teh dan pengkhianat – Grameds, gimana jika sejarah tidak melulu soal nama jenderal dan tanggal perang, melainkan tentang air mata, pengkhianta di kembali cangkir teh, dan nurani manusia nan terkoyak di tanah kolonial?
Dalam Teh dan Pengkhianat, Iksaka Banu menyajikannya lewat 13 cerpen tajam nan sukses menyabet Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Buku setebal 176 laman terbitan KPG ini bukan hanya menghidupkan kembali era Hindia Belanda, tapi menampar kita dengan dilema moral, fanatisme, dan pengorbanan rakyat mini nan terhempas masa lalu.
Penasaran seberapa dalam kitab ini membedah sisi tergelap sekaligus paling berbobot dari kemanusiaan? Yuk, simka ulasan lengkapnya bareng Gramin sampai tuntas!
Sinopsis Buku Teh dan Pengkhianat
Setelah sukses Semua untuk Hindia, Iksaka Banu kembali mengaduk emosi lewat 13 cerpen berlatar Hindia Belanda dalam Teh dan Pengkhianat. Bukan sekadar deretan peristiwa kaku, dia menghidupkan potret masa lampau lewat detail-detail memikat: momen awal bumiputra mengayuh sepeda, teror pandemi cacar di tengah keterbatasan zaman, mewahnya sebuah globe, hingga rumitnya teknik manipulasi foto manual.
Lewat racikan sejarah nan begitu hidup, Iksaka Banu membujuk kita menyelami suka duka, harapan, dan pergulatan logika manusia nan terjebak di eranya.
Lalu gimana lembar demi lembar kitab ini merajut sisi kemanusiaan nan begitu menyentuh?

Profil Iksaka Banu – Penulis Buku Teh dan Pengkhianat
Iksaka Banu, nan lahir pada 7 Oktober 1964, merupakan seniman asal Indonesia nan dikenal melalui beragam karya kitab dan prosa nan dipublikasikan di sejumlah media massa. Ia termasuk salah satu sastrawan nan pernah menerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa melalui karyanya, Semua untuk Hindia, pada 2014. Selain itu, dia juga pernah meraih Penghargaan Pena Kencana pada 2008 dan 2009.
Iksaka Banu menempuh pendidikan di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ia sempat bekerja di bagian periklanan di Jakarta hingga 2006 sebelum kemudian memilih menjadi praktisi periklanan lepas. Ketertarikannya pada bumi menulis sudah muncul sejak masa kanak-kanak. Pada 1974 hingga 1976, dia beberapa kali mengirimkan tulisan ke rubrik Anak di Harian Angkatan Bersenjata. Tulisannya juga pernah dimuat di rubrik Anak Harian Kompas dan Majalah Kawanku.
Namun, aktivitas menulisnya sempat terhenti lantaran dia tertarik mencoba bumi melukis buku. Ketika tetap duduk di bangku sekolah menengah pertama, aktivitas tersebut membawanya mendapatkan kesempatan untuk membikin cerita bergambar berjudul Samba si Kelinci Perkasa nan dimuat di Majalah Ananda pada 1978.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Teh dan Pengkhianat
Pros & Cons
Pros
- Menghadirkan sejarah dari perspektif pandang nan berbeda.
- Mengangkat sisi kemanusiaan di kembali sejarah.
- Riset sejarah terasa kuat.
- Memiliki tema cerita nan beragam.
- Menyajikan cerita dengan alur sejarah nan berkesinambungan.
- Menyelipkan kritik dan refleksi moral.
Cons
- Sebagian cerita terasa terlalu singkat
Pros & Cons
Pros
- Menghadirkan sejarah dari perspektif pandang nan berbeda.
- Mengangkat sisi kemanusiaan di kembali sejarah.
- Riset sejarah terasa kuat.
- Memiliki tema cerita nan beragam.
- Menyajikan cerita dengan alur sejarah nan berkesinambungan.
- Menyelipkan kritik dan refleksi moral.
Cons
- Sebagian cerita terasa terlalu singkat
Kelebihan Buku Teh dan Pengkhianat
Buku Teh dan Pengkhianat menjadi karya Iksaka Banu nan lagi-lagi digandrungi banyak orang berkah kekuatan ceritanya nan bisa menyentuh banyak orang.
- Menghadirkan sejarah dari perspektif pandang nan berbeda
Salah satu daya tarik utama Teh dan Pengkhianat adalah penggunaan perspektif pandang tokoh Belanda dalam kisah berlatar kolonial. Pendekatan ini memberikan pengalaman membaca nan berbeda lantaran pembaca tidak hanya memandang masa kolonialisme dari sisi masyarakat bumiputra, tetapi juga diajak memahami pemikiran dan pergulatan manusia dari pihak penjajah. Cara pandang tersebut membikin persoalan kolonialisme terasa lebih kompleks dan tidak sekadar terbagi menjadi pihak nan sepenuhnya baik dan buruk.
- Mengangkat sisi kemanusiaan di kembali sejarah
Iksaka Banu tidak hanya menjadikan peristiwa sejarah sebagai latar cerita, tetapi juga menyoroti manusia nan hidup di dalamnya. Berbagai cerita memperlihatkan persoalan moral, pilihan hidup, pengorbanan, rasa bersalah, hingga keberpihakan terhadap kemanusiaan. Pendekatan tersebut membikin sejarah terasa lebih dekat lantaran pembaca diajak memandang gimana situasi pada masa kolonial mempengaruhi sikap dan keputusan seseorang.
- Riset sejarah terasa kuat
Detail mengenai latar waktu, tempat, tokoh, serta beragam peristiwa sejarah menjadi salah satu kekuatan kitab ini. Beberapa reviewer apalagi merasa terdorong untuk mencari tahu lebih jauh mengenai nama, tempat, dan peristiwa nan disebutkan setelah membaca cerpennya. Riset nan terasa serius tersebut membikin setiap cerita mempunyai konteks sejarah nan kuat sekaligus memberikan pengetahuan baru kepada pembaca.
- Memiliki tema cerita nan beragam
Meskipun seluruh cerita berada dalam latar sejarah kolonial, pembahasannya tidak terasa monoton lantaran Iksaka Banu mengeksplorasi beragam persoalan. Ada cerita nan berangkaian dengan wabah, perkembangan pengetahuan pengetahuan, masuknya teknologi baru, kehidupan sosial, hingga persoalan moral dan perjuangan. Keragaman tema tersebut membikin kumpulan cerpen ini tidak hanya berfokus pada peperangan alias bentrok fisik.
- Menyajikan cerita dengan alur sejarah nan berkesinambungan
Ketiga belas cerita dalam kitab ini membawa pembaca melewati rentang waktu nan cukup panjang, mulai dari masa kolonial hingga periode setelah Indonesia merdeka. Urutan tersebut membikin kitab terasa seperti rangkaian potongan perjalanan sejarah nan saling melengkapi. Pembaca pun dapat memandang perubahan situasi masyarakat dan hubungan antara orang Belanda dengan masyarakat bumiputra dari satu periode ke periode lainnya.
- Menyelipkan kritik dan refleksi moral
Selain memberikan gambaran tentang masa kolonial, Teh dan Pengkhianat juga membujuk pembaca mempertanyakan beragam persoalan tentang kekuasaan, ketidakadilan, fanatisme, superioritas, dan kemanusiaan. Kritik tersebut tidak selalu disampaikan secara langsung, tetapi datang melalui sikap dan pilihan para tokohnya. Karena itu, kitab ini tidak hanya memberikan pengetahuan sejarah, tetapi juga membuka ruang bagi pembaca untuk merenungkan gimana manusia bersikap ketika berhadapan dengan kekuasaan dan ketidakadilan.
Kekurangan Buku Teh dan Pengkhianat
Meskipun Teh dan Pengkhianat mempunyai banyak kelebihan nan membuatnya menarik, beberapa perihal nan bisa ditingkatkan lagi.
- Sebagian cerita terasa terlalu singkat
Sebagai kumpulan cerpen, beberapa cerita dalam kitab ini terasa sigap selesai sehingga pembaca nan sudah mulai menikmati sebuah kisah mungkin merasa belum mendapatkan eksplorasi nan lebih panjang terhadap tokoh maupun konfliknya.
Apa nan Terjadi di Indonesia pada Masa Kolonial?
Grameds, apakah kalian pernah membayangkan seperti apa kehidupan masyarakat Indonesia ketika berada di bawah pemerintahan kolonial? Masa kolonial bukan hanya berangkaian dengan peperangan dan perebutan wilayah saja, tetapi juga membawa perubahan besar dalam bagian ekonomi, sosial, politik, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat. Berbagai kebijakan nan diterapkan pemerintah kolonial kemudian membentuk kondisi masyarakat nan jejaknya tetap dapat dilihat dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Berikut beberapa perihal krusial nan terjadi di Indonesia selama masa kolonial:
- Eksploitasi Ekonomi dan Sistem Tanam Paksa
Salah satu tujuan utama kolonialisme adalah memperoleh untung dari kekayaan alam Nusantara. Pada masa VOC, Belanda menerapkan monopoli perdagangan terhadap beragam komoditas berharga. Setelah VOC dibubarkan, pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa alias Cultuurstelsel nan mewajibkan sebagian masyarakat menanam tanaman tertentu untuk kepentingan ekspor. Kopi, tebu, teh, dan beragam hasil bumi lainnya menjadi komoditas krusial nan memberikan untung besar bagi pemerintah kolonial. - Pembagian Kelas Sosial dan Diskriminasi
Kehidupan masyarakat pada masa Hindia Belanda juga dipengaruhi oleh sistem sosial nan membedakan masyarakat berasas golongan. Orang Eropa ditempatkan pada lapisan sosial tertinggi, sementara golongan nan disebut Timur Asing, seperti masyarakat Tionghoa dan Arab, berada di lapisan berikutnya. Masyarakat pribumi ditempatkan pada lapisan paling bawah. Pembagian tersebut turut mempengaruhi beragam aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, dan akses terhadap akomodasi tertentu. - Pembangunan Infrastruktur dan Transportasi
Pemerintah kolonial membangun beragam sarana transportasi seperti jalan raya, jalur kereta api, pelabuhan, dan akomodasi lainnya. Pembangunan tersebut memang membawa perubahan terhadap mobilitas masyarakat dan perkembangan wilayah, tetapi pada awalnya juga mempunyai kepentingan untuk memperlancar pergerakan militer serta pengangkutan hasil perkebunan dan komoditas dari wilayah produksi menuju pelabuhan. Salah satu pembangunan nan terkenal adalah Jalan Raya Pos nan membentang dari Anyer hingga Panarukan. - Munculnya Politik Etis dan Pendidikan
Memasuki awal abad ke-20, pemerintah Belanda mulai menjalankan Politik Etis nan dikenal melalui tiga program utama, ialah edukasi, irigasi, dan transmigrasi alias emigrasi. Perluasan pendidikan pada masa ini memang tetap terbatas dan tidak sepenuhnya ditujukan untuk pemerataan, tetapi kemudian membuka kesempatan bagi sebagian masyarakat pribumi untuk memperoleh pendidikan modern. Dari lingkungan pendidikan tersebut lahir kaum terpelajar nan nantinya berkedudukan dalam perkembangan kesadaran kebangsaan. - Perlawanan hingga Lahirnya Pergerakan Nasional
Penindasan dan beragam kebijakan kolonial memunculkan perlawanan dari masyarakat di beragam wilayah Nusantara. Perlawanan tersebut pada awalnya banyak dilakukan melalui perjuangan bersenjata dan dipimpin oleh tokoh-tokoh daerah. Memasuki abad ke-20, perjuangan mulai berkembang melalui organisasi, pendidikan, pers, dan aktivitas politik. Perubahan strategi tersebut menjadi salah satu bagian krusial dari tumbuhnya kesadaran nasional nan kemudian mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.
Masa kolonial dengan demikian merupakan periode nan penuh perubahan dan mempunyai banyak sisi untuk dipelajari. Di satu sisi terdapat eksploitasi, diskriminasi, dan beragam corak penindasan, tetapi di sisi lain beragam perubahan nan terjadi pada masa tersebut turut menjadi bagian dari proses panjang terbentuknya masyarakat modern dan kesadaran kebangsaan Indonesia. Dengan memahami sejarah secara lebih menyeluruh, Grameds dapat memandang bahwa perjalanan menuju kemerdekaan bukanlah proses nan singkat, melainkan hasil dari beragam pengalaman, perjuangan, dan perubahan nan berjalan selama berabad-abad.
