Remaja di Surabaya Tewas Dikeroyok, Diduga Dipicu Perkara Sandal

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Remaja berjulukan Thomas Julius Kristianto (19), penduduk Jalan Manukan Yoso II, Surabaya, tewas diduga menjadi korban pengeroyokan oleh 4 remaja. Foto: Dok. Istimewa

Seorang remaja berjulukan Thomas Julius Kristianto (19), penduduk Jalan Manukan Yoso II, Surabaya, tewas pada Kamis (4/6) kemarin. Ia diduga dikeroyok 4 orang remaja.

Dari info nan dihimpun, pengeroyokan itu terjadi di Jalan Manukan Mukti, Surabaya, pada Sabtu (30/5).

Keempat pelaku ialah CJF, AAY, KVRL dan RU sudah diamankan polisi.

"Ya betul sudah diamankan 4 orang (pelaku pengeroyokan)," kata Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto saat dihubungi, Jumat (5/6).

Sementara itu, Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Raditya Herlambang, belum bisa menerangkan secara pasti mengenai peristiwa pengeroyokan serta motifnya.

Pihaknya tetap menyelidiki dan memeriksa intensif terhadap para pelaku.

"Masih lanjut pemeriksaan," ujar Raditya.

Terpisah, kakak kandung korban, Hana Novia Kristiani (32), mengatakan pengeroyokan ini diduga adanya persoalan antara korban dengan salah satu terduga pelaku pada pertengahan Mei 2026.

Awalnya, korban memakai sandal merek Crocs milik salah satu terduga pelaku saat di rumah temannya lantaran sepatunya basah dan tidak membawa dasar kaki lagi.

Kemudian, sandal itu dibawa pulang oleh korban. Selang beberapa hari kemudian, terduga pelaku meminta sandalnya.

Setelah dicari rupanya sandal tersebut hilang. Terduga pelaku pun meminta tukar sandal baru kepada korban.

"Lalu adik saya minta info ke saya bahwa si pelaku meminta tukar rugi. Saya sudah kasih duit ke adik saya mengenai tukar rugi tersebut dan juga adik saya sudah mengembalikan dengan sandal nan baru," ujar Hana.

"Pelaku awalnya juga WA saya, menyatakan bahwa menerima sandal baru. Jadi saya menganggap tidak ada utang piutang," tambahnya.

Setelah menerima sandal baru, terduga pelaku rupanya protes karena nilai sandal tidak sesuai. Menurutnya, nilai sandalnya berkisar Rp 1,5 juta. Sedangkan, sandal nan diganti oleh korban berkisar Rp 200-Rp 300 ribu. Hal itulah nan diduga pemicu dari pengeroyokan tersebut.

"Apakah betul Rp 1,5 juta? Bahkan model sandalnya saya tidak tahu. Bagaimana caranya saya percaya bahwa nilai sandal tersebut Rp 1,5 juta dan saya tidak bisa serta merta mengembalikan sandal Rp 1,5 juta jika tidak ada bukti dari pembelanjaan," katanya.

Hana menyayangkan peristiwa pengeroyokan tersebut. Sebab, korban sudah beritikad baik dengan mengganti sandal baru. Namun, terduga pelaku merasa nilai sandal nan diganti itu tidak sesuai.

"Cuma disayangkan anaknya emosi apalagi berujung melakukan tindakan kekacauan nan mana menghilangkan nyawa seseorang hanya motif tukar rugi sebuah sandal," ucap dia.

Ia pun menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini ke pihak kepolisian.

"Karena saya menuntut keadilan untuk adik saya. Dan juga saya berambisi kasus ini selesaikan sesuai norma berlaku," katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan