Ilustrasi(Magnific)
KETIKA seorang bayi lahir, mereka mempunyai serangkaian respons bentuk otomatis nan dikenal sebagai refleks primitif. Beberapa contohnya adalah refleks menggenggam erat jari nan menyentuh telapak tangan mereka, alias refleks menghisap ketika area sekitar mulut distimulasi. Seiring berkembangnya otak besar dan sistem saraf pada masa kanak-kanak, refleks-refleks otomatis ini perlahan-lahan menghilang lantaran mulai dikendalikan oleh kesadaran.
Namun, sebuah studi ilmiah terbaru mengungkapkan temuan nan mengejutkan mengenai penurunan kegunaan kognitif pada lansia. Refleks-refleks masa mini nan telah lama lenyap tersebut diketahui dapat muncul kembali, dan kejadian ini dinilai bisa menjadi parameter awal alias tanda peringatan sebelum indikasi klinis demensia alias Alzheimer betul-betul terlihat jelas.
Secara medis, kembalinya refleks primitif pada orang dewasa dikenal sebagai "tanda pelepasan frontal" (frontal release signs). Kondisi ini terjadi ketika bagian depan otak (lobus frontal), nan berfaedah mengontrol perilaku dan menekan respons otomatis, mulai mengalami kerusakan alias atrofi akibat penyakit degeneratif. Ketika wilayah otak ini melemah, kontrol terhadap refleks purba tersebut lepas, sehingga respons otomatis masa bayi kembali aktif.
Dalam riset nan mengawasi sejumlah pasien lansia, tim peneliti menemukan bahwa kemunculan kembali refleks seperti refleks menggenggam (grasp reflex) alias refleks memoncongkan bibir (snout reflex) mempunyai hubungan kuat dengan tahap awal penurunan kegunaan saraf. Sering kali, tanda-tanda bentuk ini muncul jauh sebelum pasien menunjukkan indikasi umum demensia, seperti gangguan memori nan parah alias disorientasi ruang.
Para intelektual menekankan bahwa penemuan melalui pemeriksaan refleks bentuk ini dapat menjadi perangkat skrining awal nan murah, cepat, dan non-invasif bagi para dokter. Dengan mengidentifikasi kembalinya refleks primitif selama pemeriksaan neurologis rutin, intervensi medis dan perencanaan perawatan bagi pasien demensia dapat dilakukan jauh lebih awal, apalagi sebelum kerusakan otak menyebar luas.
Meskipun kemunculan refleks ini tidak serta-merta berfaedah seseorang pasti bakal menderita demensia, para peneliti mengingatkan bahwa tanda bentuk ini tidak boleh diabaikan. Kombinasi antara pemeriksaan refleks primitif, tes kognitif, dan pemindaian otak tetap menjadi metode paling jeli untuk menegakkan diagnosis. Melalui studi ini, para mahir berambisi masyarakat dan tenaga medis dapat lebih peka terhadap perubahan bentuk sekecil apa pun pada lansia demi penanganan kesehatan otak nan lebih baik. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·