
Remaja tidak kebal dengan akibat jangkitan menular seksual. (Foto: Freepik)
ANGGAPAN bahwa usia muda membikin seseorang lebih kuat dan lebih kebal terhadap beragam penyakit, termasuk infeksi menular seksual (IMS) tetap kerap beredar di masyarakat saat ini. Padahal, dugaan tersebut tidak benar.
Remaja dan dewasa muda justru termasuk golongan nan perlu mendapatkan perhatian dalam perihal kesehatan seksual dan reproduksi. Apalagi, akibat besar mengintai.

1. Risiko Infeksi Menular Seksual di Usia Muda
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RS Columbia Asia BSD, dr. Fadhilah Akhdasari, Sp.OG,, dalam aktivitas Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa aktivitas seksual pada usia remaja mempunyai sejumlah risiko. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan terhadap jangkitan menular seksual.
“Jadi jika kita ngomongin mengenai bahaya, aktivitas seksual, alias kehamilan di usia remaja, itu memang kasusnya itu condong meningkat memang. nan mungkin lantaran perubahan lingkungan nan terjadi. Tapi jika dari sisi medis, memang tidak disarankan, lantaran memang banyak risikonya,” ujar dr. Fadhilah.
“Kalau aktivitas seksual dilakukan di usia muda, terutama nan perempuan, ini organ reproduksinya tetap belum berkembang secara matang. Justru mereka rentan untuk terkena penyakit jangkitan menular seksual,” lanjutnya.
“Terus juga secara kognitif, kegunaan kognitifnya juga belum matang sehingga jika terjadi kehamilan nan tidak direncanakan dari aktivitas seksual tersebut, maka dia belum cukup siap,” jelas dr. Fadhilah.
2. Mengapa Remaja Lebih Rentan?
Kerentanan terhadap IMS pada usia muda tidak hanya berangkaian dengan perilaku, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi biologis organ reproduksi nan tetap berkembang.
Pada wanita remaja, misalnya, jaringan pada serviks dan memek tetap mengalami proses pematangan. Lapisan mukosa nan melindungi saluran reproduksi dapat lebih rentan mengalami iritasi alias luka.
“Justru kasus jangkitan menular seksual ini nan paling rentan itu adalah justru di usia remaja alias di awal usia 20-an. Justru dari WHO, nomor kejadiannya itu paling tinggi di usia 20-an awal lantaran memang secara biologis dan secara psikologis itu tetap rentan,” jelas dr. Fadhilah.
“Kalau aspek biologis itu mungkin memang pengaruhnya adalah kondisi misalnya saluran reproduksi ya, serviks, memek gitu ya, di mana mereka tetap dalam kondisi berkembang, dan sel-sel nan melapisinya itu tetap lunak, kemudian sel-sel mukosa nan melapisinya tetap lunak dan tipis, sehingga dia rentan terjadi iritasi, terjadi lecet, si pertahanan pertamanya rentan rusak, sehingga mudah terjadi invasifum manfatogen nan menyebabkan jangkitan pada akhirnya,” lanjutnya.
Kondisi tersebut dapat membikin lapisan pertahanan alami lebih mudah mengalami gangguan. Ketika terjadi iritasi alias luka, mikroorganisme penyebab jangkitan dapat lebih mudah masuk dan berkembang Dengan demikian, dugaan bahwa tubuh nan tetap muda otomatis mempunyai perlindungan lebih baik terhadap IMS justru perlu diluruskan.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·