Review Buku Kumpulan Budak Setan

Sedang Trending 55 menit yang lalu

kumpulan budak setan – Ada nan salah dengan bumi nan kita anggap normal. Di kembali jimat, susuk, dan jeritan gaib, ada sejarah kelam dan politik kotor nan diam-diam menagih jiwa.

Lewat antologi Kumpulan Budak Setan, Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad membongkar ulang warisan horor Abdullah Harahap menjadi teror nan ganjil dan menusuk. Berani menatap sisi paling gelap dari diri manusia, Grameds? Langsung intip ulasannya di bawah ini.

Sinopsis Buku Kumpulan Budak Setan

“Ternyata darah tidak semerah nan kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah…”

Horor sejatinya tidak pernah betul-betul tentang hantu nan melayang di kegelapan. Horor adalah ketika realitas nan Anda percayai perlahan retak, membusuk, dan berubah menjadi mimpi jelek nan nyata.

Dalam antologi Kumpulan Budak Setan, Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad membongkar ulang warisan seram legendaris Abdullah Harahap dari era 70–80-an. Dua belas cerita di dalamnya menyelami lorong-lorong tergelap manusia: jimat nan menagih jiwa, susuk nan menggerogoti penderitaan, topeng gaib, seksualitas nan menyimpang, hingga dendam bertinta darah.

Namun, teror paling mengerikan tidak datang dari bentuk nan tak kasat mata. Ia merayap lewat ketidakejujuran nan terdengar manis, dogma politik nan meracuni pikiran, hingga orang-orang terdekat nan diam-diam memelihara setan di dalam dadanya.

Ketika realita tak lagi bisa dibedakan dari kutukan… adakah nan lebih mengerikan dari setan nan berbicara benar?

Profil Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad  – Penulis Buku Kumpulan Budak Setan

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan merupakan salah satu sastrawan Indonesia nan dikenal luas hingga mancanegara. Lahir di Tasikmalaya pada 28 November 1975, dia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Nama Eka semakin dikenal melalui novel-novel fenomenalnya seperti Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan O. Selain menulis novel, dia juga menghasilkan kumpulan cerpen, esai sastra, naskah film, hingga novel grafis. Berkat karya-karyanya nan diterjemahkan ke beragam bahasa, Eka Kurniawan menjadi salah satu penulis Indonesia nan paling berpengaruh di kancah internasional.

Intan Paramaditha

Intan Paramaditha adalah penulis sekaligus akademisi nan banyak mengangkat tema horor, gender, seksualitas, dan budaya dalam karya-karyanya. Lahir di Bandung pada 15 November 1979, dia dikenal melalui kumpulan cerpen Sihir Perempuan nan masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award. Bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad, dia turut menulis Kumpulan Budak Setan sebagai penghormatan terhadap karya Abdullah Harahap. Novel interaktifnya nan berjudul Gentayangan juga meraih penghargaan sebagai karya prosa terbaik pilihan Tempo tahun 2017. Saat ini Intan mengajar Kajian Media dan Film di Macquarie University, Sydney.

Ugoran Prasad

Ugoran Prasad merupakan penulis, dramaturg, sekaligus musisi asal Tanjungkarang nan lahir pada 6 Oktober 1978. Ia mulai dikenal setelah meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas berkah karya berjudul Ripin. Selain aktif menulis novel dan cerita pendek, Ugoran juga banyak berkarya di bumi teater melalui Teater Garasi serta menjadi penulis lirik untuk grup musik Melancholic Bitch. Lulusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada ini juga melanjutkan studi dan riset teater di beragam universitas luar negeri, menjadikannya salah satu sosok krusial dalam perkembangan sastra dan seni pagelaran Indonesia.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Kumpulan Budak Setan

Pros & Cons

Pros

  • Horor nan sarat makna sosial.
  • Setiap penulis mempunyai karakter nan kuat.
  • Cerita pendek nan berkesan.
  • Penuh dengan buahpikiran cerita nan kreatif.
  • Memberikan ruang refleksi.

Cons

  • Unsur dewasa nan cukup dominan

Kelebihan Buku Kumpulan Budak Setan

Buku Kumpulan Budak Setan  merupakan karya internasional nan direkomendasikan lantaran menyajikan beragam kelebihan sebagai berikut.

  • Horor nan sarat makna sosial 

Kumpulan Budak Setan tidak hanya menghadirkan kisah-kisah tentang hantu alias makhluk gaib saja, tetapi juga menyisipkan kritik terhadap realitas sosial, ketidakadilan, hingga sisi gelap manusia. Sejalan dengan pendapat dalam kata pengantarnya, seram di kitab ini menjadi media untuk mempertanyakan tatanan nan selama ini dianggap normal. Karena itulah, cerita-ceritanya terasa lebih relevan dan membekas.

  • Setiap penulis mempunyai karakter nan kuat

Salah satu daya tarik utama kitab ini adalah style bercerita nan berbeda dari masing-masing penulis. Eka Kurniawan menghadirkan kisah misterius nan dekat dengan kritik sosial dan moral, Intan Paramaditha menawarkan seram bernuansa feminisme serta mitologi nan unik, sedangkan Ugoran Prasad menyuguhkan cerita paling kelam dengan atmosfer nan sadis dan penuh ketegangan. Perbedaan karakter tersebut membikin pengalaman membaca tetap terasa segar dari awal hingga akhir.

  • Cerita pendek nan berkesan

Meskipun setiap cerita dalam kitab ini terbilang relatif singkat, sebagian besar cerpen tetap bisa untuk meninggalkan kesan nan mendalam setelah selesai dibaca. Beberapa kisah apalagi menghadirkan akhir nan mengejutkan dan mengundang pembaca untuk menafsirkan maknanya sendiri.

  • Penuh dengan buahpikiran cerita nan kreatif

Banyak pembaca mengapresiasi produktivitas para penulis dalam mengolah cerita. Intan Paramaditha, misalnya, memadukan legenda, tokoh dongeng, hingga kisah religius menjadi narasi seram nan terasa baru. Di sisi lain, Ugoran Prasad menawarkan premis-premis ekstrem nan susah ditebak, sementara Eka Kurniawan sukses menyelipkan refleksi sosial di kembali kisah-kisah mistisnya. Hasilnya adalah kumpulan cerita nan kaya dan penuh dengan khayalan nan tidak mudah untuk dilupakan.

  • Memberikan ruang refleksi

Di kembali unsur horornya, kitab ini tetap membujuk pembaca untuk merenungkan beragam persoalan seperti kekuasaan, ketertindasan, balas dendam, kepercayaan, hingga pemisah antara manusia dan kejahatan. Beberapa cerita apalagi memunculkan rasa iba, sedih, alias getir dibandingkan rasa takut. Perpaduan emosi tersebut membikin pengalaman membaca terasa lebih dalam dan bermakna.

Kekurangan Buku Kumpulan Budak Setan

Meskipun Buku The Kumpulan Budak Setan  menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca. 

  • Unsur dewasa nan cukup dominan
    Beberapa cerpen memuat segmen kekerasan, seksualitas, kanibalisme, maupun pembunuhan nan digambarkan secara eksplisit. Meskipun unsur tersebut mendukung tema cerita, isi kitab ini mungkin kurang sesuai bagi pembaca nan lebih menyukai seram ringan alias sensasi seram nan tidak terlalu intens. 

Abdullah Harahap, Sang Legenda Horor Indonesia

Sebelumnya Gramin sudah sempat menyebut nama Abdullah Harahap sebagai sosok nan menginspirasi lahirnya Kumpulan Budak Setan. Namun, apakah Grameds sudah mengenal siapa sebenarnya Abdullah Harahap? Mengapa karya-karyanya begitu berpengaruh hingga menginspirasi tiga penulis besar seperti Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad untuk menghidupkannya kembali dalam sebuah antologi horor? Yuk, kenali lebih dekat sosok penulis nan dijuluki sebagai salah satu legenda seram Indonesia ini.

Genre seram telah lama menjadi salah satu jenis referensi favorit masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, kisah-kisah menyeramkan datang melalui novel, cerita pendek, sandiwara radio, hingga movie layar lebar. Memasuki era digital, cerita seram semakin mudah ditemukan dalam beragam format, mulai dari video YouTube, podcast, wawancara dengan narasumber nan mengaku mempunyai pengalaman mistis, hingga konten penelusuran letak nan dikenal angker. Popularitas seram nan terus memperkuat menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedekatan tersendiri dengan cerita-cerita bernuansa misteri.

Di kembali perkembangan sastra seram Indonesia, terdapat nama Abdullah Harahap nan mempunyai peran penting. Penulis kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, pada 17 Juli 1943 ini sebenarnya tidak hanya dikenal lewat novel horor, tetapi juga aktif menulis kisah-kisah roman. Minatnya terhadap bumi kepenulisan sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah menengah di Medan pada era 1960-an. Kala itu, beragam cerpen dan puisinya mulai diterbitkan di media cetak lokal. Setelah melanjutkan pendidikan di IKIP Bandung, dia tetap menekuni bumi menulis hingga karyanya semakin banyak menghiasi beragam penerbitan.

