta letak terdampak.
Pemerintah Nepal telah mengerahkan ribuan personel keamanan untuk operasi pencarian dan pertolongan, sekaligus meminta support internasional mengenai support teknis identifikasi jenazah serta perangkat pendingin penyimpanan jasad mengingat keterbatasan akomodasi rumah sakit lokal nan mulai kewalahan menampung korban. (The Guardian/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·