RI Gila-gilaan Impor 15 Ribu Ekor Sapi Bunting di 2025, untuk Apa?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap Indonesia tetap memerlukan populasi sekitar 2 juta ekor sapi perah untuk mewujudkan swasembada susu nasional. Saat ini, jumlah sapi perah di dalam negeri baru sekitar 540 ribu ekor, sehingga tetap diperlukan tambahan lebih dari 1 juta ekor lagi.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun mengatakan, kebutuhan tersebut menjadi tantangan besar mengingat produksi susu nasional saat ini baru bisa memenuhi sekitar 25% kebutuhan dalam negeri. Sisanya, sekitar 75%, tetap berjuntai pada impor.

"Nah ini sasaran jika mau swasembada lebih kurang kita butuh sapi itu sekitar populasi 2 juta ekor, dari sekarang 540.000 ekor, berfaedah tetap sekitar 1 juta lebih nan kita perlukan," kata Makmun dalam konvensi pers Hari Susu Nusantara di instansi Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Meski demikian, pemerintah menilai sasaran tersebut bisa dicapai melalui kombinasi peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah. Menurut Makmun, jika produksi susu per ekor dapat ditingkatkan, kebutuhan populasi tidak kudu mencapai 2 juta ekor.

"Tentu dengan paralel peningkatan produktivitas per ekornya. Kalau 540 ribu ekor bisa 25%, artinya jika naik sekarang kan info BPS tercatat sekitar 12,5 (liter) per hari produksi harian per ekornya. Kalau bisa naik menjadi 15 liter alias 20 liter, maka tidak sampai 2 juta ekor populasi nan kita perlukan," jelasnya.

"Nah jadi paling tidak jika dapat 1 juta produktivitas per ekornya dinaikkan, maka kita bakal bisa swasembada," lanjut dia.

Pekerja melakukan bongkar muat sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dari kapal Gelbray Express, Kamis (21/3/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Pekerja melakukan bongkar muat sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dari kapal Gelbray Express, Kamis (21/3/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dari kapal Gelbray Express, Kamis (21/3/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Sebagai bagian dari upaya menambah populasi, pemerintah berbareng industri dan peternak telah mengimpor nyaris 15 ribu ekor sapi mengandung sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut disebut menjadi impor sapi mengandung terbesar dalam sejarah Indonesia merdeka.

"Alhamdulillah dengan support teman-teman industri, teman-teman para peternak tahun lampau kita mengimpor sapi mengandung itu sekitar nyaris 15 ribu ekor. Itu terbesarlah sepanjang sejarah kita mengimpor sapi ya dari info BPS," ujarnya.

Menurut Makmun, program tersebut mulai memberikan hasil lantaran sebagian sapi nan diimpor telah melahirkan dan berpotensi mempercepat regenerasi populasi sapi perah nasional.

"Tidak pernah lah kita punya impor dalam satu tahun sampai 15 ribu ekor. Ini satu tahun dengan partisipasi semua pihak itu totalnya lebih kurang 15 ribu ekor. Sekarang sudah punya anak, ya anggap saja 50% betina 50% jantan, berfaedah ada sekitar 7 ribu lebih ekor nan betina, ya itu bisa ber-regenerasi. Terus di samping nan populasi nan ada di dalam negeri lebih kurang 500 ribu tadi, artinya sekitar 2/3 nan betina ya. Nanti itu kan juga bakal melahirkan, itu penambahan populasi setiap tahun ya nyaris 100.000 lah," kata Makmun.

Selain memperbesar populasi, Kementan juga konsentrasi meningkatkan produktivitas sapi perah lokal. Saat ini rata-rata produksi susu sapi perah nasional tetap sekitar 12,5 liter per ekor per hari, jauh di bawah negara-negara maju nan sudah bisa menghasilkan lebih dari 30 liter per ekor per hari.

"Kalau di negara-negara lain produksinya ada di atas 30 liter per ekor per hari, kita mau produktivitas peternak kita nan saat ini tetap di bawah 20 liter per ekor per hari itu meningkat menjadi di atas 20 liter, mudah-mudahan bisa 25 liter per ekor per hari. Tentu ada banyak program alias perbaikan nan kudu kita lakukan," ujarnya.

Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah menyiapkan beragam langkah, mulai dari perbaikan kualitas pakan hingga penguatan kesehatan ternak.

"Pertama perbaikan dari sisi pakan, konsumsi pakan baik hijauan maupun konsentratnya, tentu itu bakal berjenjang meningkatkan produktivitas. Lalu kemudian perbaikan dari sisi kesehatan hewannya sehingga betul-betul hewan kita terjaga sehat," terang dia.

Lebih lanjut, Makmun mengatakan pemerintah sekarang juga menyediakan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) secara penuh bagi sapi perah guna menjaga produktivitas peternak.

"Seperti nan lampau ada kejadian PMK, dan sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100%, sehingga tidak ada lagi nan terdampak dengan PMK dan kita berambisi dengan begitu teman-teman peternak terus meningkatkan produksinya di lapangan," pungkasnya.

(wur/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News