Jakarta -
Indonesia dan Filipina resmi memperkuat kerja sama strategis industri nikel. Hal ini ditandai dengan adanya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).
Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto berbareng Menteri Perdagangan dan Industri Filipina (Secretary of Trade and Industry) Hon. Maria Cristina A. Roque dalam rangkaian Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable kemarin.
"Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur nan menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini bakal menjadi poros persediaan dan produksi nikel nan tak terpisahkan bagi dunia," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun nota Kesepahaman antara APNI dan PNIA mencakup ruang lingkup kerja sama nan berkarakter strategis dan berorientasi jangka panjang, meliputi pertukaran info dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global.
Selain itu juga ada pengembangan berbareng teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari side product (produk sampingan) industri pengolahan, dan pengembangan sumber daya manusia berbareng untuk mendukung ekosistem industri nikel nan berkelanjutan.
Adapun berasas info United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara berbareng menguasai 73,6% produksi nikel dunia pada 2025.
Indonesia sendiri menyumbang sekitar 66,7% alias 2,6 juta ton dan Filipina sebanyak 6,9% alias 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia mempunyai 44,5% persediaan nikel bumi alias sebesar 62 juta ton, sementara Filipina mempunyai 3,4% alias 4,8 juta ton.
Filipina Pasok Nikel ke Smelter RI
Airlangga menjelaskan Indonesia saat ini mempunyai ekosistem hilirisasi nikel nan sangat masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar di 2025. Proyeksi investasi hingga US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030.
Smelter-smelter tersebut memerlukan pasokan bijih nan stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) tepat nan dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.
"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina bakal terintegrasi ke dalam rantai nilai regional nan lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan agunan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan pengarahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di area ASEAN," kata Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga menekankan nikel merupakan mineral kritis nan mempunyai peran sentral dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan daya nasional maupun area melalui penguatan penyimpanan daya (energy storage), baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun baterai untuk penyimpanan daya panel surya.
"Dengan demikian, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran daya bersih dan berkelanjutan," kata Airlangga.
(hrp/hal)
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·