Review Novel La Tahzan, Alina Karya Elizasifaa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

La Tahzan, Alina – Dikhianati oleh seseorang nan sudah kita anggap kawan adalah sebuah perihal nan menyebabkan sakit hati nan parah.

Apalagi, jika pengkhianatan tersebut sampai merusak rumah tangga nan sudah dibangun. Ditambah lagi, wanita nan mengingkari itu alim beragama, dan dikenal baik oleh semua orang. Begitu baiknya hingga setiap orang nan dekat dengannya bisa jatuh hati, termasuk suami, anak kandung, apalagi ibu kandung dari Alina sendiri.

La Tahzan, Alina merupakan novel karya Elizasifaa nan mengangkat kisah nyata seorang wanita hebat. Novel ini diterbitkan oleh Rdm Publishers pada 28 Mei 2025 dengan ketebalan 288 halaman.

Novel nan satu ini dijamin bisa menyayat hati dan membuatmu merasakan segala emosi berbareng Alina nan diperlakukan tidak setara oleh orang-orang nan dicintainya.

Sembari mempersiapkan hati untuk membacanya, simak tulisan di bawah ini untuk mengetahui lebih banyak info tentang novel ini!

Profil Elizasifaa – Penulis Novel La Tahzan, Alina

Elizasifaa merupakan penulis, storyteller, sekaligus pembuat konten asal Malang, Jawa Timur, nan dikenal lantaran kemampuannya mengubah kisah nyata para pengikut media sosialnya menjadi cerita penuh emosi nan menarik perhatian publik. Namanya semakin dikenal luas setelah menghadirkan kisah-kisah viral seperti Ipar Adalah Maut dan La Tahzan, Alina.

Popularitas Eliza bermulai dari platform TikTok, tempat dia rutin membagikan cerita tentang perselingkuhan, bentrok keluarga, hingga beragam persoalan rumah tangga nan dikirimkan oleh para pengikutnya melalui pesan langsung alias Direct Message (DM).

Gaya bercerita nan menjadi karakter khasnya terletak pada penyampaian nan ekspresif, interaktif, dan disajikan dalam beberapa bagian sehingga membikin penonton terus mengikuti kelanjutan kisahnya.

Meski mengangkat cerita nan sarat emosi dan detail, Eliza tetap menjaga kerahasiaan identitas narasumber dengan menyamarkan nama, lokasi, serta beragam info pribadi lainnya.

Beragam kisah nan dia bagikan dapat ditemukan melalui akun IG @elizasifaa.

Sinopsis Novel La Tahzan, Alina

La Tahzan, Alina

Dulu, saya mengira kehidupan dan pernikahanku melangkah begitu sempurna. Namun, tak pernah kubayangkan bahwa ujian terbesar dalam rumah tanggaku justru datang dari seorang wanita nan dikenal sangat religius.

Namanya Asih. Selama ini, saya merasa telah mengenalnya dengan baik, tetapi kenyataannya tidak demikian. Mengenalnya lebih dalam justru seperti mengupas lapisan demi lapisan bawang. Semakin banyak nan terungkap, semakin besar pula rasa sakit nan kudu kutanggung.

Di kembali sosoknya nan tampak baik, Asih mempunyai pengaruh nan begitu kuat terhadap orang-orang di sekitarku. Dengan pesona nan dimilikinya, dia bisa menarik perhatian dan merebut satu per satu orang nan berbobot dalam hidupku. Bukan hanya suamiku, tetapi juga anakku, apalagi ibuku sendiri.

Aku terus bertanya-tanya, apakah saya memang seburuk itu hingga mereka memilih berada di pihaknya? Bagaimana saya bisa memperkuat menghadapi semua ini? Dan gimana saya kudu melewati setiap luka ketika kudu menghadapinya seorang diri?

Kelebihan dan Kekurangan Buku La Tahzan, Alina

Pros & Cons

Pros

  • Diangkat dari kisah nyata
  • Konflik nan menyayat hati
  • Penuh harapan
  • Tampilan sampul penuh makna

Cons

  • Alur nan triggering
  • Tersegmentasi untuk pembaca berakidah Islam

Kelebihan Novel La Tahzan, Alina

Novel La Tahzan, Alina karya Elizasifaa merupakan novel bergenre romansa Islami nan digemari banyak pembaca lantaran menawarkan banyak kelebihan sebagai berikut.

  • Diangkat dari kisah nyata

La Tahzan, Alina, novel karya Elizasifaa ini bisa menggugah hati para pembacanya dengan menyajikan kisah nyata nan penuh dengan sakit hati, luka, tetapi juga menyimpan banyak harapan.

  • Konflik nan menyayat hati

Novel ini berpusat pada bentrok pengkhianatan nan sangat nyata menyayat hati pembaca. Terbayang sakitnya dari pengalaman nan nyata pernah dialami pembaca alias orang-orang di sekitarnya. Penulis sangat lihai dalam mendeskripsikan segala emosi Alina, mulai dari rasa curiga, sakit hati, dan juga kemauan untuk move on melanjutkan hidup dengan tegar.

  • Penuh harapan

Tokoh utama dalam novel ini, Alina, berupaya bangkit dari rasa sakit hati kepada orang-orang nan disayanginya. Ia percaya bahwa ada kekuatan nan lebih besar dari dalam dirinya nan bisa mengalahkan segala kesedihan nan Ia rasakan.

Dari Alina, pembaca juga bisa meneladani gimana Ia berpegang penuh pada harapan, dan percaya bahwa “La Tahzan” bukan sekedar frasa, tetapi sebuah panggilan untuk tetap sabar dan tawakal.

  • Tampilan sampul penuh makna

Salah satu perihal nan perlu diapresiasi dari novel ini, ialah dari tampilan sampulnya nan menampilkan seorang wanita memandang satu family dari belakang di jalan setapak.

Hal itu seperti menggambarkan Alina nan ditinggalkan oleh keluarganya sendiri; sementara dia berada di sana dengan pilihan untuk melangkah maju alias mundur. Digambarkan dengan style lukisan sketsa dengan perpaduan warna nan cantik, menarik banyak orang nan melihatnya.

Kekurangan Novel La Tahzan, Alina

Meskipun novel La Tahzan, Alina karya Elizasifaa menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca. 

  • Alur nan triggering

Untuk pembaca nan pernah mengalami perihal serupa, mengenai family nan terpecah-belah alias perselingkuhan, isi novel ini mungkin bisa memicu trauma alias membuka luka lama.

Jadi, pastikan hatimu kuat untuk membacanya, ya. 

  • Tersegmentasi untuk pembaca berakidah Islam

Dari titel kitab hingga isinya, dapat diketahui bahwa novel ini kental dengan pengajaran Islami, meskipun bentrok dan premis nan diangkat terbilang umum. Hal ini menjadikan novel ini cukup tersegmentasi pada pembaca nan berakidah Islam.

Makna Mendalam La Tahzan

Secara harfiah, frasa La Tahzan (??? ????????) dalam bahasa Arab berfaedah “jangan bersedih”. Namun, maknanya jauh lebih luas daripada sekadar rayuan untuk menahan tangis alias mengabaikan rasa duka.

Ungkapan ini merupakan pesan spiritual nan terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah At-Taubah ayat 40, ketika Allah berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah berbareng kita.”

Kalimat tersebut datang sebagai sumber penguatan hati bagi setiap manusia nan sedang menghadapi kesulitan, kehilangan, maupun ketidakpastian dalam hidup.

Berikut beberapa makna mendalam nan terkandung dalam konsep La Tahzan:

  1. Pengakuan bahwa Sedih itu Manusiawi

La Tahzan bukanlah perintah untuk menolak alias memendam kesedihan. Sebaliknya, kalimat ini menunjukkan bahwa Allah memahami sungguh rapuhnya hati manusia ketika berhadapan dengan ujian kehidupan.

Kesedihan merupakan emosi nan wajar dan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman manusia. Kehilangan orang nan dicintai, kegagalan, pengkhianatan, alias beragam corak penderitaan lainnya adalah bagian dari perjalanan hidup.

Melalui ungkapan ini, Allah memberikan penghiburan bahwa rasa sedih boleh dirasakan, tetapi tidak boleh dibiarkan menguasai hati hingga menghilangkan harapan. Kesedihan adalah fase nan kudu dilalui, bukan tempat untuk menetap selamanya.

  1. Bentuk Penyerahan Diri (Tawakal)

Banyak kesedihan lahir dari kemauan manusia untuk mengendalikan segala sesuatu. Ketika angan tidak melangkah sesuai rencana, muncul rasa kecewa, cemas, dan putus asa.

Konsep La Tahzan mengajarkan bahwa tidak semua perihal berada dalam kuasa manusia. Ada masa lampau nan tidak dapat diubah dan masa depan nan tidak dapat dipastikan. Karena itu, manusia diajak untuk menyerahkan urusan nan berada di luar kemampuannya kepada Allah, tawakal.

Tawakal bukan berfaedah menyerah tanpa usaha, melainkan menjalani ikhtiar terbaik sembari meyakini bahwa Allah mempunyai rencana nan lebih baik daripada apa nan dapat dipahami manusia.

Dengan sikap ini, hati menjadi lebih tenang lantaran tidak lagi dibebani oleh hal-hal nan berada di luar kendalinya.

  1. Kesadaran bakal Kehadiran Tuhan (Ma’iyyatullah)

Makna terdalam dari La Tahzan terletak pada kelanjutan ayatnya, ialah “Innallaha ma’ana” nan berfaedah “Sesungguhnya Allah berbareng kita.” Kalimat ini mengandung pesan bahwa di saat manusia merasa ditinggalkan, kehilangan arah, alias menghadapi masalah nan terasa terlalu berat, Allah tidak pernah betul-betul meninggalkannya.

Kehadiran Allah bukan sekadar konsep teologis, melainkan sumber kekuatan nan bisa menenangkan hati nan gelisah.

Kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat, mendengar, dan mengetahui setiap kesulitan nan dialami bakal menumbuhkan rasa kondusif di tengah ketidakpastian. Ketika manusia menyadari perihal ini, kesenyapan perlahan berubah menjadi ketenangan, dan rasa takut berganti menjadi keyakinan.

  1. Sinyal untuk Bangkit dan Bergerak

Kesedihan nan dibiarkan berkepanjangan dapat menguras energi, melemahkan semangat, dan membikin seseorang kehilangan arah.

Dalam konteks ini, La Tahzan datang sebagai seruan lembut untuk kembali berdiri setelah terjatuh. Kalimat tersebut bukan hanya penghiburan, tetapi juga motivasi agar manusia tidak berakhir melangkah lantaran luka nan dialaminya.

Setiap ujian membawa pelajaran, setiap kehilangan menyimpan hikmah, dan setiap kesulitan membuka jalan menuju pertumbuhan diri. Oleh lantaran itu, La Tahzan dapat dipahami sebagai rayuan untuk menerima realita dengan lapang dada, mengambil pelajaran dari setiap pengalaman, lampau melanjutkan hidup dengan kepercayaan bahwa pertolongan Allah bakal selalu datang pada waktu nan paling tepat.

Penutup

La Tahzan, Alina karya Elizasifaa menghadirkan kisah tentang pengkhianatan, kehilangan, dan luka jiwa nan terasa begitu dekat dengan realitas kehidupan.

Melalui alur nan penuh emosi, novel ini bisa membujuk pembaca merasakan setiap kekecewaan, amarah, hingga kesedihan nan dialami tokohnya.

Jika Anda siap menyelami cerita nan menguras emosi dan meninggalkan kesan mendalam, maka novel ini layak untuk masuk ke dalam daftar bacaanmu.

Novel La Tahzan, Alina karya Elizasifaa ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Di Waktu Duha

Di Waktu Dhuha

“Menyukai dan mengagumimu hingga mau memilikimu kenapa kudu sesakit ini? Apa saya terlalu takut bahwa rupanya Anda bukanlah untukku?”

Rezeki Allah rupanya seluas lautan dunia. Bukan hanya sekadar kekayaan dan takhta. Nikmat beragama kepada-Nya juga termasuk rezeki nan tidak semua orang bisa memilikinya. Termasuk nikmat menjalankan dan menyenangi ibadah bukan hanya nan wajib, tapi juga sunnah, salah satunya salat Duha. Ah, sesenang itu saya dengan salat Duha. Itu adalah hidayah terindah nan kupunya. Sampai akhirnya saya berjumpa dengan seseorang nan membuatku bertanya : apakah dia bingkisan dari duhaku selama ini?

Mihrab Qalbu

Mihrab Qalbu

“Zain Salman Sulaiman menjalani hidup tanpa banyak ekspresi. Kehilangan kedua orang tua serta sang adik menempa dirinya menjadi sosok dewasa nan tenggelam dalam pengetahuan dan tanggung jawab. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar dan pemimpin Pesantren Al-Faruq, dia juga menjadi satu-satunya pelindung bagi keponakan kecilnya, Ziyad Khayri Sulaiman.

Hidup Zain nan tertata dan terasa hening perlahan berubah ketika langkah polos Ziyad mempertemukannya dengan Safwa Zamira Azhari—gadis ceria nan hangat dan penuh kejujuran. Pertemuan nan tampak sederhana itu rupanya bukan kebetulan, melainkan awal dari jembatan takdir nan mengetuk hati Zain nan lama tertutup.

Nomik : Miya No Haru

Miya No Haru

Diam-diam, Miya punya rahasia besar: dia mau bebas! Didikan orang tuanya untuk selalu berhijab sejak TK membebaninya. Dia mau mencoba hal-hal baru nan menurutnya susah dilakukan jika tetap berhijab. Saat program pertukaran pelajar ke Jepang datang. Miya percaya ini adalah kesempatannya untuk menjadi “Miya nan baru” Miya nan bisa bereksperimen, bertualang, dan menemukan dirinya sendiri.

Namun, di sana Miya malah menghadapi drama tak terduga. Mulai dari Kaya Nakazawa, sang superstar Mirai Junior High School, nan selalu mencari masalah dan memusuhinya hingga Shohei Nakamura, laki-laki green flag dan calon presiden OSIS Mirai Junior High School nan selalu ada saat dia butuh bantuan. nan paling mengejutkan, Miya berjumpa dengan Sara, gadis blasteran Palestina-Jepang nan misterius dan mengingatkannya pada misi dan pergulatan batinnya.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia