Review Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica karya Bre Redana

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica – Tiba-tiba Bre Redana diminta berasosiasi dalam tim penulisan sejarah perkembangan sebuah kotamadya tempat dia pernah menetap. Ia mendapat tugas menulis tentang Pangeran Benawa, sosok nan konon kisahnya semakin jarang dikenal, terutama oleh generasi muda di kota itu.

“Hampir tak ada nan betul-betul memahami tokoh tersebut,” Begitu kata pesan nan dia terima.

“Tulis apa saja, hanya Anda nan bisa melakukannya. Bahkan, sekalipun kudu mengarang, tidak masalah.” Tambah pesan itu.

Begitulah pembuka cerpen Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica, karya Bre Redana, nan sekaligus menjadi titel kumpulan cerpen ini. Seluruh cerita di dalam kitab ditulis pada tahun 2020, di tengah masa pandemi.

Bre Redana menyebut bahwa publikasi kitab ini lahir dari keinginannya berbagi cerita dengan teman-teman, sebagai langkah melawan kebosanan dalam bumi nan dia rasakan seperti berada di periode separuh kiamat. Setiap kali sebuah cerita selesai ditulis, dia bakal mengirimkannya kepada teman-teman dekat nan bersedia membaca.

Dalam epilog, Linda Christanty menuliskan bahwa membaca karya-karya Bre terasa seperti berdiri di antara masa lampau nan terus memanggil dan masa sekarang nan tak berakhir bergerak menuju masa depan.

Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya karya Bre Redana diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 23 Januari 2026 dengan ketebalan 112 halaman. Sinopsis beserta ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan kumpulan cerpen ini dapat Grameds simak di bawah. Jangan sampai melewatkan info menariknya, ya!

Profil Bre Redana – Penulis Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya

Bre Redana lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada tahun 1957. Ia merupakan lulusan Universitas Kristen Satya Wacana dan memulai pekerjaan sebagai wartawan Harian Kompas sejak tahun 1982 hingga 2017. Setelah memasuki masa pensiun, dia tetap aktif menulis, terutama karya-karya novel.

Bagi Bre, ingatan manusia tidak cukup hanya diisi oleh buletin alias kebenaran semata. Kehidupan terbentuk melalui proses nan jauh lebih rumit, melibatkan dongeng, mitologi, imajinasi, fiksi, hingga esai. Karena itulah, novel dianggap bisa membuka kemungkinan-kemungkinan lain dalam memahami hidup. Jika dulu dia merasa menjadi penyampai berita, sekarang dia memilih melangkah sebagai penyampai cerita. Saat ini, Bre menetap di area Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Beberapa titel kitab nan pernah ditulisnya antara lain Politik Tubuh, Koran Kami with Lucy in the Sky, Majapahit Milenia, Karmacinta, dan sejumlah karya lainnya.

Sinopsis Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya

button cek gramedia com

Bagi Bre Redana, menulis dan membaca mempunyai makna nan serupa dengan olahraga bagi tubuh, ialah sebagai langkah melatih sekaligus menghidupkan daya pikir dan imajinasi. Dari proses itulah lahir kumpulan cerita Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya, nan ditulis selama masa isolasi sosial akibat pandemi Covid-19. Cerita-cerita dalam kitab ini menjadi ruang bagi penulis untuk terus menjaga pikiran tetap bergerak di tengah bumi nan sedang diliputi ketidakpastian.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya

Pros & Cons

Pros

  • Menarik garis antara masa lampau dan masa ini.
  • Sarat makna dan renungan.
  • Sudut pandang modern.
  • Emosi nan mendalam.
  • Gaya bercerita nan mengalir.
  • Dapat dibaca dalam sekali duduk.

Cons

  • Bacaan nan cukup berat.
  • Alur maju dan mundur.

Kelebihan Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya

Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya karya Bre Redana merupakan novel fiksi nan menyajikan premis tentang kehilangan dan duka. Suatu cerita nan pasti bisa menyentuh hati dan memori tertentu, nan pasti pernah dialami setiap pembaca.

  • Menarik garis antara masa lampau dan masa ini

Cerita-cerita dalam kitab ini seolah membawa pembaca melangkah di antara jejak masa lampau dan kehidupan modern nan terus bergerak maju. Nuansa tersebut membikin kisah terasa reflektif sekaligus penuh makna, seperti nan juga disampaikan oleh Linda Christanty dalam komentarnya mengenai karya Bre Redana.

  • Sarat makna dan renungan

Cerpen-cerpen di dalam kitab ini tidak hanya bercerita, tetapi juga membujuk pembaca merenungkan hubungan antara sejarah, budaya Jawa, dan kehidupan masa kini. Unsur filosofis nan disisipkan membikin cerita terasa lebih dalam dan berlapis.

  • Sudut pandang modern

Bre Redana bisa menghidupkan kembali bagian sejarah melalui perspektif pandang tokoh modern berjulukan Jessica. Pendekatan ini membikin cerita sejarah nan semula terasa berat menjadi lebih imajinatif dan menarik untuk diikuti.

  • Emosi nan mendalam

Ditulis pada masa pandemi Covid-19, kitab ini memancarkan suasana kontemplatif nan terasa begitu kuat. Emosi nan datang di dalam cerita terasa jujur dan dekat dengan pengalaman manusia saat menghadapi keterasingan maupun kehilangan.

  • Gaya bercerita nan mengalir

Sebagai penulis dengan latar belakang jurnalistik, Bre Redana menggunakan pilihan kata nan kuat dan matang. Narasinya mengalir dengan rapi sehingga pembaca dapat menikmati cerita tanpa merasa dipaksa mengikuti alurnya.

  • Dapat dibaca dalam sekali duduk

Dengan ketebalan sekitar 102 hingga 112 halaman, kitab ini tergolong singkat dan nyaman dibaca dalam sekali duduk. Cocok bagi pembaca nan mau menikmati karya sastra tanpa kudu menghabiskan waktu terlalu lama.

Kekurangan Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya

Meskipun Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya karya Bre Redana menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi masukan bagi penulis.

  • Bacaan nan cukup berat

Pembahasan mengenai sejarah, mitologi, dan budaya Jawa membikin kitab ini terasa cukup serius. Pembaca nan lebih menyukai referensi ringan mungkin memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan isi ceritanya.

  • Alur maju dan mundur

Perpindahan waktu antara masa lampau dan masa sekarang disajikan secara bergantian. Gaya penceritaan seperti ini bisa terasa membingungkan bagi pembaca nan belum terbiasa dengan novel alias cerpen bergaya kontemporer.

Siapa itu Pangeran Benawa?

Pangeran Benawa alias Pangeran Benowo merupakan tokoh krusial dalam sejarah Jawa. Ia dikenal sebagai Sultan ketiga Kesultanan Pajang nan memerintah pada tahun 1586–1587 dengan gelar Sultan Prabuwijaya.

Sosoknya dikenang bukan hanya lantaran perannya dalam perebutan kekuasaan, tetapi juga lantaran sikap rendah hati dan perjalanan spiritualnya.

  1. Silsilah dan Garis Keturunan Utama
  • Putra Jaka Tingkir: Pangeran Benawa adalah putra kandung Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, pendiri Kesultanan Pajang nan sangat terkenal dalam sejarah Jawa.
  • Kakek Sultan Agung: Putrinya nan berjulukan Dyah Banowati menikah dengan Raja Mataram Islam. Dari keturunan tersebut lahirlah Sultan Agung, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram.
  • Leluhur para Pujangga: Melalui garis keturunan putranya, Pangeran Radin, lahir sejumlah pujangga besar Jawa seperti Yosodipuro dan Ronggowarsito.
  1. Konflik Perebutan Takhta Pajang
  • Takhta Direbut Arya Pangiri: Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya, takhta Pajang tidak langsung jatuh kepada Pangeran Benawa. Kekuasaan justru diambil alih oleh Arya Pangiri, adipati Jipang nan juga merupakan kakak iparnya.
  • Bersekutu dengan Sutawijaya: Karena pemerintahan Arya Pangiri dianggap menyengsarakan rakyat, Pangeran Benawa kemudian bekerja sama dengan Sutawijaya untuk merebut kembali Kesultanan Pajang pada tahun 1586.
  1. Simbol Kerendahan Hati (Sifat Tawaduk)

Setelah sukses mengalahkan Arya Pangiri, Pangeran Benawa menunjukkan sifat nan jarang dimiliki oleh calon penguasa:

  • Beliau sempat menawarkan takhta Pajang kepada Sutawijaya, tetapi ditolak.
  • Setelah akhirnya naik takhta menjadi Raja Pajang ketiga, beliau hanya bersedia memerintah selama satu tahun.
  • Beliau memilih meninggalkan takhta duniawi dan menyerahkan kekuasaan Pajang kepada Mataram.
  1. Menjadi Tokoh Spiritual (Sunan Abinowo)

Setelah turun takhta, Pangeran Benawa memilih mendalami kehidupan spiritual dan menyebarkan kepercayaan Islam. Dalam tradisi masyarakat Jawa, dia juga dikenal dengan nama Sunan Abinowo.Hingga kini, beberapa makam dan petilasan nan berangkaian dengan Pangeran Benawa tetap dapat ditemukan, salah satunya berada di wilayah Kendal, Jawa Tengah.

Penutup

Dalam pembahasan mengenai kitab karya Bre Redana sebelumnya, sosok Pangeran Benawa datang sebagai simbol perbandingan. Melalui kisah ketulusan dan kerendahan hati sang pangeran, penulis mencoba menyoroti sifat manusia modern nan sering kali dipenuhi ambisi terhadap kekuasaan dan kedudukan.

Sosok Pangeran Benawa seakan menjadi pengingat bahwa kebesaran seseorang tidak selalu diukur dari tahta nan dimiliki, melainkan dari keahlian untuk melepaskan kepentingan diri demi perihal nan lebih besar.

Buku Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya karya Bre Redana ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya, Grameds! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Blues untuk Runi

Blues untuk Runi

Terserah mau percaya pada cerita ini alias tidak. Seiring mulai dioperasikannya kereta bawah tanah nan baru saja selesai pembangunannya, muncullah hantu di salah satu stasiunnya, ialah Stasiun Palmerah. Titi wanci cerpen berjudul Palmerah Underground ini Februari, 2007.

Belum ada MRT di Jakarta pada waktu itu. Ia dibikin, lantaran selain dengan kekinian, kita sejatinya juga hidup dengan déjà vu dan nostalgia. Itulah kurang lebih tema dari karya-karya nan terhimpun dalam Blues untuk Runi ini.

Kanaka dan Piring-piring Kosongnya

Kanaka dan Piring Kosongnya

Kasus keracunan lawar plek buatan Bapak berujung kematian. Tragedi nan sama pernah terjadi enam tahun lampau hingga membikin Ibu meninggal. Atas dorongan sang adik, Rajata, Kanaka terpaksa pulang ke Bali dan menemui Bapak. Namun, lawar tersebut rupanya dibuat oleh Rajata. Bapak mengakui dosa itu dan dipenjara untuk melindungi Rajata.

Tanpa Kanaka tahu, petugas nan menangani kasus Bapak adalah Erlang, laki-laki nan tanpa penjelasan ataupun rasa bersalah telah meninggalkannya untuk menikah dengan wanita lain. Di antara rasa bersalah Rajata nan berujung percobaan bunuh diri, kebencian terhadap Bapak, dan kerinduan bakal lawar plek, Kanaka juga kudu menghadapi Erlang. Bagaimana Kanaka bisa menghadapi semuanya sekaligus?

What My Mother and I Don`t Talk About: Esai-Esai nan Memecah Hening di Balik Hubungan Kita dan Ibu

Lima belas penulis berbakat membuka tabir hal-hal nan relatif tidak kita bicarakan dengan ibu kita, dan gimana perihal itu membentuk hidup kita. Saat tetap kuliah, Michele Filgate menulis esai tentang pelecehan nan dialaminya dari ayah tirinya. Butuh lebih dari satu dasawarsa baginya untuk menyadari apa nan sebenarnya mau dia tulis: gimana perihal itu memengaruhi hubungannya dengan ibunya. Berawal dari esai viral Michele itu, lahirlah kitab antologi ini: kumpulan kisah jujur tentang cinta, luka, hening, dan kerinduan nan menyelimuti relasi ibu-anak.

Dari Leslie Jamison nan mencoba memahami sosok ibunya sebelum menjadi seorang ibu, Cathi Hanauer nan akhirnya bisa berbincang dengan ibunya tanpa bayang-bayang ayah nan dominan, hingga André Aciman nan tumbuh berbareng ibu nan tuli—masing-masing cerita membujuk kita menengok sisi rentan sekaligus kuatnya ikatan kita dengan ibu. Seperti kata Filgate, “Ibu adalah rumah pertama kita, dan itulah kenapa kita selalu mau kembali kepada mereka.”

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia