RI Siap Hadapi El Nino Godzilla, Stok Beras Aman Sampai15 Bulan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani berbincang dengan para pengamatan ekonomi, akademisi dan ketua media usai mengecek stok beras di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Indonesia dipastikan siap untuk menghadapi El Nino Godzilla. Ketahanan beras Indonesia untuk itu mencapai 15 bulan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menuturkan proyeksi itu didasarkan pada stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), beras beredar di sektor hotel, restoran dan katering (Horeka), dan beras nan ditanam dan menunggu panen alias standing crop.

“Stok kita (CBP) 5 juta ton. Terbesar sepanjang sejarah. Kemudian di Horeka 12,5 juta ton. Standing crop 11 juta. Total jika tidak salah ini 28 juta setara 11 bulan. Sedangkan kekeringan itu 6 bulan. Artinya aman. Jadi kondusif kan?” kata Amran saat mengecek penyimpanan beras di Karawang, Jawa Barat pada Kamis (23/4).

Selain itu, Amran juga terus melakukan optimasi baik dari segi pompanisasi sampai irigasi. Dengan begitu, stok bisa kondusif sampai 15 bulan.

Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani berbincang dengan para pengamatan ekonomi, akademisi dan ketua media usai mengecek stok beras di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

“Nah, sekarang pada saat musim kering, kita tetap berproduksi 2 juta ton per tahun. Karena ada irigasi. Ada sawah irigasi, pompanisasi jalan, irigasi jalan. Nah, itu berfaedah 6-12 juta ton. 12 juta katakan ya 4 bulan, 5 bulan. Berarti bisa sampai April tahun depan kekuatan pangan beras kita. Jadi, aman. Karena 11 (bulan) tambah 4, ya 15 bulan,” ujarnya.

Amran juga merespons mengenai realisasi support pangan pemerintah berupa beras nan tetap kurang. Menurutnya, perihal itu menunjukan adanya indikasi pasar jenuh. Hal ini membikin permintaan bakal beras menjadi rendah.

“Tahun lampau hanya separuh (realisasi). Tahun ini bisa saja 30 persen saja, 40 persen. Kenapa? Rumah-rumah penuh dengan beras. Jadi itu menandakan seandainya ini terserap habis, berfaedah kosong di lapangan. Itu logikanya kan,” katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan