Menjelang peringatan HUT ke-81 RI, suasana Gang Jurudemung, Kampung Ledoksari, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jawa Tengah, tampil beda. Dari kejauhan, gapura gang berwarna merah putih terlihat menarik perhatian. Di atasnya, berdiri sosok buto.
Ketika didekati, rupanya hiasan dan sosok buto tersebut terbuat dari galon dan botol mineral bekas. Selama dua bulan terakhir, penduduk gotong royong membikin hiasan ini. Sekitar 100 galon jejak dikumpulkan dari rumah warga.
Salah seorang warga, Wahyuni (46), mengatakan hiasan galon jejak ini menghiasi gang sepanjang 45 meter. Sosok buto ditampilkan di dua ujung gang.
Selain membikin buto, penduduk juga membikin beragam corak dari galon jejak seperti bebek, kupu-kupu, kura-kura hingga lebah. Kreativitas ini lahir secara otodidak.
Warga mau memanfaatkan limbah plastik serta sebagai upaya mengurangi sampah sekaligus membuka kesempatan ekonomi melalui kerajinan berbahan daur ulang.
"Mau Agustusan itu ibu-ibu untuk bikin seperti ini dan suaminya juga, dan kita sengkuyung juga setiap harinya kita membikin semuanya. Tapi peran utama juga dari bapak-bapaknya, imajinatif semua," kata Wahyuni ditemui di kampungnya, Senin (3/8).
Dibuat Secara Otodidak
Bermacam corak hewan-hewan ini dibuat dengan bekal coba-coba. Ketika gagal, mereka bakal membikin lagi dari awal. Pengecatan juga dilakukan bersama-sama.
"Kita semuanya dari uji coba semua, jadi ya mestinya ada gagalnya juga kan. Kita coba, setiap malam kita cat. Jadi semuanya nan kita pengin, kreasi kita pengin apa kita bikin, idenya apa kita bikin," tuturnya.
Lantaran menggunakan peralatan bekas, biaya nan dikeluarkan penduduk sedikit. Mereka hanya merogoh kas untuk membeli cat saja.
"Ini kita kumpulkan, kita bersihkan, kita daur ulang, kita bikin seperti ini pernak-perniknya, seperti itu. Ini swadaya bahannya," katanya.
Wahyuni mengatakan setiap Agustusan, penduduk selalu punya buahpikiran mempercantik kampung. Tahun lalu, mereka memanfaatkan kardus jejak sebagai hiasan.
"Tahun ini galon. Itu jika malam ada lampunya hidup," tuturnya.
Peluang Ekonomi
Selain untuk mengurangi limbah plastik, rupanya karya penduduk ini mulai dilirik.
"Kemarin itu baru nanya-nanya, tapi udah ada satu (mau beli)," katanya.
Wahyuni mengatakan para penduduk siap jika ada pihak nan hendak order kerajinan ini.
"Tapi kita bisanya indent nanti, soalnya buatnya lama. Enggak bisa langsung sigap idenya gitu, kelak tergantung pesanan juga," katanya.
Selain hiasan, kerajinan ini juga bisa dijadikan pot untuk tanaman.
"Bisa jadi pot untuk bunga. Baik kembang original maupun palsu," ujarnya.
Warga lain, Sum (54), menceritakan tak ada kesulitan dalam membikin kerajinan ini. Semuanya mengalir saja, terlebih mereka membikin dengan suka cita dan guyub bertetangga.
"Mengalir begitu saja. Bebek itu dari saya idenya, terus suami nan mulai memperbanyak, lukis-lukis," kata Sum.
Hiasan tawon idenya juga dari Sum. Dia lampau menceritakan ke suaminya dan segera dieksekusi.
"Saya ide-ide itu aja bikin ini, terus kelak suami nan menggerakkan, ngecat alias apa itu, kerja samalah pokoknya," pungkasnya.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·