Ilustrasi(Dok KAI)
DI Sumatra Barat, rel kereta api menyimpan cerita tentang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven alias Teluk Bayur, Lembah Anai, Sawahlunto, Pariaman, hingga perjalanan masyarakat dari rumah menuju sekolah, kampus, tempat kerja, bandara, dan area wisata.
Cerita itu sekarang menemukan konteks baru dalam pendapat besar penguatan konektivitas rel di Pulau Sumatra. Pemerintah melalui pengarahan Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan jaringan kereta api nan lebih terhubung dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Dalam peta besar tersebut, Sumatra Barat menjadi salah satu wilayah krusial lantaran mempunyai sejarah rel nan panjang, aset prasarana nan luas, serta jasa nan tetap berkedudukan langsung bagi masyarakat.
Sumatra Barat menjadi salah satu ruang krusial untuk membaca perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Sumatra. Di wilayah ini, rel menghubungkan titik keberangkatan dan tujuan, sekaligus menyimpan jejak tambang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven alias Teluk Bayur, Sawahlunto, Lembah Anai, Pariaman, serta perubahan langkah masyarakat bergerak dari masa ke masa.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Sumatra Barat mempunyai posisi unik dalam sejarah perkeretaapian nasional. Rel di wilayah ini lahir dari kebutuhan menghubungkan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. Dalam perkembangannya, jalur nan sama juga menjadi bagian dari mobilitas harian, akses wisata, dan pengedaran barang.
“Sumatra Barat menunjukkan gimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne.
Sejarah perkeretaapian Sumatra Barat bermulai pada akhir abad ke-19, ketika jalur kereta api dibangun untuk menghubungkan area tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan pelabuhan di Padang. Stasiun Padang mulai dibangun pada 6 Juli 1889 untuk memperlancar transportasi batu bara menuju Pelabuhan Emmahaven alias Teluk Bayur. Stasiun Pulau Air dibangun pada 1891 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust dan diresmikan pada 1 Oktober 1892. Dari Padang, jaringan rel kemudian berkembang menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Muaro Kalaban, Sawahlunto, Pariaman, hingga Naras.
Pada masa itu, jalur kereta api Sumatra Barat menghadapi bentang alam nan berat. Rel melewati perbukitan, lembah, dan jalur menanjak. Di area ini masyarakat kemudian mengenal lokomotif uap bergerigi seperti Mak Itam, ikon perkeretaapian Sawahlunto nan lekat dengan sejarah tambang Ombilin.
Berdasarkan info prasarana Divre II Sumatera Barat, total panjang jalur kereta api di wilayah tersebut mencapai 312,232 kmsp. Kmsp merupakan singkatan dari kilometer spoor, ialah satuan untuk menghitung panjang jalur rel kereta api. Dengan kata lain, Sumatera Barat mempunyai sekitar 312,2 kilometer jalur rel. Dari jumlah tersebut, 110,910 kmsp alias sekitar 110,9 kilometer merupakan jalur aktif, sedangkan 201,322 kmsp alias sekitar 201,3 kilometer merupakan jalur nonaktif. Wilayah ini juga mempunyai 20 stasiun dan shelter pikulan penumpang, serta 4 stasiun pikulan barang.
Saat ini, jasa penumpang di Sumatera Barat mencakup KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Padang–Naras, KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Air–Padang–Bandara Internasional Minangkabau, KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Duku–Padang, serta KA wisata Mak Itam relasi Muarokalaban–Sawahlunto nan beraksi menyesuaikan kebutuhan jasa wisata sejarah. Untuk jasa barang, KAI melayani relasi Indarung–Bukit Putus guna mendukung pengedaran semen curah dan klinker.
Kinerja jasa tersebut menunjukkan bahwa kereta api tetap menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat Sumatra Barat. Pada Januari–Mei 2026, jasa kereta api penumpang di Divre II Sumatra Barat melayani 913.674 pelanggan. Rinciannya, 172.548 pengguna pada Januari, 151.768 pengguna pada Februari, 188.425 pengguna pada Maret, 202.282 pengguna pada April, dan 198.651 pengguna pada Mei.
Di sisi barang, KAI di wilayah Divisi Regional II Sumatra Barat melayani 492.220 ton pikulan pada Januari–Mei 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 299.070 ton semen dan 193.150 ton klinker. Angkutan berbasis rel berkedudukan menjaga kelancaran pengedaran industri, mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya, serta mendukung rantai pasok dari area produksi menuju titik distribusi.
Kinerja dalam lima tahun terakhir juga menunjukkan bahwa pasar kereta api di Sumatera Barat sudah terbentuk. Volume pengguna Divre II Sumatra Barat meningkat dari sekitar 1,09 juta pengguna pada 2021 menjadi 1.978.241 pengguna pada 2025. Dalam periode 2021–2025, pertumbuhan pengguna mencapai sekitar 81%, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 16% per tahun. Angka ini memperlihatkan bahwa minat masyarakat terhadap kereta api di Sumatra Barat terus menguat.
