Laiqa: Kresek Hitam – Halo, Grameds! Kalau Anda sedang mencari novel Islami dengan bentrok nan kompleks, Laiqa: Kresek Hitam karya Honey Dee bisa jadi referensi nan wajib masuk wishlist-mu.
Novel ini nggak hanya membahas proses hijrah dan pencarian jati diri, tetapi juga mengangkat rumor sensitif seperti toxic family, kekerasan seksual, penyalahgunaan agama, hingga gimana korban seringkali justru disalahkan oleh lingkungan sekitarnya.
Sebelum memutuskan untuk membaca novel ini, yuk simak dulu ulasan lengkapnya, Grameds!
Sinopsis Buku Laiqa: Kresek Hitam


Maera pikir, masuk pondok rehabilitasi merupakan balasan terbaik atas pelunasan dosa-dosa masa lalunya. Ternyata, balasan nan sesungguhnya didapat setelah dia keluar dari sana.
Dia kehilangan kerabat dan teman, di-DO dari kampus, dan nan jauh lebih buruk, tak lagi dipercaya kedua orangtuanya. Ketika Maera berupaya menata ulang kehidupannya, orang-orang nan dia minta bisa menolong malah berbalik menghancurkannya.
Apakah beban nan terlampau berat ini bisa dihadapi Maera di usianya nan baru sembilan belas? Haruskah hidupnya berhujung ibaratkan kresek hitam nan bakal disingkirkan oleh keluarganya?
Tentang Penulis Buku Laiqa: Kresek Hitam
Honey Dee merupakan penulis asal Indonesia nan dikenal aktif menulis novel fiksi di beragam platform, termasuk Wattpad dan media sosial pribadinya. Novel Laiqa: Kresek Hitam menjadi salah satu karya nan memperlihatkan style penulisannya nan emosional dan dekat dengan kehidupan remaja.
Sebagai penulis, dia telah menerbitkan cukup banyak karya populer, di antaranya Rooftop Buddies, Finn, Bangku Pojok, The In Between 1 & 2, Unbroken Vow, Our Tangled Vow, Evelyne, Balada Sayap Pernikahan, Jinxed Land, Finding Our True Identity, Little Love, hingga Nasty Glacie. Selain itu, dia juga mempunyai beberapa karya nan diterbitkan secara berdikari seperti Twisted Serenade dan A Redemption.
Bagi Honey Dee, menulis bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga langkah untuk meninggalkan jejak dalam kehidupan. Ia pernah mengungkapkan bahwa tulisan menjadi “horcrux” alias bagian dari dirinya nan bakal terus hidup dan memberi pengaruh, apalagi ketika dirinya sudah tiada. Karena itulah, karya-karyanya sering terasa personal, emosional, dan penuh pesan kehidupan.
Penulis nan mempunyai nama original Hanny Dewanti ini juga berkawan disapa Mak Oney oleh para pembacanya. Selain aktif sebagai novelis, dia dikenal sebagai mentor menulis aliran fiksi nan produktif. Bahkan pada tahun 2016 hingga pertengahan 2017, Honey Dee sukses menghasilkan lebih dari 20 kitab antologi serta ratusan tulisan lainnya.
Grameds nan mau mengenal Honey Dee lebih dekat juga bisa mengikuti akun media sosialnya di Instagram, Twitter, dan Wattpad dengan nama pengguna @honeydeel710.
Ketika Korban Justru Disalahkan
Salah satu perihal paling menyakitkan dari Laiqa: Kresek Hitam adalah gimana novel ini menggambarkan posisi korban kekerasan seksual nan justru sering disalahkan oleh lingkungan sekitar. Maera, nan sebenarnya menjadi korban, malah dianggap membawa kejelekan bagi family lantaran masa lalunya sebagai mantan pengguna narkoba.
Novel ini memperlihatkan gimana masyarakat sering lebih mudah percaya pada sosok nan terlihat religius dibanding mendengarkan bunyi korban. Mahisa digambarkan sebagai hafiz Al-Qur’an dan laki-laki dengan gambaran baik, sehingga banyak orang susah percaya bahwa dia bisa melakukan kejahatan.
Lewat bentrok tersebut, pembaca diajak memandang bahwa penampilan religius seseorang nggak selalu mencerminkan akhlaknya.
Trauma dan Perjuangan Mencari Keadilan
Novel ini juga memperlihatkan perjuangan korban kekerasan seksual dalam mencari keadilan. Setelah mengalami kejadian traumatis, Maera nggak langsung mendapatkan support dari keluarganya. Sebaliknya, dia kudu menghadapi tekanan, cibiran, apalagi dipaksa menikah dengan pelaku demi menutupi kejelekan keluarga.
Situasi tersebut membikin cerita terasa emosional dan menyakitkan untuk diikuti. Pembaca bisa merasakan gimana hancurnya bumi Maera ketika orang-orang nan semestinya melindunginya justru memilih menjaga nama baik family dibanding memihak korban.
Tema ini menjadi salah satu bagian paling kuat dalam novel lantaran menggambarkan realita nan tetap sering terjadi hingga sekarang.
Kritik terhadap Kemunafikan dan Citra Religius
Grameds, Kresek Hitam juga menyampaikan kritik sosial tentang orang-orang nan terlihat religius di luar, tetapi mempunyai perilaku jelek dalam kehidupan nyata.
Mahisa digambarkan sebagai sosok penghafal Al-Qur’an dan dianggap sempurna oleh banyak orang. Namun, di kembali gambaran tersebut, dia justru melakukan tindakan biadab terhadap Maera. Hal inilah nan membikin pembaca merasa marah sekaligus frustrasi selama mengikuti cerita.
Novel ini seolah mau menunjukkan bahwa kepercayaan bukan hanya soal mahfuz alias penampilan luar, tetapi juga tentang adab dan langkah memperlakukan orang lain, terutama family dan sesama manusia.
Hubungan Keluarga nan Penuh Tekanan
Selain membahas kekerasan seksual, novel ini juga menyoroti hubungan family nan toxic dan penuh tekanan. Maera digambarkan hidup di family nan lebih mementingkan nama baik, jabatan, dan gambaran dibanding kondisi anak mereka sendiri.
Kutipan berikut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam novel:
“Abah menutup semua kebusukan dalam rumah kita demi nama baik, demi partai, demi embel-embel umat nan sebenarnya hanya lantaran Abah takut kehilangan kursi.”
Lewat bentrok tersebut, pembaca diperlihatkan gimana ambisi dan obsesi terhadap gambaran baik bisa menghancurkan hubungan keluarga. Novel ini juga menunjukkan bahwa luka dari family sering kali menjadi luka paling dalam bagi seseorang.
Perjalanan Hijrah dan Harapan untuk Bangkit
Meski membawa tema nan berat, Kresek Hitam tetap menghadirkan pesan tentang angan dan proses bangkit dari keterpurukan. Maera digambarkan sebagai karakter nan terus mencoba memperkuat meskipun hidupnya terasa hancur dari beragam arah.
Novel ini mengajarkan bahwa seseorang tetap mempunyai kesempatan untuk berubah dan memperbaiki hidupnya, meskipun pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Pesan tentang jangan berputus asa terhadap rahmat Allah juga terasa sangat kuat sepanjang cerita.
Karena itu, Laiqa: Kresek Hitam nggak hanya menghadirkan bentrok emosional, tetapi juga memberikan semangat tentang pentingnya bertahan, percaya kepada Allah, dan terus mencari jalan keluar di tengah kesulitan hidup.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Laiqa: Kresek Hitam
Pros & Cons
Pros
- Mengangkat rumor sensitif.
- Emosi cerita kuat dan menyentuh.
- Karakter Maera terasa realistis.
- Banyak pesan moral.
- Latar Samarinda terasa hidup.
- Tempo cerita nyaman diikuti.
Cons
- Tema cerita cukup berat.
- Beberapa bagian terasa menggurui.
- Karakter pendukung kurang dieksplor.
- Penyelesaian bentrok kurang detail.
- Ada perincian sensitif bagi sebagian pembaca.
Berikut adalah kelebihan dan kekurangan buku:
Kelebihan Novel Laiqa: Kresek Hitam
1. Berani Mengangkat Isu Sensitif
Novel ini membahas banyak rumor sensitif nan dekat dengan kehidupan nyata, seperti kekerasan seksual, toxic family, penyalahgunaan agama, hingga korban nan justru disalahkan. Cara penyampaiannya terasa realistis dan bisa membikin pembaca ikut merasakan emosi para tokohnya.
2. Emosi Cerita Sangat Kuat
Alur cerita sukses membikin pembaca merasa marah, sedih, kesal, cemas, hingga terharu dalam waktu bersamaan. Penggunaan POV orang pertama dari perspektif pandang Maera juga membikin emosi dan trauma tokoh utama terasa lebih dekat dan menyentuh.
3. Karakter Maera Terasa Manusiawi
Karakterisasi Maera terasa realistis sebagai remaja nan sedang berada di titik terendah hidupnya. Respons, kemarahan, dan kekecewaannya terhadap family maupun lingkungan terasa natural sehingga mudah dipahami pembaca.
4. Pesan Moral dan Religi nan Kuat
Novel ini menyampaikan banyak pesan tentang hijrah, keadilan, keikhlasan, dan pentingnya tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Pembahasannya juga mengingatkan bahwa simbol kepercayaan nggak selalu mencerminkan adab seseorang.
5. Latar Samarinda Terasa Hidup
Penggunaan latar Samarinda serta perbincangan bahasa Banjar membikin cerita terasa lebih autentik dan hidup. Detail-detail mini seperti penggunaan bahasa wilayah menambah kedekatan pembaca dengan suasana cerita.
6. Memberikan Edukasi tentang Kekerasan Seksual
Novel ini juga memberikan gambaran tentang langkah awal nan bisa dilakukan korban kekerasan seksual untuk mencari support dan mengumpulkan bukti. Hal tersebut menjadi nilai tambah lantaran jarang dibahas perincian dalam novel remaja Islami.
7. Tempo Cerita Konsisten dan Menarik
Meski bentrok nan dibawa cukup berat, tempo cerita terasa pas dan tetap nyaman diikuti. Alurnya nggak terlalu sigap maupun terlalu lambat sehingga pembaca tetap penasaran mengikuti perjalanan Maera.
Kekurangan Novel Laiqa: Kresek Hitam
1. Tema Cerita Cukup Berat
Karena mengangkat rumor kekerasan seksual, trauma, dan toxic family, novel ini bisa terasa cukup menguras emosi bagi sebagian pembaca. Ada beberapa segmen nan mungkin membikin pembaca merasa nggak nyaman saat membaca.
2. Beberapa Bagian Terasa Menggurui
Di beberapa momen, penyampaian pesan religi terasa cukup langsung sehingga ada bagian nan terasa seperti penulis sedang berceramah kepada pembaca.
3. Porsi Beberapa Karakter Pendukung Kurang Dieksplor
Ada beberapa karakter sampingan nan sebenarnya menarik, tetapi porsinya terasa kurang dieksplor lebih jauh sehingga perkembangan konfliknya terasa belum maksimal.
4. Ganjaran untuk Tokoh Pengkhianat Kurang Detail
Konsekuensi nan diterima beberapa tokoh antagonis terasa kurang diperlihatkan secara perincian sehingga sebagian pembaca mungkin merasa penyelesaiannya tetap kurang memuaskan.
5. Ada Penyebutan Detail nan Sensitif
Beberapa bagian cerita menyebut perincian tertentu mengenai tindakan pidana nan mungkin terasa kurang nyaman alias sensitif bagi sebagian pembaca.
Kesimpulan
Grameds, lewat kisah Maera, Laiqa: Kresek Hitam menunjukkan gimana luka dari keluarga, pengkhianatan, dan ketidakadilan bisa menghancurkan diri seseorang.
