RI Terbanyak ke-6 Anak Belum Imunisasi, Pemerintah Gencarkan ‘Imunisasi Kejar’

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Kemenkes RI Gertrudis Tandy memberikan pemaparan dalam kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing di Auditorium UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Bandung, Senin (11/5/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap Indonesia tetap menempati urutan keenam bumi dengan jumlah anak zero dose alias anak nan belum pernah menerima imunisasi dasar terbanyak.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Kemenkes RI, Gertrudis Tandy dalam paparannya saat Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing berjudul “Mengejar Anak Zero Dose di Kota Bandung Tahun 2026” di Auditorium UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Pasir Kaliki, Bandung.

Gertrudis mengatakan berasas laporan WHO, Indonesia mempunyai sekitar 2,3 juta anak zero dose dari akumulasi info 2023 hingga 2025.

“Ini nomor zero dose kita. Indonesia itu nomor 6 terbanyak di dunia,” kata Gertrudis dalam paparannya, Senin (11/5).

Ia menjelaskan, anak zero dose merupakan anak usia satu tahun nan belum pernah mendapatkan imunisasi DPT-1 (Difteri, Pertusis, dan Tetanus dosis ke-1).

Lebih lanjut dia menjelaskan, capaian imunisasi nasional dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan.

Pada 2025, cakupan imunisasi nasional baru mencapai 80,2 persen. Sementara pada April 2026, hanya DKI Jakarta nan bisa memenuhi sasaran capaian imunisasi bulanan.

“Kita semestinya sudah di atas 28,3 persen per April, tetapi kenyataannya baru satu provinsi nan mencapai target,” ujarnya.

Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Kemenkes RI Gertrudis Tandy memberikan pemaparan dalam kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing di Auditorium UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Bandung, Senin (11/5/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Untuk mengejar ketertinggalan itu, Kemenkes menjalankan program “Imunisasi Kejar”, ialah pemberian vaksin kepada anak-anak nan terlambat alias belum mendapat imunisasi sesuai jadwal.

Selain itu diperlukan juga keterlibatan banyak pihak untuk menemukan anak-anak nan belum diimunisasi.

“Kalau tidak dibantu perawat desa, perangkat desa, kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, itu sangat susah memetakan anak-anak ini berada di mana,” tutur Gertrudis.

Ia menegaskan, cakupan imunisasi nan rendah dan tidak merata dapat memicu kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular seperti balang hingga polio.

Selain masalah pengedaran dan pelacakan, Kemenkes juga menyoroti meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin alias vaccine hesitancy. Gertrudis menyebut maraknya hoaks dan info keliru membikin sebagian orang tua menolak imunisasi.

“Masih banyak rumor tentang vaksin sehingga masyarakat ragu. Kadang suaminya tidak mengizinkan, ada nan merasa imunisasi tidak penting,” katanya.

Dalam kesempatan nan sama, Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Integrasi Layanan Primer dan Promosi Kesehatan, Indah Suci Widyahening, menilai perubahan pola konsumsi info menjadi salah satu penyebab menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.

Ia membandingkan sikap orang tua era dulu nan condong alim terhadap rekomendasi imunisasi dengan kondisi saat ini nan dipenuhi beragam sumber info di media sosial.

Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Kemenkes RI Gertrudis Tandy memberikan pemaparan dalam kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing di Auditorium UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Bandung, Senin (11/5/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

“Kalau dulu sumber informasinya hanya satu, orang tua diberi tahu kudu imunisasi ya datang saja ke Posyandu tanpa ragu,” kata Indah.

Berbeda dengan sekarang, masyarakat sangat mudah mengakses beragam info dari TikTok, Instagram, hingga YouTube, termasuk info nan belum tentu benar.

“Orang secara psikologis lebih tertarik pada hal-hal negatif. Informasi hoaks itu justru lebih sigap dipercaya dan disebar,” ujarnya.

Dalam aktivitas tersebut, turut datang Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Yus Ruseno, Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Gertrudis Tandy, Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Integrasi Layanan Primer dan Promosi Kesehatan Indah Suci Widyahening, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Sony Adam, serta Kepala Puskesmas Moch. Ramdan Nita Aprilia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan