Ratko Mladic, si Jagal Bosnia Meninggal Dunia di Den Haag

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jenderal Ratko Mladic saat berada di Sarajevo, 15 Februari 1994. Foto: Pascal Guyot / AFP

Bekas Panglima Angkatan Bersenjata Serbia Bosnia Ratko Mladic, nan divonis bersalah atas genosida dan kejahatan perang mengenai pembantaian Srebrenica pada 1995, meninggal bumi di rumah sakit pada Kamis (27/8) waktu Den Haag, Belanda.

Mladic, adalah pelaku genosida paling mengerikan sejak Perang Dunia 2 berakhir. Ia juga dijuluki Jagal Bosnia atas tindakan pembantaian laki-laki dan anak laki-laki Muslim di Srebrenica, saat perang Bosnia, 1992-19945.

Dilansir AFP, berita tersebut disampaikan pengadilan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mladic diketahui mengalami beberapa kali stroke dalam beberapa bulan terakhir. Ia tengah menjalani balasan penjara seumur hidup di Den Haag.

Mladic divonis atas genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan atas perannya dalam pembantaian Srebrenica. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pembantaian paling mengerikan di Eropa setelah Perang Dunia II.

Karena perannya dalam perang Bosnia 1992-1995, media menjuluki Mladic sebagai "Butcher of Bosnia" alias Jagal Bosnia. Perang tersebut menewaskan sekitar 100 ribu orang dan menyebabkan 2,2 juta penduduk mengungsi.

Mladic merupakan salah satu dari tiga tokoh utama Serbia Bosnia dalam perang tersebut. Di sisi politik, perang dipimpin mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan mantan pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic.

Keluarga Mladic dan sejumlah pejabat Serbia sebelumnya meminta agar dia dibebaskan lantaran kondisi kesehatannya nan memburuk. Namun, permintaan tersebut ditolak pengadilan di Den Haag.

Seorang wanita Muslim Bosnia bereaksi saat berdiri di tengah nisan korban nan tewas dalam genosida Srebrenica, di Monumen Genosida Srebrenica di Potocari, Bosnia dan Herzegovina, 11 Juli 2025. Foto: REUTERS/Amel Emric

Perwakilan asosiasi Mothers of Srebrenica, Sehida Abdurahmanovic, mengatakan kematian Mladic tidak bakal menghapus kejahatan nan melekat pada namanya.

"Nama itu bakal selalu melambangkan genosida. Itu tidak bakal pernah terhapus dari namanya," kata Abdurahmanovic kepada AFP. Ia meyakini saudaranya nan lenyap termasuk di antara korban pembantaian Srebrenica.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan family mereka.

"Saya berdiri dalam solidaritas dengan para korban, penyintas, dan family mereka nan menderita akibat kejahatan nan membikin Tuan Mladic dinyatakan bersalah," ujar ahli bicara Guterres kepada wartawan.

Pembantaian Srebrenica

Pembantaian Srebrenica menjadi salah satu kekejaman paling terkenal dalam perang Bosnia. Pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Mladic mengeksekusi sekitar 8.000 laki-laki dan anak laki-laki Muslim Bosnia nan mencari perlindungan di Srebrenica.

Wilayah tersebut sebelumnya ditetapkan sebagai area kondusif nan dilindungi PBB. Namun, pasukan Serbia Bosnia tetap menyerbu wilayah itu.

Jenazah para korban kemudian dibuang ke sejumlah kuburan massal. Sebagian kuburan apalagi kembali dibongkar dan jenazahnya dipindahkan untuk menyembunyikan bukti pembantaian.

Pameran Seni Mengenang 25 Tahun Pembantaian Srebrenica Foto: Kemal Softic/AP Photo

Para penyintas nan sukses melarikan diri menceritakan pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan nan dilakukan pasukan Serbia Bosnia.

Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) mendakwa Mladic pada November 1995. Ia telah diberhentikan dari jabatannya, tetapi sukses menghindari penangkapan selama 16 tahun.

Setelah Milosevic kehilangan kekuasaan pada 2000, tekanan terhadap Mladic meningkat. Ia akhirnya ditangkap pada Mei 2011 dan dibawa ke Den Haag.

Mladic dinyatakan bersalah pada 2017. Hukuman penjara seumur hidup terhadapnya kemudian dikuatkan dalam proses banding pada 2021.

Reaksi Berbeda di Bosnia

Kabar kematian Mladic mendapat reaksi berbeda di beragam wilayah Bosnia.

Di Sarajevo, Hava Suljic menyambut berita tersebut. Ia merupakan penduduk Muslim Bosnia asal Srebrenica.

"Saya senang mengetahui bahwa ada satu penjahat perang lebih sedikit nan berjalan-jalan di bumi ini," kata Suljic kepada AFP.

Namun, reaksi berbeda muncul di wilayah Republika Srpska nan didominasi penduduk Serbia Bosnia.

Mantan pemimpin Serbia Bosnia Milorad Dodik mengatakan kematian Mladic "sangat memukul". Ia juga menyatakan Republika Srpska tidak bakal melupakan peran Mladic.

Sejumlah penduduk di Banja Luka, ibu kota Republika Srpska, apalagi menyebut Mladic sebagai sosok terbesar.

"Orang terbesar telah meninggal, jenderal terbesar dari rakyat Serbia," kata seorang pensiunan berjulukan Dragan Beric kepada AFP.

Sementara itu, Rusia mengkritik ICTY nan menjatuhkan balasan terhadap Mladic. Pemerintah Rusia menilai pengadilan tersebut mengabaikan prinsip ketidakberpihakan dan perlakuan nan setara terhadap narapidana lantaran argumen politik.

Ratko Mladic. Foto: Peter Dejong/Reuters

Mladic dan Wujud Kejahatan

Selain pembantaian Srebrenica, Mladic dinyatakan bersalah mengatur kampanye pembersihan etnis nan lebih luas. Tujuannya untuk mengusir penduduk Muslim dan Bosnia dari sejumlah wilayah guna membentuk apa nan disebut sebagai Serbia Raya.

ICTY sebelumnya menyatakan kejahatan nan dilakukan dalam bentrok tersebut termasuk "di antara kejahatan paling biadab nan pernah diketahui umat manusia".

Mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad al-Hussein apalagi menyebut Mladic sebagai "wujud kejahatan".

Meski demikian, sejumlah penduduk Serbia hingga sekarang tetap menganggap Mladic sebagai pahlawan. Ia sendiri pernah menggambarkan dirinya sebagai "orang sederhana" nan dipercaya takdir untuk melindungi rakyatnya.

Usia Mladic juga sempat menjadi perdebatan. Ia mengaku lahir pada Maret 1943, sedangkan pengadilan mencatat tahun kelahirannya sebagai 1942. Media lokal Serbia secara luas melaporkan Mladic meninggal bumi pada usia 84 tahun.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan