Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tengah bersiap menghadapi potensi bentrok langsung dengan Iran. Hal ini dia sampaikan di tengah meningkatnya tensi area nan turut melibatkan Amerika Serikat (AS), termasuk di jalur strategis Selat Hormuz.
Dalam pertemuan dengan para komandan militer senior, Netanyahu menyampaikan bahwa Israel bakal tetap melanjutkan operasi militernya sekaligus memperkuat posisi menghadapi ancaman regional.
"Iran bakal keluar dari kampanye ini dalam kondisi lebih lemah, sementara Israel bakal menjadi jauh lebih kuat," ujar Netanyahu, seperti dilansir Channel 14, dikutip Selasa (5/5/2026).
Pernyataan ini muncul saat ketegangan geopolitik meningkat, terutama setelah eskalasi hubungan AS-Israel dengan Iran nan berpotensi berakibat pada stabilitas jalur pengedaran daya dunia di Selat Hormuz.
Meski demikian, Netanyahu menepis dugaan bahwa rezim Iran bakal runtuh dalam waktu sigap jika bentrok pecah. Ia menilai tidak ada agunan mengenai perihal tersebut, meskipun tekanan ekonomi berat nan saat ini dihadapi Teheran bisa memicu ketidakstabilan internal.
"Iran sangat cemas bahwa tekanan ekonomi nan berkepanjangan dapat menakut-nakuti stabilitas rezim," katanya, merujuk pada gelombang protes nan sempat terjadi pasca-operasi militer sebelumnya.
Terkait program nuklir Iran, Netanyahu juga menyinggung pandangan Presiden AS Donald Trump nan disebut mempunyai "keyakinan besar" bahwa tekanan ekonomi intensif dapat memaksa Iran membuka akses terhadap bahan nuklir nan selama ini disimpan di akomodasi bawah tanah.
Di sisi lain, Netanyahu memastikan operasi militer di Gaza bakal terus berlanjut. Ia menegaskan Israel tidak bakal mundur dari sasaran utama, ialah melumpuhkan keahlian militer dan struktur pemerintahan Hamas.
Saat ini, menurutnya, pasukan Israel telah menguasai lebih dari 50% wilayah Jalur Gaza melalui pembentukan area keamanan. Hal ini memungkinkan akses operasi ke nyaris seluruh wilayah serta mempercepat penghancuran prasarana nan disebutnya sebagai "infrastruktur teroris".
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·