Resolusi Iran, Guru Besar UI Nilai Demokrasi AS Masih Berjalan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Resolusi Iran, Guru Besar UI Nilai Demokrasi AS Masih Berjalan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Dok. Al Jazeera)

GURU Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia Evi Fitriani menilai keputusan Senat Amerika Serikat menyetujui resolusi pembatasan kewenangan Presiden Donald Trump dalam operasi militer terhadap Iran menunjukkan sistem demokrasi AS tetap berjalan. Resolusi itu dinilai membatasi eskalasi bentrok dan membuka ruang diplomasi Washington-Teheran.

Menurut Evi, langkah Senat AS mencerminkan pandangan bahwa konflik dengan Iran tidak sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat. Para personil Kongres, kata dia, memandang perang tersebut tidak memberikan untung strategis bagi AS.

"Mereka memandang perang tersebut bukan untuk kepentingan AS dan apalagi merugikan AS," kata Evi Fitriani saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (24/6).

Evi mengatakan support Senat terhadap resolusi itu dapat menjadi momentum bagi terbukanya jalur diplomasi nan lebih luas antara Washington dan Teheran. Hal itu terutama krusial ketika kedua negara juga tengah menjalani proses negosiasi mengenai beragam rumor strategis.

Ia menilai keputusan tersebut tidak hanya berakibat pada arah kebijakan luar negeri AS terhadap Iran, tetapi juga mempunyai makna krusial bagi sistem politik Amerika Serikat. Resolusi itu, menurutnya, menunjukkan bahwa prinsip check and balances alias sistem saling mengawasi antar lembaga negara tetap melangkah efektif.

"Resolusi tersebut memperlihatkan bekerjanya check and balances dalam sistem politik AS dan membuktikan AS tetap negara demokrasi," sebutnya.

Lebih lanjut, Evi menegaskan akibat politik dari resolusi tersebut semestinya cukup besar terhadap ruang mobilitas Presiden Trump dalam mengambil keputusan militer pada masa mendatang. Dengan adanya pembatasan dari Kongres, presiden tidak dapat secara sepihak mengambil kebijakan militer terhadap Iran maupun negara lain.

"Dampaknya harusnya besar lantaran Trump tidak bisa semena-mena ambil kebijakan terhadap Iran alias negara manapun. Otherwise dia bisa di-impeach," pungkas Evi. (Fer)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia