Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan bahwa realisasi nilai minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) per 8 April 2026 mencapai USD 77,8 per barel, sudah di atas dugaan APBN 2026 nan ditetapkan sebesar USD 70 per barel.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, mengatakan bahwa meskipun ICP sudah di atas dugaan APBN, pemerintah menjamin defisit anggaran tetap di bawah pemisah maksimal 3 persen.
"Sampai hari ini rata-rata ICP kita itu 77 dolar per barel. Memang sudah di atas APBN-nya, tetapi ini tetap jauh dibandingkan dengan kesiapan nan sudah kita sediakan," ungkapnya saat ditemui di instansi Badan Komunikasi Pemerintah RI, Kamis (9/4).
Febrio menyebutkan, pemerintah menyiapkan skenario terburuk, pun dengan proyeksi rata-rata ICP USD 100 per barel hingga akhir tahun, defisit APBN tidak bakal jebol di atas 3 persen sesuai dengan UU Keuangan Negara.
"Memang sudah di atas APBN-nya, tetapi ini tetap jauh dibandingkan dengan kesiapan nan sudah kita sediakan. Untuk defisitnya kita bisa siapkan sampai 2,9 tetap di bawah 3 persen, jadi APBN kita tetap aman," tegasnya.
Saat ditanya mengenai akibat melemahnya nilai tukar Rupiah nan telah menembus Rp 17.000 per dolar AS terhadap kenaikan beban APBN, dia juga menilai kondisi ini sudah termasuk dalam kajian nan dibahas pemerintah. Dalam dugaan makro APBN 2026, nilai tukar ditargetkan Rp 16.500 per dolar AS.
"(Kurs sudah Rp 17.000) itu sudah masuk dalam kalkulasi kita, kita gak masalah. Jadi kita pasti bakal hitung dampaknya terhadap harga-harga nan kita asumsikan dalam shopping itu sudah masuk, jadi kita cukup aman," pungkas Febrio.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan nilai BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026, meski dibayangi ketidakpastian nilai minyak dunia akibat perang AS-Israel terhadap Iran nan tetap berjalan hingga hari ini.
Purbaya menjelaskan, pemerintah telah melakukan beragam simulasi terhadap lonjakan nilai minyak dunia. Mulai dari skenario nilai USD 80 hingga USD 100 per barel, seluruhnya sudah dihitung dampaknya terhadap APBN, termasuk langkah mitigasinya.
“Jadi sepanjang tahun ini dengan nilai rata-rata USD 100, aman. Terus jika ada orang nan bilang Purbaya nggak punya uang, Menteri Keuangan nggak punya uang, kita dari kreasi anggaran aja tetap di bawah 3 persen,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja Komisi XI, Senin (6/4).
Ia menekankan, dengan dugaan nilai minyak bumi mencapai USD 100 per barel sepanjang 2026, defisit anggaran tetap bisa dijaga di level 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Artinya, ruang fiskal pemerintah dinilai tetap memadai untuk menjaga stabilitas, termasuk menahan nilai BBM subsidi.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan langkah persediaan andaikan terjadi lonjakan nilai nan lebih tinggi dari asumsi. Salah satunya dengan memanfaatkan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menjaga keberlanjutan fiskal.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·