Novel ini terasa kuat lantaran nggak hanya menghadirkan bentrok nan realistis, tetapi juga berani membahas isu-isu sensitif nan dekat dengan kehidupan nyata.
Pesan tentang jangan mudah menghakimi seseorang, pentingnya adab dibanding gambaran religius, hingga perjuangan korban mencari keadilan terasa membekas meskipun setelah selesai membaca.
Penulis: Yulian Dwi Nugroho
Rekomendasi Buku Terkait
Laiqa: Hijrah Kayra – Fiatuzzahro


“Karena cinta nan sebenarnya cinta, hanya nan mendekatkan kita kepada nan Mahacinta.”
Menurutku, hidup tak lebih dari melakukan apa nan kita suka tanpa kudu memikirkan omongan nyinyir orang di luar sana. Tetapi, sebuah kasih sayang lembut bisa mengeluarkanku dari prinsip itu. Tadinya hanya berupa hal-hal pahit nan menyakitkan. Hal-hal rumit nan menyesakkan. Dan baru kusadari, kasih sayang tak selalu tentang perihal manis. Inilah perjalanan hijrahku nan tak mudah…. Kupersembahkan kepada kalian nan sedang istiqomah….
Laiqa: Lari Dari Pesantren – Andri Saptono


Apa kalian tidak jenuh terus-terusan dikurung di Pondok Al-Ikhlas ini? Mau begini tidak boleh! Mau begitu tidak boleh! Ustaznya galak! Pelajarannya bikin ngantuk. Sudah begitu makanannya itu-itu saja! Menunya membosankan semua! Kalian kudu cari pengalaman di luar. Lihat kehidupan di luar tembok pondok! Kalian tetap muda! Lihat tuh di luar anak-anak bermain sebebas-bebasnya. Pergi ke mana mereka suka. Apa kalian tidak iri? Albar dan Ilyas lari dari tempat mereka menimba ilmu. Rencananya hanya satu hari. Tapi, tak disangka menjadi nyaris satu bulan! Banyak peristiwa di luar dugaan nan mereka temukan. Seperti apa Albar dan Ilyas menghadapi realita di luar sana?
Laiqa: Wedding Agreement – Mia Chuz


Tak lama setelah pernikahannya, Tari disodori lembaran kertas oleh Bian, suaminya.
“Apa ini?”
“Kesepakatan pernikahan selama kita menikah.”
“Aku tetap belum mengerti.”
“Sejak awal saya memang berencana untuk berpisah setelah satu tahun menikah. Mungkin Anda belum tahu jika saya sudah bertukar cincin sebelumnya.”
Tari menatap suaminya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia menikahi laki-laki seperti itu? Suaminya berencana menikah dengan wanita lain setelah menceraikannya. Ia hanya punya waktu satu tahun untuk menjalani pernikahan ini. Apakah ada nan lebih jelek daripada itu?
Laiqa: Runway to Heaven – Hengki Kumayandi


Dari waktu ke waktu, saya tak pernah menemukan makna kebahagiaan. Selalu berlari secepat angin dari masalah satu ke masalah lainnya. Namaku Tama Janowitz. Karena bentrok di tanah kelahiran, saya dan adikku Alicia kudu pergi ke sebuah negeri nan tak pernah kami tahu sebelumnya. Petualangan demi petualangan kami dapatkan. Bahkan saya sampai masuk ke penjara dan terpisah dari adikku tersayang, Alicia. Semua nan kulakukan hanya satu. Menemukan Alicia, meyakinkannya bahwa saya kakaknya, dan menjaganya seumur hidup. Sehingga, suatu saat nanti, aku, Alicia, dan Mama bisa berkumpul di surga-Nya.
Laiqa: The Special Boy – Husain Suitaatmadja


Terlahir sebagai anak spesial, Aubin berupaya maksimal terhadap semua potensi nan dia punya. Berbisnis sedari muda, hingga dia menemukan passion-nya; berkarier sebagai pekerja sosial. Bagaimana Aubin meyakinkan lingkungan sekitarnya bahwa ketidaknormalannya justru membikin dia spesial?
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·