KA Pariaman Ekspres menjadi salah satu contoh jasa nan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pada 2025, pengguna KA Pariaman Ekspres mencapai 1.615.996 pelanggan, naik 15,61% dibanding 2024 sebanyak 1.399.691 pelanggan. Layanan ini menghubungkan area permukiman, pusat kota, kampus, dan lokasi wisata pesisir nan menjadi salah satu tujuan perjalanan masyarakat pada akhir pekan.
KA Lembah Anai juga menunjukkan respons positif setelah perubahan relasi layanan. Pada Januari 2026, pengguna KA Lembah Anai mencapai 24.607 pelanggan, naik dibanding Januari 2025 sebanyak 9.932 pelanggan. Pada Februari 2026, jumlahnya mencapai 22.136 pelanggan, naik dari 7.270 pengguna pada Februari 2025. Pada Maret 2026, pengguna mencapai 28.515 pelanggan, naik dari 6.363 pengguna pada Maret 2025. Perubahan ini menunjukkan bahwa penyesuaian jasa dapat memperluas akses dan meningkatkan minat masyarakat menggunakan kereta api.
Anne menjelaskan, kekuatan kereta api di Sumatra Barat terletak pada kedekatannya dengan ruang hidup masyarakat. KA Pariaman Ekspres menghubungkan permukiman, pusat kota, kampus, dan area wisata pesisir. KA Minangkabau Ekspres menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau. KA Lembah Anai membuka akses ke Kayu Tanam dan area sekitarnya. Sementara Mak Itam menjaga memori Sawahlunto sebagai kota tambang berhistoris dan bagian dari warisan dunia.
“Kereta api di Sumatra Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung pengedaran barang,” kata Anne.
Potensi Sumatra Barat juga terlihat dari sektor pariwisata. Data BPS Sumatra Barat nan diolah dalam kajian reaktivasi menunjukkan perjalanan visitor nusantara meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025. Sejumlah destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi berada pada ruang nan dapat diperkuat melalui konektivitas kereta api.
Sawahlunto mempunyai nilai strategis tersendiri lantaran berangkaian dengan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin nan ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2019. Di wilayah ini, rel dibaca sebagai prasarana perjalanan sekaligus bagian dari warisan sejarah, pendidikan sejarah, pariwisata, dan memori kolektif masyarakat.
Dari sisi transportasi wilayah, info Dinas Perhubungan Provinsi Sumatra Barat menunjukkan moda jalan tetap mendominasi pengedaran penumpang dan barang. Pangsa moda jalan mencapai sekitar 96% untuk pengedaran penumpang dan 87% untuk pengedaran barang. Sementara itu, pangsa kereta api untuk pengedaran peralatan berada pada kisaran 8%. Komposisi ini menunjukkan ruang peningkatan peran kereta api, terutama untuk pikulan peralatan dan perjalanan wisata nan lebih efisien.
Potensi Sumatra Barat juga terlihat dari banyaknya jalur nonaktif nan menyimpan kesempatan pengembangan. Beberapa jalur nan masuk dalam cakupan potensi reaktivasi antara lain Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang, Muarokalaban–Sawahlunto, Padang Panjang–Batubual, Batubual–Solok, serta Solok–Muarokalaban. Apabila dikembangkan bertahap, jalur-jalur tersebut dapat memperluas akses ke area wisata, pusat pendidikan, sentra ekonomi, dan simpul logistik di wilayah Minangkabau.
Salah satu lintas nan mempunyai prospek kuat adalah Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh dengan rencana panjang sekitar 67,363 kmsp. Lintas ini krusial lantaran menghubungkan wilayah strategis di Sumatera Barat, membuka akses ke destinasi wisata, serta mendukung mobilitas masyarakat dan pengedaran barang. Selain itu, pendapat jalur pintas Padang–Solok juga mempunyai nilai strategis lantaran dapat menjadi pintu konektivitas menuju Lubuk Linggau di Sumatra Selatan.
Dalam peta besar konektivitas rel Sumatra, pengembangan rel berangkaian dengan langkah pulau ini memperpendek jarak antardaerah, menekan biaya logistik, membuka akses wisata, dan memperkuat mobilitas masyarakat. Kajian reaktivasi mencatat, ketika jalur Lembah Anai terputus, kendaraan logistik kudu menggunakan rute pengganti nan lebih jauh dan menyantap waktu lebih lama, sehingga biaya operasional logistik dapat naik sekitar 22% dari kondisi normal. Situasi ini memperlihatkan pentingnya pilihan pikulan nan stabil, efisien, dan berkelanjutan.
“Sejarah rel Sumatra Barat memberi pelajaran krusial bahwa konektivitas selain sebagai jalur, juga menjadi akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan nan lebih merata bagi masyarakat,” tutup Anne. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·