Penutup
Teh dan Pengkhianat bukan sekadar kitab sejarah, melainkan cermin retak tempat kita memandang sungguh mahalnya nilai sebuah nurani dan kemanusiaan. Lewat 13 kisah nan menggeledah emosi, Iksaka Banu membuktikan bahwa masa lampau tidak pernah betul-betul mati—ia terus berbisik, mengingatkan kita pada luka, pengorbanan, dan keputusan-keputusan moral nan membentuk siapa kita hari ini.
Jangan biarkan kisah-kisah luar biasa ini hanya terkubur dalam lipatan waktu! Selami dilemanya, rasakan setiap debar penderitaannya, dan temukan jawaban atas makna kemanusiaanmu sendiri. Miliki kitab Teh dan Pengkhianat sekarang juga, hanya di Gramedia.com. Mari terus melangkah, melintasi zaman, dan #TumbuhBermakna berbareng bacaan-bacaan nan menggetarkan jiwa! Selamat menyelami sejarah, Grameds!
Rekomendasi Buku
Sang Raja


Di era ketika penduduk bumiputra tetap dianggap sebagai penduduk negara kelas tiga, Wirosoeseno, Jawa tulen, dan Filipus Rechterhand, Belanda totok, pergi berkelana dan mendamparkan diri ke kota Kudus. Nasib mempertemukan mereka di sebuah pabrik rokok keretek besar nan mempekerjakan ribuan buruh.
Di sana mereka menempa diri dan jatuh bangun berbareng di tengah intrik politik, gebalau zaman, serta gelegar perang kemerdekaan. Mereka juga menjadi saksi kejayaan seorang priayi rendah, nan dikenal dan dihormati sebagai ‘De Koning’, Sang Raja Rokok Keretek, Nitisemito. Berbekal kerja keras, semangat pantang menyerah, dan kepintaran pemasaran nan melampaui zaman, Nitisemito sukses mengubah hidupnya dari seorang mantan kusir dokar menjadi orang terkemuka di zamannya. Pengalaman hidupnya layak jadi ilham dan panutan bagi berlapis generasi sesudahnya.
Rasina


Tahun 1755. Menjelang kebangkrutan VOC, imperium jual beli terbesar di dunia, Jan Aldemaar Staalhart dan Joost Borstveld, sepasang petugas hukum, menemukan diri mereka terseret pusaran arus besar penyelundupan budak dan opium, nan melibatkan sejumlah orang krusial di Batavia-Ommelanden.
Rasina adalah seorang budak bisu nan leluhurnya menjadi korban pembantaian massal oleh Jan Pieterszoon Coen saat VOC berupaya membangun monopoli perdagangan pala di Banda pada tahun 1621. Sebagai pelayan rumah tangga sekaligus budak nafsu tuannya, Rasina menjadi saksi hidup banyak perihal tak terduga nan membikin jiwanya terancam. Perjumpaannya dengan Staalhart serta Joost Borstveld membikin keadaan menjadi semakin rumit, berbahaya, sekaligus membawa angan baru.
Sungging


Mengambil latar sejarah peralihan dari keruntuhan Kerajaan Singhasari ke berdirinya Kerajaan Majapahit, Sungging menceritakan peran krusial seorang prabhangkara (seniman-perupa) sekaligus pendekar berjulukan Sungging. Ia menjadi orang nan paling diburu oleh Kasajaten Kalamura, perkumpulan rahasia nan didukung oleh Gajah Mada, lantaran menguasai pengetahuan Kitab Begawan Ksatria. Bagaimana dia bisa menguasai pengetahuan dari kitab nan dinyatakan lenyap dan terus-menerus dicari itu? Bagaimana pula dia bisa menandingi Mahapatih Majapahit nan juga menguasai pengetahuan dari kitab nan sama?
11 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·