Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengawasi kesiapan stok uranium sebanyak 20 kg nan tetap tersimpan di PT Industri Nuklir Indonesia (Inuki), meski operasional perusahaan telah terhenti. Jumlah material bahan bakar nuklir tersebut tercatat setara dengan satu peledak nuklir sehingga memerlukan penanganan keselamatan dan pengamanan nan ketat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapeten Zainal Arifin menekankan hingga saat ini proses serah terima PT Inuki ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) nan hingga saat ini belum terselesaikan.
"Yang perlu menjadi perhatian Bapak-Ibu bahwa di Inuki masih tersedia uranium sekitar 20 Kg setara satu peledak nuklir. Ini nan menjadi perhatian kita semua," ujar Zainal dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Jumat (11/9/2026).
Bapeten mencatat bahan bakar reaktor nuklir di Serpong saat ini sudah lenyap dan tidak ada lagi produksi lokal. Pasokan bahan bakar untuk reaktor tersebut tidak dapat dibeli dari negara lain lantaran sebelumnya diproduksi unik oleh PT Inuki.
"Sampai saat ini kami sampaikan bahwa info nan saya terima bahan bakar reaktor nuklir sudah lenyap dan kita tidak memproduksi bahan bakar nuklir. Bahan bakar nuklir untuk reaktor di Serpong itu tidak bisa serta-merta kita membeli dari negara lain lantaran itu hanya diproduksi oleh PT Inuki," katanya.
Selain persoalan stok uranium, Bapeten mengidentifikasi akomodasi Gedung 10 dan Gedung 60 milik PT Inuki tetap memerlukan proses dekontaminasi. Menurutnya, penghentian aktivitas upaya perusahaan tidak menghapuskan tanggungjawab pemenuhan standar keselamatan, keamanan, serta safeguards secara nasional maupun internasional.
"Gedung 10 maupun gedung 60 tetap memerlukan dekontaminasi. Meskipun kondisi upaya sudah tidak berjalan, tanggungjawab terhadap keselamatan keamanan dan safegard secara nasional maupun internasional tetap kudu dilakukan," imbuhnya.
Bapeten juga mengantisipasi akibat dari pemegang izin akomodasi nuklir nan mengalami persoalan upaya alias kepailitan. Pengawasan ketat tetap diberlakukan agar keberadaan sumber radioaktif dan bahan nuklir tidak terabaikan.
"Permasalahan nan perlu kita antisipasi adalah ketika pemegang izin mengalami masalah usaha, berakhir beroperasi. ambruk pailit. Nah, ini tidak menghilangkan tanggungjawab untuk menjamin keselamatan dan keamanan sumber radiasi," tandasnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·