Selain menjadi novelis, Abdullah Harahap juga meniti pekerjaan sebagai wartawan selama kurang lebih 25 tahun. Pengalamannya sebagai wartawan memberinya kesempatan untuk mengumpulkan beragam kisah nan berkembang di masyarakat, termasuk cerita-cerita misterius dari beragam daerah. Berbekal hasil riset tersebut, dia kemudian mengolahnya menjadi novel-novel seram nan dekat dengan budaya dan kepercayaan masyarakat Indonesia.

Keberhasilan karya-karyanya juga didukung oleh strategi pemasaran nan membikin novel-novelnya mudah dijangkau pembaca. Pada masanya, buku-buku Abdullah Harahap tidak hanya tersedia di toko buku, tetapi juga dijual di gerai koran, lapak kitab kaki lima, hingga beragam wilayah pelosok. Kehadirannya sering berdampingan dengan novel terkenal lain seperti karya Bastian Tito, kitab teka-teki silang, hingga buku-buku keagamaan. Cara pengedaran tersebut membikin namanya dikenal luas oleh beragam kalangan pembaca.

Popularitas Abdullah Harahap akhirnya menarik perhatian industri perfilman Indonesia. Sejumlah novelnya diadaptasi menjadi movie sepanjang dasawarsa 1970-an hingga 1980-an. Pada awalnya, karya nan diangkat ke layar lebar didominasi novel bergenre roman. Memasuki akhir 1980-an, giliran novel-novel horornya nan mulai diadaptasi, salah satunya adalah Lukisan Berlumur Darah nan dibintangi Yurike Prastika. Hingga kini, Abdullah Harahap tetap dikenang sebagai salah satu penulis nan berkedudukan besar dalam membentuk perkembangan sastra seram terkenal di Indonesia.

Penutup

Buku Kumpulan Budak Setan menjadi pilihan referensi tepat bagi Grameds nan menyukai cerita seram dengan makna nan dalam. Melalui perpaduan unsur mistis, kritik sosial, hingga sisi gelap manusia Jika Grameds mau menikmati seram Indonesia dengan perspektif pandang nan berbeda, kitab ini layak masuk ke dalam daftar referensi berikutnya.

Buku Kumpulan Budak Setan karya Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Rekomendasi Buku

Mukena Mendiang

Mukena Mendiang

button cek gramedia com

Zara Quinsy. Wanita berumur tiga puluh tahun nan capek hidup dalam keterbatasan, terobsesi pada kekayaan mutlak. Obsesinya mencapai titik didih.

Jalan nan dia tempuh adalah dengan menjadi peruqyah.

Ambisi terbesarnya, mendirikan Rumah Ayat, sebuah lembaga kesehatan syar’i menyerupai rumah sakit. Meskipun dicap separuh gila oleh banyak orang, metodenya menghasilkan keajaiban nan menggemparkan. Zara sukses membikin si bisu bicara dan si lumpuh berjalan.

Lockwood & Co#3: Pemuda Berongga (The Hollow Boy) 

Lockwood & Co#3: Pemuda Berongga (The Hollow Boy)

button cek gramedia com

Hantu di loteng? Arwah gentayangan di kamar? Jangan takut––ada Lockwood & Co.!

Anthony penuh pesona, George banyak akal, dan Lucy dinamis, sementara si tengkorak giat melontarkan komentar-komentar sinis. Setelah Anthony buka-bukaan tentang masa kecilnya, suasana di antara mereka jadi lebih cair, dan Lucy semakin nyaman di Portland Row. Karena itu dia terkejut ketika George memperkenalkannya pada Holly Munro, asisten baru nan super efisien dan terlalu lincah sehingga menyebalkan.

Creepy Case Club 7: Kasus Indra Ketujuh

 Kasus Indra Ketujuh

button cek gramedia com

Di saat semuanya mulai membaik, terjadilah sesuatu nan ganjil.

Setelah mulai terbiasa hidup dengan indra keenamnya, Parva, seorang anak indigo, tiba-tiba tidak lagi bisa memandang hantu. Bukan itu saja, satu per satu, indranya nan lain juga mulai terganggu. Puncaknya, sebuah wajah asing membuntuti Parva ke mana-mana. Apa nan sedang terjadi? Apakah kekacauan ini ada hubungannya dengan Sabai, kawan barunya nan misterius di SMP?

Atau, apakah ini kunci untuk mengungkap sebuah rahasia nan lebih besar?

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia